Ilustrasi - suasana stasiun Bogor sekitar tahun 1927 (Foto: LEIDEN UNIVERSITY LIBRARIES)
Jakarta, Jurnas.com - Suara peluit lokomotif pertama kali memecah kesunyian di bumi Nusantara lebih dari satu setengah abad yang lalu, menandai dimulainya era baru transportasi yang mengubah wajah ekonomi dan sosial di Asia Tenggara.
Sejarah besar ini bermula pada 17 Juni 1864 di Desa Kemijen, Semarang, ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele, melakukan pencangkulan pertama.
Proyek ambisius ini dikerjakan oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) untuk menghubungkan Kemijen hingga Desa Tanggun sepanjang 26 kilometer.
Pembangunan jalur kereta api pada masa itu sebenarnya tidak lahir dari kebutuhan mobilisasi warga pribumi, melainkan murni didorong oleh kepentingan ekonomi kolonial.
Pemerintah Hindia Belanda sangat membutuhkan sarana transportasi yang cepat dan efisien untuk mengangkut hasil bumi dari wilayah pedalaman menuju pelabuhan ekspor.
Komoditas utama seperti gula, kopi, dan tembakau dari wilayah Jawa Tengah serta Deli menjadi alasan utama mengapa rel-rel besi mulai membentang membelah hutan dan perkebunan.
Melihat keberhasilan pihak swasta, Pemerintah Hindia Belanda kemudian turut terjun langsung dengan membentuk Staatsspoorwegen atau Perusahaan Kereta Api Negara pada tahun 1875.
Kehadiran perusahaan negara ini mempercepat ekspansi jalur ke wilayah-wilayah dengan tantangan geografis yang lebih berat.
Pembangunan kemudian merambah ke Jawa Timur melalui jalur Surabaya-Pasuruan-Malang pada tahun 1878, hingga ke wilayah Sumatera untuk kepentingan pengangkutan batu bara di Sawahlunto dan hasil perkebunan di Sumatera Utara serta Lampung.
Namun, di balik kemegahan infrastruktur yang dibangun, tersimpan catatan sejarah yang penuh perjuangan dan pengorbanan.
Pembangunan rel di wilayah berbukit seperti Jawa Barat dan Sumatera Barat mengharuskan para pekerja menembus gunung untuk membuat terowongan dan membangun jembatan tinggi di atas lembah yang curam.
Proses ini melibatkan ribuan tenaga kerja yang bekerja di bawah tekanan berat, baik pada masa kolonial Belanda maupun pada masa pendudukan Jepang yang dikenal dengan sejarah kelam romusha.
Memasuki era kemerdekaan, momentum besar terjadi pada 28 September 1945 ketika para pemuda Indonesia berhasil mengambil alih kantor pusat perkeretaapian di Bandung dari tangan Jepang.
Peristiwa heroik ini menjadi landasan berdirinya Djawatan Kereta Api Republik Indonesia, yang kini telah bertransformasi menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Saat ini, rel-rel bersejarah tersebut tidak hanya sekadar menjadi saksi bisu masa lalu, tetapi terus dikembangkan melalui proyek jalur ganda dan modernisasi teknologi untuk melayani mobilitas masyarakat modern di seluruh penjuru negeri.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kereta Api Bekasi Timur Rel Kereta Hindia Belanda Baron Sloet van de Beele Sejarah Indonesia



















