Sabtu, 25/04/2026 09:29 WIB

Studi: Bendungan Raksasa Rusia-Alaska Bisa Selamatkan Arus Atlantik, tapi..





Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Advances menyebut, penutupan Selat Bering dapat membantu menstabilkan AMOC

Ilustrasi arus laut di Samudera Atlantik (Foto: Doknet)

Jakarta, Jurnas.com - Gagasan membangun bendungan raksasa di Selat Bering yang memisahkan Alaska dan Rusia muncul sebagai solusi ekstrem untuk menyelamatkan sistem arus laut penting dunia. Namun, para ilmuwan memperingatkan langkah ini penuh ketidakpastian dan berpotensi menimbulkan dampak besar bagi lingkungan dan manusia.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Advances menyebut, penutupan Selat Bering dapat membantu menstabilkan Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC), arus laut yang berperan menjaga keseimbangan iklim global, khususnya di Eropa, Afrika, dan Amerika.

Dikutip dari Live Science, AMOC sendiri berfungsi seperti “sabuk konveyor” yang mengalirkan air hangat dari wilayah tropis ke utara, lalu mengembalikan air dingin ke selatan. Sistem ini membuat Eropa memiliki iklim relatif hangat meski berada di lintang tinggi.

Namun, berbagai studi menunjukkan AMOC terus melemah dan berisiko kolaps. Penelitian terbaru memperkirakan pelemahan mencapai 43 hingga 59 persen pada 2100, jauh lebih besar dari prediksi sebelumnya, dengan potensi dampak seperti pendinginan ekstrem di Eropa Utara, kenaikan muka laut, hingga gangguan produksi pangan global.

“Bukti mengarah pada kemungkinan kolaps, tetapi masih sangat tidak pasti,” ujar Jelle Soons dari Utrecht University.

Dalam simulasi yang dilakukan Soons dan rekannya, penutupan Selat Bering—yang memisahkan Samudra Pasifik dan Arktik—dapat memperkuat AMOC dalam kondisi tertentu. Proyek ini membutuhkan tiga bendungan besar yang membentang sepanjang sekitar 82 kilometer.

Namun hasilnya tidak konsisten. Dalam skenario lain, terutama jika AMOC sudah sangat melemah, penutupan tersebut justru dapat mempercepat keruntuhan sistem arus tersebut.

“Ini bukan solusi yang sederhana,” kata Jonathan Baker dari Met Office. Ia menegaskan bahwa efek bendungan sangat bergantung pada kondisi awal dan tingkat emisi karbon dioksida.

Senada, ilmuwan dari National Center for Atmospheric Research, Aixue Hu, menyebut dampak jangka panjangnya masih belum jelas. “Efek keseluruhan tidak konsisten dan sangat bergantung pada kekuatan AMOC serta tingkat CO2,” ujarnya.

Selain ketidakpastian ilmiah, proyek ini juga menyimpan risiko besar. Penutupan Selat Bering dapat mengganggu ekosistem laut, jalur migrasi hewan, industri perikanan, hingga kehidupan masyarakat adat yang bergantung pada wilayah tersebut.

“Memblokir selat akan mengubah pertukaran air, panas, nutrien, dan kehidupan laut antara Samudra Pasifik dan Arktik,” kata Baker. Ia menambahkan, dampak iklim lanjutan dari intervensi sebesar ini juga belum sepenuhnya dipahami.

Secara teknis, bendungan ini dianggap mungkin dibangun, mengacu pada proyek serupa seperti Afsluitdijk di Belanda. Namun, tantangan geografis, arus laut kuat, es laut, serta faktor geopolitik membuat realisasinya jauh lebih kompleks.

Para ilmuwan menegaskan, meski ide ini menarik sebagai geoengineering, solusi paling efektif tetap mengurangi emisi gas rumah kaca. “Menutup Selat Bering mungkin menunda kolaps dalam beberapa kondisi, tetapi tidak menghilangkan risiko utama dari pemanasan global,” tegas Baker.

Dengan kata lain, upaya menyelamatkan sistem iklim global tidak cukup hanya dengan rekayasa besar, tetapi harus dimulai dari pengurangan penyebab utamanya (*)

KEYWORD :

Bendungan Raksasa Bendungan Rusia-Alaska Selat Bering Arus Atlantik Pelemahan AMOC




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :