Senin, 27/04/2026 16:00 WIB

Wacana Bangun Bendungan Raksasa Alaska-Rusia, Ilmuwan Ingatkan Risiko Besar





 Sejumlah ilmuwan mengusulkan ide ambisius untuk membangun bendungan raksasa di Selat Bering, antara Alaska dan Rusia, untuk mencegah runtuhnya sistem arus laut

Ilsutrasi - Pengusulan ide ambisius untuk membangun bendungan raksasa di Selat Bering, antara Alaska dan Rusia, guna mencegah runtuhnya sistem arus laut penting yang dikenal sebagai AMOC (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Sejumlah ilmuwan mengusulkan ide ambisius untuk membangun bendungan raksasa di Selat Bering, antara Alaska dan Rusia, guna mencegah runtuhnya sistem arus laut penting yang dikenal sebagai Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC).

Namun, para ahli memperingatkan bahwa solusi ekstrem ini bisa menimbulkan dampak serius bagi lingkungan dan manusia.

Dalam studi terbaru yang diterbitkan di Science Advances, para peneliti menyebutkan bahwa proyek geoengineering tersebut berpotensi memperlambat keruntuhan AMOC dengan memutus hubungan antara Samudra Pasifik dan Arktik.

AMOC berfungsi mengalirkan air hangat dari daerah tropis ke utara, yang membantu menjaga iklim Eropa tetap relatif hangat. Namun, berbagai penelitian menunjukkan sistem ini semakin melemah dan berisiko kolaps.

Penelitian terbaru memperkirakan perlambatan AMOC bisa mencapai 43% hingga 59% pada tahun 2100, jauh lebih besar dari prediksi sebelumnya. Jika runtuh, dampaknya bisa sangat besar, mulai dari penurunan suhu ekstrem di Eropa Utara hingga kenaikan permukaan laut di Amerika Utara

“Bukti yang ada mengarah pada kemungkinan keruntuhan, tetapi hal itu masih sangat tidak pasti,” kata Jelle Soons, peneliti dari Utrecht University.

Dalam simulasi, para peneliti mengusulkan pembangunan tiga bendungan yang membentang sepanjang sekitar 82 kilometer di Selat Bering. Tujuannya adalah meniru kondisi jutaan tahun lalu saat jalur tersebut tertutup daratan dan AMOC lebih kuat.

Hasilnya menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, penutupan Selat Bering dapat memperkuat AMOC. Namun, dalam skenario lain, terutama jika arus sudah sangat melemah. Langkah ini justru dinilai bisa mempercepat keruntuhan.

“Ini berarti bahwa ini bukanlah solusi yang sederhana,” ujar Jonathan Baker.

Ahli lain, Aixue Hu, juga menegaskan ketidakpastian hasil tersebut.“However, the overall effect is not consistent and highly depends on the AMOC strength and CO2 levels,” katanya.

Selain tantangan teknis, proyek ini berpotensi mengganggu ekosistem laut, jalur pelayaran, industri perikanan, serta kehidupan masyarakat adat yang bergantung pada Selat Bering.

“Menutup selat tersebut akan mengubah pertukaran air, panas, nutrisi, dan kehidupan laut antara Samudra Pasifik dan Samudra Arktik,” ujar Baker.

Para peneliti menegaskan bahwa intervensi sebesar ini harus mempertimbangkan dampak tak terduga yang mungkin muncul.

Meski ide bendungan terdengar revolusioner, para ahli sepakat bahwa solusi paling efektif tetaplah mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Menutup Selat Bering mungkin dapat menunda keruntuhan dalam kondisi tertentu, tetapi tidak menghilangkan risiko mendasar akibat pemanasan yang terus berlanjut,” kata Baker. “Cara paling efektif untuk menurunkan risiko AMOC tetap adalah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca,” dia menambhakan

Dengan kata lain, meskipun teknologi geoengineering menawarkan harapan, upaya utama dalam menyelamatkan sistem iklim global tetap bergantung pada pengendalian perubahan iklim itu sendiri.

 
KEYWORD :

Bendungan Raksasa Bendungan Rusia-Alaska Selat Bering Arus Atlantik Pelemahan AMOC




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :