Ilustrasi parenting orang tua (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Di dunia pengasuhan anak, istilah Eggshell Parenting belakangan ini menyita perhatian para psikolog dan orang tua. Istilah yang dipopulerkan oleh psikolog Dr. Kim Sage ini diambil dari kiasan walking on eggshells atau berjalan di atas cangkang telur.
Kiasan tersebut menggambarkan situasi yang sangat rapuh dan menegangkan, di mana seseorang harus melangkah dengan ekstra hati-hati agar cangkang telur di bawahnya tidak pecah.
Dalam konteks keluarga, Eggshell Parenting merujuk pada pola asuh di mana anak-anak merasa harus selalu berhati-hati dan waspada terhadap emosi orang tua mereka yang tidak tertebak.
Ciri utama dari orang tua yang menerapkan Eggshell Parenting adalah ketidakstabilan emosi. Orang tua jenis ini bisa sangat hangat, penyayang, dan menyenangkan pada satu saat, namun secara tiba-tiba dapat berubah menjadi sangat marah, kritis, atau dingin hanya karena pemicu yang sangat sepele.
Perubahan suasana hati (mood swing) yang drastis dan tidak konsisten ini menciptakan atmosfer rumah yang dipenuhi ketidakpastian. Anak-anak menjadi bingung dan kesulitan memprediksi respons apa yang akan mereka terima dari orang tua saat melakukan sesuatu.
Kondisi tersebut memaksa anak berada dalam mode bertahan hidup (survival mode) secara terus-menerus. Karena takut memicu ledakan emosi orang tua, anak-anak belajar untuk memadamkan perasaan mereka sendiri, terlalu mengamati gerak-gerik orang dewasa, dan menjadi sangat sensitif terhadap perubahan nada suara atau ekspresi wajah.
Mereka merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang tua mereka. Ketakutan akan membuat kesalahan kecil yang dapat berujung pada bentakan atau penolakan membuat anak tumbuh menjadi sosok yang selalu gelisah dan tidak pernah merasa aman di rumahnya sendiri.
Dampak jangka panjang dari Eggshell Parenting bagi kesehatan mental anak sangatlah mendalam. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan ini berisiko tinggi mengalami gangguan kecemasan kronis, kecenderungan people pleasing atau selalu berusaha menyenangkan orang lain demi menghindari konflik, hingga kesulitan mengenali emosi mereka sendiri.
Selain itu, rasa percaya diri mereka kerap hancur karena terbiasa disalahkan atas ketidakstabilan emosi orang dewasa. Ketika dewasa kelak, mereka juga cenderung memiliki masalah dalam membangun hubungan asmara atau sosial yang sehat karena trauma akan ketidakpastian emosional.
Memutus rantai Eggshell Parenting membutuhkan kesadaran diri yang tinggi dari orang tua. Langkah awal yang paling krusial adalah belajar mengenali serta mengelola pemicu emosi diri sendiri (emotional regulation) sebelum merespons anak.
Orang tua perlu menyadari bahwa anak-anak bukanlah tempat pelampiasan stres atau beban hidup orang dewasa. Jika orang tua terlanjur meluapkan emosi secara tidak proporsional, meminta maaf secara jujur kepada anak adalah langkah pemulihan yang sangat penting untuk membangun kembali rasa aman serta kepercayaan mereka.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Eggshell Parenting Tips Parenting Perkembangan Anak



















