Arsip - Drone Israel menyerang sebuah tenda pengungsi di dekat Rumah Sakit Shuhadaa Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza tengah pada Senin (24/8) pagi waktu setempat (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Pasukan Israel membombardir kamp pengungsi Bureij di Gaza Tengah pada Selasa (8/9). Serangan ini dilancarkan tak lama setelah pihak militer menginstruksikan warga setempat untuk mengevakuasi diri dari beberapa kawasan, menurut laporan awal dari penduduk sekitar.
Kepada Arab News, warga mengungkapkan bahwa militer Israel telah merilis perintah evakuasi pada hari yang sama, memperingatkan rencana serangan terhadap sejumlah blok di kamp tersebut. Para penduduk pun mulai meninggalkan Bureij dan bergerak mencari perlindungan menuju wilayah Nuseirat di dekatnya, menurut laporan media lokal dan Arab.
Maysa Yousef, seorang warga Gaza Tengah, mengatakan militer sebelumnya telah memberi peringatan akan mengebom sebuah rumah, meskipun warga tidak mengetahui rumah mana yang sebenarnya menjadi sasaran.
"Tentara Israel mengatakan akan mengebom sebuah rumah—hanya Tuhan yang tahu rumah siapa," kata Yousef sekitar satu jam sebelum suara ledakan terdengar. "Seluruh kawasan Bureij harus dievakuasi hanya karena rencana pengeboman sebuah rumah yang pemiliknya belum disebutkan."
Media lokal melaporkan bahwa rumah milik keluarga Al-Siraj di Blok 7 menjadi sasaran serangan. Namun, Arab News belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Yousef menuturkan bahwa seruan evakuasi disampaikan dari satu lingkungan ke lingkungan lain, sehingga memicu kepanikan luar biasa di antara keluarga-keluarga yang sudah telantar akibat perang.
"Mereka menelepon satu rumah di setiap lingkungan dan menyuruh orang-orang untuk segera mengungsi," ujarnya. "Masyarakat melarikan diri dalam kondisi panik. Mereka akan tetap berada di jalanan sampai perintah evakuasi dicabut."
Evakuasi paksa ini berdampak langsung pada kamp yang penghuninya mayoritas adalah mereka yang tinggal di tenda-tenda darurat, serta para pengungsi dari wilayah lain di Gaza. "Seluruh kamp sedang dievakuasi. Padahal kamp ini isinya tenda dan orang-orang terlantar, termasuk orang sakit, anak-anak, hingga penyandang disabilitas," tegasnya.
Di tempat lain pada Selasa, militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi untuk daerah-daerah di sekitar Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza. Media Palestina melaporkan bahwa serangan udara Israel turut menghantam sebuah rumah di dekat bangsal bersalin kompleks rumah sakit tersebut.
Bagi banyak warga, kata Yousef, instruksi tersebut kembali menghidupkan trauma mendalam akibat pengungsian yang terus berulang.
"Saya lebih baik mati daripada harus dievakuasi," tambahnya pilu. "Hal paling sulit di dunia ini adalah harus meninggalkan semua yang kita miliki dan pergi. Saat kami harus lari menyelamatkan diri sebelumnya, kami bahkan bertelanjang kaki."
Otoritas kesehatan setempat pada Selasa melaporkan bahwa 73.662 warga Palestina tewas dan 174.627 lainnya terluka di Gaza sejak Israel meluncurkan operasi militernya di wilayah tersebut pada 7 Oktober 2023, menyusul serangan yang dipimpin oleh kelompok Hamas.
Melalui saluran Telegram resminya, otoritas terkait mencatat rumah-rumah sakit di seluruh wilayah kantong itu menerima setidaknya empat jenazah dan lima korban luka selama 24 jam terakhir.
Lebih lanjut disebutkan bahwa 1.355 warga Palestina telah tewas dan 4.516 terluka sejak gencatan senjata yang rentan mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Banyak korban diyakini masih terjebak di bawah reruntuhan atau di jalan-jalan yang tidak dapat dijangkau oleh tim ambulans maupun kru pertahanan sipil.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Serangan Israel Kamp Pengungi Gaza Genosida Israel


























