Foto : Gunung Anak Krakatau erupsi (Dok. BNPB)
Jakarta, Jurnas.com - Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah aktivitas erupsinya meningkat dan abu vulkanik terpantau menyebar hingga sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda.
Di balik aktivitasnya, gunung api ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan salah satu letusan paling dahsyat yang pernah terjadi di kawasan tersebut.
Dikutip dari berbagai sumber, Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Pemantauan aktivitasnya dilakukan melalui dua pos pengamatan, yakni Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
Sejarah Anak Krakatau tidak bisa dipisahkan dari Krakatau. Badan Geologi mencatat kawasan Krakatau telah terbentuk sejak 416 SM akibat letusan besar yang menyebabkan tsunami dan pembentukan kaldera.
Letusan terbesar terjadi pada 27 Agustus 1883. Material vulkanik yang dilontarkan mencapai sekitar 18 kilometer kubik, dengan tinggi asap hingga 80 kilometer dan tsunami sekitar 30 meter di sepanjang pantai barat Banten serta pantai selatan Lampung.
7 Cara Melindungi Diri dari Paparan Abu Vulkanik
Bencana tersebut menghancurkan 297 kota kecil dan menyebabkan 36.417 orang meninggal dunia. Ribuan korban lainnya tercatat di Sumatera bagian selatan serta wilayah yang terdampak aliran piroklastik.
Setelah Krakatau relatif tenang selama puluhan tahun, aktivitas vulkanik kembali muncul. Erupsi pada 11 Juni 1930 kemudian dinyatakan sebagai kelahiran Gunung Anak Krakatau.
Sejak itu, Anak Krakatau terus tumbuh akibat aktivitas vulkanik. Kerucutnya pernah mencapai sekitar 300 meter dari permukaan laut dan luas daratannya juga terus bertambah.
Anak Krakatau termasuk gunung api yang sangat aktif. Sejak kelahirannya hingga tahun 2000, gunung ini tercatat telah mengalami lebih dari 100 kali erupsi, baik eksplosif maupun efusif.
Titik letusannya juga dapat berpindah-pindah di sekitar tubuh kerucut. Periode istirahatnya tercatat berkisar antara satu hingga delapan tahun, sementara aktivitas berupa letusan abu dan leleran lava pernah berlangsung secara berkala.
Perubahan besar kembali terjadi pada 22 Desember 2018. Guncangan gempa memicu erupsi dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang kemudian menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda.
Setelah kejadian tersebut, erupsi berskala rendah masih berlangsung hingga 16 Desember 2023 sebagai bagian dari fase pertumbuhan kembali tubuh gunung. Setelah jeda, Anak Krakatau kembali menghasilkan erupsi pada 2 Juli 2026 dan sejak saat itu statusnya berada pada Level III atau Siaga.
Pada 5 September 2026, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Semburan merah menyala terlihat terus-menerus dan fenomenanya menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang menghasilkan aliran lava.
Badan Geologi menyebut erupsi menerus selama beberapa jam yang berkaitan dengan lava fountain merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan dari sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas tersebut.
Dampaknya juga terpantau di atmosfer. Pada 6 September 2026, BMKG mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Abu vulkanik terpantau bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur dan hingga 50.000 kaki ke arah barat. Kondisi ini membuat BMKG menerbitkan 50 SIGMET untuk mendukung keselamatan navigasi udara.
Meski memiliki sejarah letusan besar, Badan Geologi menyatakan tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Namun, aktivitas dan perubahan bentuk gunung tetap dipantau secara intensif.
Saat ini masyarakat dan pengunjung dilarang memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang, hingga meningkatkan kewaspadaan. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Gunung Anak Krakatau Selat Sunda Erupsi Anak Krakatau























