Minggu, 06/09/2026 10:08 WIB

Imbas Konflik Timur Tengah, Kelangkaan Bensin Picu Antrean Panjang di Irak





Pengendara mobil memadati stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Baghdad pada Sabtu, 5 September 2026.

Seorang petugas polisi lalu lintas Irak mengatur antrean di sebuah SPBU di ibu kota Irak, Baghdad. (Foto: AFP)

Jakarta, Jurnas.com - Pengendara mobil memadati stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Baghdad pada Sabtu (5/9/2026), seiring merosotnya pasokan bensin di Irak akibat gangguan impor yang dipicu perluasan konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Kendati berstatus sebagai produsen minyak terbesar kedua di organisasi negara pengekspor minyak (OPEC), Irak masih harus mengimpor produk turunan minyak bumi lantaran kapasitas kilang domestiknya belum mampu memenuhi lonjakan konsumsi dalam negeri.

Dalam beberapa pekan terakhir, seiring berlarut-larutnya eskalasi militer regional, antrean panjang kendaraan kembali mengular setiap beberapa hari sekali, terutama di SPBU milik pemerintah yang tersebar di Baghdad dan provinsi lainnya.

Salah seorang warga Baghdad, Ibrahim Hashem, mengaku sempat mengantre selama dua jam di SPBU pada Jumat tanpa hasil, sebelum akhirnya kembali lagi pada Sabtu pagi demi mengisi bahan bakar kendaraannya.

"Sangat tidak masuk akal jika kita memproduksi jutaan barel minyak per hari, namun tetap kekurangan bensin untuk kebutuhan harian," ujar Hashem kepada AFP di sebuah SPBU di pusat kota Baghdad.

"Kami sudah cukup menderita akibat kemacetan lalu lintas karena keterbatasan infrastruktur jalan. Kini kondisinya semakin parah akibat kelangkaan bensin," tambahnya.

Otoritas setempat mencatat rata-rata konsumsi bensin harian Irak mencapai 33 juta liter. Namun, angka permintaan tersebut melonjak hingga 38 juta liter ketika timbul kepanikan warga (panic buying) akibat isu kelangkaan.

Kementerian Minyak Irak pada Jumat mengonfirmasi bahwa "peristiwa regional dan konflik yang berlangsung telah memicu kendala logistik bagi lalu lintas kapal tanker, sehingga menunda kedatangan pasokan di pelabuhan-pelabuhan Irak."

Pemerintah mengimbau warga untuk membeli bensin sesuai kebutuhan harian dan tidak berbondong-bondong memadati SPBU demi pengisian jumlah kecil.

Menteri Minyak Irak, Bassem Mohammed Khudair, menegaskan bahwa kementeriannya tengah mengatasi masalah "kelangkaan bensin sementara" tersebut dan memastikan pengiriman pasokan baru akan segera tiba untuk menstabilkan distribusi.

Sebagaimana negara produsen minyak lainnya, perekonomian Irak terdampak signifikan oleh konflik Amerika Serikat-Iran yang memblokir jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Irak sangat bergantung pada ekspor minyak mentah yang menyumbang sekitar 90 persen dari total pendapatan anggaran negara.

Sebelum ketegangan militer pecah pada Februari lalu, Irak mampu memproduksi sekitar empat juta barel per hari (bpd) dan mengekspor rata-rata 3,4 juta bpd yang sebagian besar melintasi Selat Hormuz.

Kementerian Minyak Irak mencatat, setelah sempat merosot tajam, volume ekspor minyak mentah Irak berangsur pulih hingga melebihi 2,2 juta bpd pada Agustus lalu.

Bulan lalu, kantor berita resmi Iran (IRNA) melaporkan bahwa dalam kurun enam bulan terakhir, pihak Tehran telah memberikan izin melintas bagi "sejumlah kapal tanker minyak Irak" untuk melewati Selat Hormuz.

KEYWORD :

Konflik Timur Tengah Antrean BBM BBM Irak




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :