KH Abdussalam Shohib, Pengasuh PP Mamba`ul Maarif Denanyar Jombang Jawa Timur (Foto: Ist)
Catatan II KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di PP Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang, telah usai. Keputusan sudah diambil dan ditetapkan dalam pleno-pleno persidangan muktamar. Sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) ditetapkan sebagai mekanisme pergantian kepemimpinan NU. Sistem itu akan berlaku untuk PWNU-PCNU-PCINU hingga Anak Ranting.
Substansi penerapan sistem AHWA dalam pergantian kepemimpinan NU di harapkan bisa untuk meminimalisir intervensi eksternal dan transaksi pragmatis yang selalu menghantui muktamar, konferwil Maupun konfercab. Yang pasti, jalan sudah terbuka, namun harus dibangun kokoh dengan kaderisasi syuriyah yang berkualitas. Sehingga, calon AHWA yang dipersiapkan di berbagai wilayah, cabang hingga ranting, benar-benar ulama jujur, amanah, berintegritas dan kredibel.
Sekarang, amanah jam`iyyah sudah berpindah dari sebelumnya KH Miftachul Akhyar tetap menjadi Rais Aam, dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menggantikan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Umum PBNU Masa Khidmat 2026-2031. Keduanya telah menyampaikan pidato kepemimpinan baru PBNU dihadapan Presiden RI pada sesi penutupan.
Transformasi Pesantren: Bakti NU Kepada Ibu Kandungnya
Profil Lengkap Hadratussyaikh KH Hasyim Asy`ari
Saya menitipkan perjuangan untuk transformasi pesantren sebagai bakti NU terhadap entitas sosial-budaya yang melahirkannya. Fakta konstitusi bahwa NU didirikan oleh ulama pondok pesantren, bukan politisi, akademisi atau pengusaha. Karenanya tidak bisa dipungkiri, akar NU adalah pondok pesantren an-nahdliyyah.
Sebagai akar NU, pesantren menjadi bagian utama dari sistem berjam’iyyah dan berjama’ah yang berfungsi sebagai jangkar, penyerap aspirasi dan penyalur nutrisi ideologis, serta penyimpan cadangan kekuatan jam’iyyah. Pesantren merupakan organ penting yang berperan dalam kelangsungan hidup dan pertumbuhan jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Sejarah Singkat Berdirinya Nahdlatul Ulama
Selama 100 tahun lebih, pesantren yang membesarkan NU. Dari pesantren lahir para muassis, lahir para kiai-masyayikh, lahir para pengurus, dan lahir santri-santri yang akan melanjutkan perjuangan NU. Sekarang saatnya NU membalas. Bukan dengan seremonial dan formalitas semata, tapi dengan kebijakan nyata.
Penguatan kurikulum, kemandirian ekonomi pesantren, digitalisasi, perlindungan kader agar maju dan menjadikan pesantren yang ramah bagi masa depan generasi bangsa, semuanya menjadi agenda kebijakan bagi jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Jika pesantren kuat, maka NU akan kuat. Kesejahteraan umat bisa diwujudkan melalui fungsi dan peran pesantren.
Rekonsolidasi Fikrah, Amaliyah, Harakah
Rekonsolidasi NU, baik fikrah, amaliyah maupun harakahnya, harus menjadi prioritas. Kenapa? Karena kondisi PBNU lima tahun terakhir dan sebelumnya harus dijadikan pelajaran untuk perbaikan PBNU ke depan. Kita tidak boleh mengulang luka yang sama. Polarisasi, saling curiga, dan ego sektoral hanya akan melemahkan NU.
Rekonsolidasi fikrah dengan mengembalikan ideologi Aswaja sebagai dasar sikap dan kebijakan. Rekonsolidasi amaliyah dengan membangkitkan kembali tradisi-budaya, inisiatif dan kreatifitas warga NU di akar rumput dalam kesatuan gerakan sosial. Rekonsolidasi harakah dengan menyamakan gerak perjuangan dari PBNU sampai Anak Ranting.
KH Bishri Syansuri pada Muktamar NU 1979 di Semarang dawuh dalam khutbah iftitah berkata, “NU Harus Kembali Menjadi Sebuah Harakah. Agar efektif, Tekankan Pembentukan & Penguatan Shibghah (Karakter). Karakter Kuat Hanya Bisa Ditumbuhkan & Berpijak Pada Khittah (Garis Perjuangan) NU”.
Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari dalam mukadimah Qonun Asasi li Nahdlatul Ulama menegaskan faktor terkuat untuk menegakkan martabat dan kedaulatan jam’iyyah adalah “mereka bersatu dalam cita- cita, seia-sekata, searah setujuan, dan pikiran-pikiran mereka seiring”.
Tata Kelola Yang Humanis dan Terbuka
Saya berharap dalam kepemimpinan Gus Kikin, kebijakan dan tata kelola jam’iyyah lebih humanis. Mengedepankan pendekatan persuasif kepada struktur PWNU-PCNU hingga Anak Ranting NU. Turun, mendengar, dan tidak semata menggurui tentang kebaikan berjam’iyyah.
Kepengurusan PBNU juga harus mau mendengar kritik-kritik yang konstruktif. Kritik bukan musuh, sebaliknya cermin agar kita tidak salah jalan. Dan satu hal penting bagi saya; rekrutmen pengurus PBNU baru agar berdasarkan integritas, kredibilitas, dan kompetensi.
Bukan karena kedekatan, bukan karena balas budi politik semata. Tapi karena yang bersangkutan memang pantas berkhidmah untuk NU. Karena, membangkitkan kembali kepribadian dan karakter NU sebagai jam’iyyah diiniyyah ijtima’iyyah di awal abad kedua, memerlukan kesatuan nan serempak.
Terima Kasih dan Apresiasi
Di akhir catatan II ini, saya mengucapkan terima kasih kepada peserta muktamar ke-35 NU, baik dari kalangan struktural maupun kultural NU, dari Sabang hingga Merauke, bahkan ujung benua Asia dan Amerika. Terima kasih atas demokrasi yang berjalan dengan damai.
Secara khusus, terima kasih kepada masyayikh NU-pesantren yang telah membimbing, mendoakan, dan merestui ikhtiar semua pihak selama proses bermuktamar. Tanpa dawuh dan restu beliau, khidmah berjam’iyyah terasa hambar. Terutama, saya sendiri yang diamanahi dan diperintah untuk berikhtiar.
Saya juga mengucapkan selamat dan terimakasih kepada Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang atas sukses penyelenggaraan muktamar yang dipersiapkan dalam waktu yang sangat terbatas. Ini bukti bahwa kalau niatnya untuk NU, Allah akan mudahkan.
Muktamar selesai. Tapi kerja NU di awal abad kedua baru dimulai. Semoga di bawah kepemimpinan Gus Kikin, kita bisa mewujudkan Transformasi Pesantren dan Rekonsolidasi Total.
Agar NU benar-benar kembali ke ruh Mukadimah Qanun Asasi, ruh pesantren dan kembali menjadi jam’iyyah yang mengayomi, serta kembali menjadi rumah yang paling teduh dan nyaman serta membahagiakan untuk umat.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Muktamar PBNU Nahdlatul Ulama Abdussalam Shohib Gus Salam





















