Ilustrasi Bendera AS dan Iran (Foto: Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - China menyerukan penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran melalui dialog, bukan tekanan militer. Beijing menilai negosiasi menjadi satu-satunya jalan untuk meredakan ketegangan yang terus mengganggu keamanan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri China Wang Yi saat bertemu Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani di Beijing, Selasa (8/9).
Dalam pertemuan itu, keduanya membahas situasi di Timur Tengah dan kawasan Teluk yang menurut Wang telah memberikan dampak serius terhadap keamanan regional. Ketegangan juga terus mengganggu stabilitas energi, pelayaran, dan rantai pasok.
Tekanan militer bukanlah solusi, kata Wang dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri China dikutip dari Anadolu, Rabu (9/9).
Wang menegaskan dialog dan negosiasi merupakan satu-satunya jalan ke depan untuk menyelesaikan konflik. Menurutnya, kedaulatan dan keamanan seluruh negara di kawasan harus dihormati sepenuhnya.
China juga meminta agar kepentingan sah semua pihak dapat ditangani secara tepat. Pada saat yang sama, prinsip dasar hukum internasional dan norma hubungan antarnegara harus tetap dijunjung.
Beijing menyatakan siap memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan Qatar serta negara-negara lain di kawasan.
China juga mengatakan akan mendukung negara-negara di Timur Tengah dalam menentukan masa depan mereka sendiri serta berupaya membantu memulihkan perdamaian dan stabilitas kawasan.
Pernyataan Wang muncul ketika ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat. AS dan Iran masih terlibat dalam saling serang militer, sementara jalur perundingan kedua negara mengalami kebuntuan.
Salah satu persoalan yang belum terselesaikan berkaitan dengan pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut merupakan salah satu rute penting bagi distribusi energi dan komoditas dunia.
Menurut Tehran, perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari telah menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran kemudian merespons dengan serangan yang menyasar aset-aset AS di berbagai wilayah kawasan.
Sebelumnya, Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian operasi militer serta pengaturan untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran.
Namun, pelaksanaan kesepakatan kemudian terhenti. Perbedaan mengenai komitmen masing-masing pihak dan aturan pelayaran di Selat Hormuz membuat proses tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Permusuhan akhirnya kembali pecah pada Juli. (*)Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Menteri Luar Negeri China Wang Yi AS Iran Penyelesaian Konflik


























