Langit pada 12 Agustus 2026 akan menghadirkan dua fenomena astronomi sekaligus yang jarang terjadi, yakni gerhana Matahari total dan puncak hujan meteor Perseid (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Tanggal 12 Agustus 2026 diprediksi menjadi salah satu momen astronomi paling menarik tahun ini. Pada hari yang sama, gerhana Matahari total akan melintasi sejumlah wilayah di Eropa, sementara hujan meteor Perseid mencapai puncaknya di bawah langit tanpa cahaya Bulan.
Kombinasi dua fenomena langit tersebut memberikan kondisi yang sangat ideal bagi para pengamat langit. Gerhana Matahari total hanya dapat terjadi saat fase Bulan Baru, sehingga malam setelahnya menjadi sangat gelap dan mendukung pengamatan hujan meteor.
Dikutip dari Earth, gerhana Matahari total pada 12 Agustus akan dimulai dari wilayah utara Siberia, kemudian melintasi Samudra Arktik, Selat Denmark di antara Greenland dan Islandia, sebelum bergerak menuju Islandia bagian barat dan berakhir di Spanyol utara.
Durasi gerhana total berbeda di setiap lokasi. Di dekat Kutub Utara, fase total berlangsung sekitar 1 menit 54 detik, sedangkan di pesisir Greenland mencapai 2 menit 6 detik.
Durasi terlama, sekitar 2 menit 18 detik, terjadi di atas Selat Denmark. Di Reykjavik, Islandia, gerhana sebagian dimulai pukul 16.47 waktu setempat, sedangkan fase total berlangsung sekitar pukul 17.48 hingga 17.49.
Spanyol menjadi salah satu lokasi paling dinantikan karena akan mengalami gerhana Matahari total pertama sejak 30 Agustus 1905.
Fenomena tersebut akan terlihat saat Matahari mulai rendah di ufuk barat sehingga menciptakan pemandangan dramatis dengan langit senja mengelilingi piringan Bulan yang menutupi Matahari.
Di Leon, gerhana total dimulai sekitar pukul 20.28 waktu setempat, disusul Zaragoza pada 20.29 dan Valencia sekitar 20.32.
Pengamat yang berada tepat di jalur tengah gerhana dapat menikmati fase total hingga sekitar 1 menit 50 detik, sedangkan di tepi jalur durasinya jauh lebih singkat.
Pada malam yang sama, hujan meteor Perseid juga mencapai puncak aktivitasnya. Perseid aktif sejak 17 Juli hingga 24 Agustus dan diperkirakan mencapai puncak pada malam 12 menuju 13 Agustus.
Hujan meteor ini berasal dari sisa material yang ditinggalkan komet 109P/Swift-Tuttle saat mengorbit Matahari.
Material tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 59 kilometer per detik, menghasilkan meteor-meteor terang yang kerap meninggalkan jejak cahaya beberapa saat setelah melintas.
Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, puncak Perseid tahun ini bertepatan dengan fase Bulan Baru sehingga langit akan benar-benar gelap.
Kondisi tersebut dinilai sebagai salah satu waktu terbaik dalam beberapa tahun terakhir untuk menikmati Perseid.
Dalam kondisi langit pedesaan yang minim polusi cahaya, pengamat diperkirakan dapat melihat sekitar 30 hingga 50 meteor per jam, bahkan bisa mencapai 100 meteor per jam di lokasi yang sangat gelap.
Puncak aktivitas diperkirakan terjadi pada 13 Agustus pukul 14.53 UTC, sehingga waktu terbaik untuk mengamati meteor adalah mulai tengah malam hingga menjelang fajar.
Bagi pemburu fenomena langit, wilayah utara Spanyol menjadi lokasi yang paling menarik. Setelah gerhana Matahari total berakhir sekitar pukul 20.30 waktu setempat dan Matahari terbenam, langit akan berubah gelap sehingga pengamatan Perseid dapat langsung dilanjutkan pada malam harinya.
Sementara itu, Islandia memang berada di jalur gerhana total, tetapi langit pertengahan Agustus di negara tersebut tidak pernah benar-benar gelap karena masih mengalami senja yang panjang. Kondisi ini membuat meteor yang redup lebih sulit diamati.
Pengamat diingatkan untuk selalu menggunakan kacamata gerhana bersertifikat ISO 12312-2 selama fase gerhana sebagian. Kacamata hitam biasa tidak cukup aman untuk melihat Matahari secara langsung.
Mata telanjang hanya boleh digunakan ketika fase gerhana total berlangsung, yaitu saat piringan Matahari tertutup sepenuhnya oleh Bulan. Begitu cahaya Matahari mulai muncul kembali, pelindung mata harus segera digunakan lagi.
Sementara untuk menikmati hujan meteor Perseid, tidak diperlukan teleskop maupun teropong. Pengamatan cukup dilakukan dengan mata telanjang dari lokasi yang gelap, jauh dari lampu kota, serta memberi waktu sekitar 30 menit agar mata beradaptasi dengan kondisi gelap.
Selain dua fenomena tersebut, astronom juga masih menantikan kemungkinan munculnya T Coronae Borealis atau Blaze Star, bintang nova berulang yang diperkirakan dapat meledak menjadi cukup terang untuk dilihat tanpa alat bantu. Namun hingga kini, waktu kemunculannya masih belum dapat dipastikan. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Fenomena Langit Agustus 2026 Gerhana Matahari Hujan Meteor Perseid

























