Samudera Atlantik
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru mengungkap arus laut utama di Samudra Atlantik, Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC), diperkirakan akan melemah jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Sistem arus ini berperan penting menjaga stabilitas iklim global dengan mengalirkan air hangat ke utara dan air dingin ke selatan.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Advances memperkirakan AMOC akan melemah antara 43 hingga 59 persen pada tahun 2100. Angka ini sekitar 60 persen lebih besar dibandingkan prediksi model sebelumnya, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko “titik balik” iklim yang tidak dapat dipulihkan.
Dikutip dari Live Science, para peneliti menyebut pelemahan ini menunjukkan sistem iklim penting berada lebih dekat ke kondisi kritis. Jika titik tersebut terlewati, perubahan yang terjadi bisa bersifat permanen dan berdampak luas pada berbagai wilayah dunia.
Pria Ini Nekat Sebrangi Atlantik dengan Tong
Namun demikian, sejumlah ahli mengingatkan bahwa hasil studi masih perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. María Paz Chidichimo menilai proyeksi pelemahan AMOC masih bervariasi antar model.
“Studi-studi memprediksi penurunan AMOC dalam rentang dari penurunan kecil hingga besar, namun saya menilai besaran dan waktu terjadinya penurunan AMOC masih belum pasti,” ujar María Paz Chidichimo.
Pandangan serupa disampaikan Laura Jackson dari Met Office Inggris yang menyebut belum ada kepastian model mana yang paling akurat dalam memproyeksikan masa depan AMOC.
Meski demikian, dampak jika AMOC melemah drastis atau runtuh dinilai sangat besar. Suhu di Eropa utara bisa turun tajam, sementara Eropa selatan berisiko mengalami kekeringan ekstrem, disertai kenaikan permukaan laut di pesisir timur Amerika Utara.
Gangguan juga diperkirakan meluas ke sistem pangan global. Lahan pertanian untuk komoditas utama seperti gandum dan jagung berpotensi berkurang lebih dari setengah, mengingat keduanya menyumbang sekitar 40 persen kebutuhan kalori dunia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan baru dengan memasukkan data suhu dan salinitas permukaan laut untuk meningkatkan akurasi model. Metode statistik yang digunakan juga mampu mengurangi kesalahan prediksi hingga 79 persen dibandingkan model konvensional.
Menurut David Thornalley dari University College London, hasil studi ini patut menjadi perhatian serius. “Pelemahan yang diproyeksikan lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya jelas mengkhawatirkan,” katanya.
Sementara itu, Stefan Rahmstorf menilai kondisi AMOC saat ini menunjukkan kecenderungan menuju pelemahan total. “AMOC yang diprediksi begitu lemah sehingga sangat mungkin sedang menuju penutupan total,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian tersebut, para ahli menekankan pentingnya kesiapsiagaan global. Dampak perubahan AMOC sudah mulai dirasakan melalui perubahan lingkungan dan ekonomi di berbagai wilayah.
“Kita memiliki cukup bukti ilmiah… Negara-negara perlu bersiap sekarang,” ujar María Paz Chidichimo.
Studi ini menegaskan bahwa perubahan pada sistem arus laut Atlantik bukan lagi sekadar proyeksi jangka panjang. Dengan risiko yang semakin nyata, kesiapan menghadapi dampak iklim menjadi agenda mendesak bagi negara-negara di dunia. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Arus Laut Samudra Atlantik Pelemahan AMOC Sistem Iklim





















