Jum'at, 19/04/2019 19:32 WIB

Usulan Mendikbud Masih Sulit Teralisasikan

Menurut Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Prof. Ismunandar, alasannya karena jumlah lulusan SMA dan ketersediaan kursi di perguruan tinggi negeri belum imbang.

Website Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)

Jakarta, Jurnas.com – Usulan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy agar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur undangan tidak berdasarkan akreditasi sekolah, masih sulit terealisasikan.

Menurut Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Prof. Ismunandar, alasannya karena jumlah lulusan SMA dan ketersediaan kursi di perguruan tinggi negeri belum imbang.

“Kalau mau hapus itu, harus sudah punya kursi perguruan tinggi negeri yang sama dengan jumlah lulusan SMA. Sekarang masih belum,” terang Ismunandar kepada Jurnas.com pada Senin (4/2).

Apalagi tahun ini, lanjut Dirjen Belmawa, proses SNMPTN sedang berjalan, sehingga tidak mungkin skemanya diubah di tengah jalan.

Sebelumnya, Mendikbud mengusulkan agar sistem kuota berdasarkan akreditasi sekolah dalam SNMPTN dihapus. Skema tersebut menurut dia membatasi peluang siswa yang ingin masuk dalam perguruan tinggi negeri tertentu, hanya karena persoalan akreditasi sekolahnya.

Menanggapi hal ini, Ismunandar menyebut pihaknya tetap berupaya memperluas peluang bagi lulusan SMA untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.

Namun dia menggarisbawahi perluasan akses tersebut akan diarahkan pada perkuliahan daring (online), sehingga mahasiswa dan dosen tidak harus melakukan tatap muka.

“Langkahnya kan mulai dari beberapa mata kuliah dulu. Kalau sudah siap lalu full online. Kalau ke depan lagi beberapa prodi sudah siap, maka akan jadi universitas online seperti misalnya UT (Universitas Terbuka, Red),” jelas dia.

TAGS : SNMPTN Jalur Undangan Dirjen Belmawa




TERPOPULER :