Minggu, 18/11/2018 17:59 WIB

Psikolog: Pasien Kanker Payudara Butuh Empati

Menurut Cindy, empati berbeda dengan rasa kasihan. Jika mengasihani yakni melihat objek dari luar, maka empati berarti menyelam ke dalam kehidupan objek.

Ilustrasi (Foto: Cloud Front)

Jakarta – Dukungan kerabat dan keluarga bagi penderita kanker payudara (breast cancer) merupakan hal yang sangat penting. Alasannya, menurut psikolog dari London School of Public Relation (LSPR), Cindy Dwi Utami, para penyintas kanker payudara membutuhkan empati sebagai salah satu sandaran hidup mereka.

Namun untuk menunjukkan rasa empati, kata Cindy, bukan dengan menampilkan mimik prihatin. Menurut Cindy, empati berbeda dengan rasa kasihan. Jika mengasihani yakni melihat objek dari luar, maka empati berarti menyelam ke dalam kehidupan objek.

“Kita harus bisa memahami konteks kehidupannya seperti apa. Kita harus mendengarkan ceritanya, pengalamannya, apa yang dirasakan, kemudian nilai-nilainya, dan memahami latar belakang budayanya,” kata Cindy kepada Jurnas.com pada Minggu (26/8) di sela-sela Pelatihan Relawan Pendamping Pasien Kanker Payudara Angkatan IV Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), di LSPR Jakarta.

Selain itu, empati dapat ditunjukkan dengan tidak melakukan justifikasi kepada pasien kanker payudara. Apapun yang diekspresikan oleh para penderita kanker, merupakan apa yang mereka rasakan secara nyata (real).

“Kita memvalidasi apapun perasaan yang mereka laporkan, karena itulah yang mereka rasakan,” ujar Cindy.

Dalam kesempatan lainnya, Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan, keahlian psikologi dan komunikasi dibutuhkan oleh seorang pendamping pasien kanker payudara. Pasalnya, kedua hal itu berguna untuk menguatkan pasien, di samping ikhtiar kesehatan melalui pengobatan medis.

Dia mencontohkan, saat terkena kanker payudara pada 1996 lalu, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) itu merasa tertekan akibat kalimat-kalimat bernada memojokkan dari sejumlah pihak.

“Saya mendapatkan tekanan yang luar biasa, dari banyak orang, karena psikologi dan komunikasi tidak dipahami. Sehingga setelah bertemu dengan mereka, bukannya tambah kuat, tapi justru memojokkan kita, perasaan dan emosi kita,” tutur Linda.

Diketahui, Pelatihan Relawan Pendamping Pasien Kanker Payudara merupakan agenda tahunan YKPI. Tahun ini, kegiatan tersebut diikuti oleh 51 orang, yang terdiri dari dokter, perawat, akademisi, bidan, dan survivor dari berbagai daerah di Indonesia.

TAGS : Kanker Payudara Psikologi




TERPOPULER :