News

Menkes Sebut Kasus ISPA Akibat Karhutla Mulai Turun

Penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tujuh provinsi mulai mengalami penurunan.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Dok. Kemenkes)

Jakarta, Jurnas.com - Jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tujuh provinsi mulai mengalami penurunan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut turunnya hujan di sejumlah wilayah terdampak turut membantu mengurangi kasus gangguan pernapasan tersebut.

Budi mengatakan, penurunan terlihat dari angka kasus harian yang sebelumnya sempat menyentuh 15.000 orang. Bahkan, sebelum hujan turun, jumlah penderita masih berada di kisaran 3.000 orang per hari.

Namun, setelah hujan mengguyur sejumlah daerah, angka tersebut berangsur turun menjadi sekitar 1.500 hingga 2.000 kasus per hari.

“Kita lihat yang per harinya. Per harinya, puncaknya tuh sempat di 15.000-an. Kemarin sebelum hujan, itu ke 3.000-an per hari. Sekarang angka yang saya lihat karena sudah hujan, itu turun ke sekitar 1.500 sampai 2.000-an,” kata Budi kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (30/10).

Menurut Budi, perbaikan kondisi tersebut terpantau di tujuh provinsi yang terdampak karhutla, mulai dari Jambi hingga Kalimantan Tengah.

Tidak hanya kasus harian yang menurun, jumlah kabupaten/kota dengan tingkat penderita ISPA tinggi juga mulai berkurang. Dia menjelaskan, sebelumnya dari 81 kabupaten/kota yang dipantau, sekitar 50 daerah masuk kategori hitam atau mencatat lebih dari 300 kasus.

Kini, jumlah daerah yang masuk kategori tersebut telah menyusut menjadi belasan kabupaten/kota.

“Sebelumnya dari 81 kabupaten kota, itu 50-an hitam. Hitam tuh di atas 300 ya. Waktu saya datang ke sana, itu masih sekitar 20, 30-an. Sekarang sudah turun ke angka belasan,” ujarnya.

Meski menunjukkan perkembangan positif, Budi berharap curah hujan di wilayah terdampak tetap terjaga hingga kebakaran benar-benar padam. Sebab, penurunan kasus ISPA sangat berkaitan dengan membaiknya kualitas udara setelah asap karhutla mulai berkurang.

Dia mengingatkan, pemadaman kebakaran di kawasan gambut membutuhkan penanganan khusus. Api yang berada di lapisan dalam gambut tidak cukup dipadamkan hanya dengan menyiram atau membasahi permukaan tanah.

Diperlukan pasokan air yang mampu meresap hingga ke bagian dalam gambut agar titik api tidak kembali menyala.

“Ya mudah-mudahan doain agar ini hujan terus, karena dengan hujan kita bisa menghilangkan kebakaran karena itu kan ada di dalam gambut ya. Jadi perlu memang airnya tuh masuk sampai ke dalam. Udah doain, mudah-mudahan bisa selesai,” pungkasnya.