https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Penyebab Angka Kebutaan Tertinggi di Indonesia

Eka Wahyu Pramita | Selasa, 08/10/2019 17:16 WIB



Gangguan penglihatan bisa menyerang semua umur termasuk bayi dan balita karena mereka merupakan salah satu kelompok berisiko. Ilustrasi mata (foto: Google)

Jakarta, Jurnas.com - Hasil Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014 – 2016 oleh Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di lima belas provinsi mencapai 3 persen dan katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi (81 persen).

Survey tersebut dilakukan dengan sasaran populasi usia 50 tahun ke atas.
“Saat ini kurang lebih 90 persen ganggguan penglihatan terdapat di wilayah penduduk berpenghasilan rendah, 82 persen kebutan terjadi pada usia 50 tahun atau lebih. Sebenarnya 80 persen gangguan penglihatan termasuk kebutaan dapat dicegah dan ditangani,” kata Ketua PP Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dr. M. Siddik, Sp. M.

Diperkirakan pengeluaran rata-rata per pasien yang mengalami kebutaan adalah hampir dua kali lipat dari biaya lainnya dan untuk buta dengan dua mata diperkirakan akan mengeluarkan biaya berkisar 12.175 -14.029 US $ atau sekitar 170 juta sampai dengan 196 juta rupiah. Belum lagi ditambah dengan biaya tidak langsung yang cukup besar karena kerugian produktivitas.

Baca juga :
Ini Faktor Pemicu Gangguan Penglihatan

Jika dibiarkan rawan terjadi tsunami katarak. Dr. Siddik menjelaskan, tsunami katarak maksudnya adalah bahwa dengan bertambahnya Usia Harapan Hidup (UHH) diperkirakan pada tahun 2030 itu semua pendudk di atas usia 50 tahun akan banyak, sekitar 25 persen.

“Itu usia dimana seseorang rawan menderita katarak. Jadi jumlah penderita katarak pasti bertambah banyak,” ucapnya.

Tren umur harapan hidup Indonesia terus meningkat secara siginifikan. Rata-rata UHH meningkat dari usia 63 tahun pada 1990 mejadi 69 tahun pada tahun 2017. Ini artinya peningkatan usia harapan hidup akan berdampak pada peningkatan penyakit-penyakit degeneratif.

Dampaknya akan terjadi peningkatan kasus katarak, dan gangguan penglihatan lainnya yang diakibatkan oleh penyakit degeneratif seperti Diabetes Melitus dan Glaukoma.

Gangguan penglihatan bisa menyerang semua umur termasuk bayi dan balita. Mereka merupakan salah satu kelompok berisiko terhadap gangguan penglihatan, karena ini perlu meningkatkan kepedulian terhadap ancaman gangguan penglihatan terutama kebutaan yang dapat dicegah. Skrining dan deteksi dini kunci utama menemukan kasus sedini mungkin dengan intervensi yang tepat.

Selain itu, keberadaan gawai diasumsikan menambah penderita myopia mata minus. Hal tersebut diakibatkan karena jarak penglihatan ke gawai terlalu dekat dan terus-menerus. Dampaknya kesehatan mata berkurang.

Hal serupa juga rawan terjadi pada seseorang yang bekerja di depan computer. Dr. Siddik menganjurkan dalam menggunakan komputer gunakan rumus 20 20 20, artinya 20 menit bekerja, 20 menit istirahat sambil melihat benda dengan jarak 20 feet.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Anung Sugihantono mengatakan gangguan penglihatan dengan penyebab lainnya seperti Glaukoma, retinopati Diabetikum, Retinopathy of Prematurity (ROP) dan low vision menjadi prioritas program Kemenkes saat ini. Glaukoma dan retinopati diabetikum dijadikan prioritas mengingat meningkatnya angka penyandang diabetes.

Diperkirakan 1 dari 3 penderita diabetes berisiko terkena Retinopati Diabetikum, dan pasien dengan diabetes memiliki risiko 25 kali lebih mudah mengalami kebutaan akibat retinopati. Penyakit – penyakit tidak menular merupakan salah satu faktor risiko gangguan penglihatan dan kebutaan.

“Pemerintah terus melakukan edukasi kepada masyarakat terhadap pencegahan gangguan penglihatan (katarak), juga deteksi dini di Fasyankes (Fasilitas Layanan Kesehatan) primer terintegrasi dengan penyakit tidak menular lainnya,” kata Dirjen Anung.

 

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Gangguan Penglihatan Penyakit Mata

Terkini | Jum'at, 17/07/2026 18:43 WIB

Humanika

Timbangan Amal Auto Penuh, Ini 7 Kebiasaan Kecil yang Berpahala Besar

Gaya Hidup

Studi Ungkap Alasan Wanita Terlihat Lebih Jago Multitasking daripada Pria

News

Legislator NasDem Sebut KemenP2MI Sigap Tangani Aduan Pekerja Migran

News

China-Pakistan Serukan Iran dan AS untuk Menghentikan Permusuhan

News

Korupsi Febrie Adriansyah, Polisi Serahkan Tersangka dan Barbuk ke Kejagung

News

Berantas Rokok Ilegal Lebih Efektif Ketimbang Tambah Beban Pajak

News

Kejagung Periksa Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Sebagai Tersangka

News

Trump Kesal Dikritik Netanyahu Soal Penjualan F-35 ke Turkiye

Humanika

Ini 6 Amalan yang Bisa Menerangi Gelapnya Alam Kubur Kamu Kelak

News

Puji Sistem Digital Inkop TKBM, Wamenaker Ingatkan Pentingnya Prioritas K3

News

Komisi IX Apresiasi Kinerja KemenP2MI, Dorong Penguatan Pemberantasan TPPO

News

Legislator PKB Desak Pertamina Segera Normalisasi Distribusi BBM di Sumut

News

DPR Soroti Selisih Harga BBM yang Picu Penyalahgunaan Subsidi

News

Baleg DPR Dorong RUU Masyarakat Adat Beri Kepastian Hukum Berkeadilan

News

KPK Cecar Anggota BPK Bobby Terkait Pengaturan Audit Muara Enim

News

KPK Selesaikan Laporan Amplop Raja Juli, Penyidikan Kasus Tetap Jalan

Gaya Hidup

Bahaya Asap Kebakaran Hutan, Bisa Rusak Paru-paru, Jantung hingga Otak

Olahraga

Ternyata Ini Alasan Ada Perebutan Peringkat Tiga Piala Dunia

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777