Wakil Presiden Filipina Sara Duterte menghadiri penyelidikan legislatif atas penggunaan dana publik oleh kantornya, di DPR, di Quezon City, Filipina, 25 November 2024. REUTERS
Manila, Jurnas.com - Pengadilan Filipina mengabulkan permohonan jaksa penuntut untuk menggugurkan dua dakwaan terhadap Wakil Presiden Sara Duterte, termasuk tuduhan terkait dugaan ancaman pembunuhan terhadap Presiden Ferdinand Marcos, pada Selasa (13/10).
Langkah tersebut kini menyisakan tuduhan perolehan kekayaan yang tidak dapat dijelaskan, sebagai satu-satunya dakwaan yang tersisa terhadap sang wakil presiden.
Pada pekan lalu, tim jaksa penuntut telah meminta agar dakwaan penyuapan dihapus dari berkas perkara. Kemudian pada Selasa ini, jaksa kembali mengajukan permohonan agar tuduhan penyalahgunaan dana, serta ancaman pembunuhan terhadap Presiden Ferdinand Marcos turut dieliminasi.
Senator sekaligus pemimpin persidangan Francis Escudero secara resmi menyetujui mosi pencabutan tersebut.
"Pasal 1, 3, dan 4 tidak lagi menjadi bagian dari Pasal-Pasal Pemakzulan ... dan tidak akan diserahkan kepada para anggota pengadilan untuk pemungutan suara atau untuk vonis hukuman maupun pembebasan," kata Escudero dikutip dari CNA.
Keputusan mengejutkan dari jaksa penuntut pada hari ke-39 persidangan ini diambil setelah mereka menyajikan bukti-bukti selama berminggu-minggu, untuk mendukung dakwaan yang kini resmi dibatalkan tersebut.
Ketua jaksa penuntut Gerville Luistro menyampaikan kepada majelis bahwa keputusan tersebut akan mempermudah tugas pengadilan, sekaligus mempercepat penyelesaian proses persidangan yang telah bergulir sejak 6 Juli.
"Pihak penuntut meyakini telah menyajikan bukti yang cukup bagi Pasal 2 untuk berdiri sendiri," ujar Luistro merujuk pada tuduhan bahwa Duterte tidak melaporkan seluruh aset kekayaannya sebagaimana diwajibkan oleh undang-undang setiap tahun bagi pejabat pemerintah.
"Kami mengerahkan seluruh upaya di sini. Kami meyakini bahwa bukti yang ada sangat substansial serta meyakinkan dan membenarkan pencopotan termohon dari jabatannya," dia menambahkan.
Sebaliknya, ketua tim pengacara pembela Sheila Sison mengecam keputusan tersebut dan menyebutnya tidak adil. Sison menyoroti bahwa pihak jaksa penuntut sebelumnya telah menghadirkan sebanyak 14 saksi ke persidangan guna membeberkan bukti-bukti terhadap Duterte.
Sara Duterte, yang merupakan putri dari mantan presiden Rodrigo Duterte, telah menjalani proses peradilan pemakzulan di hadapan Senat Filipina selama berbulan-bulan.
Vonis bersalah atas salah satu dari empat dakwaan awal membawa konsekuensi hukuman berupa larangan permanen untuk memegang jabatan publik hasil pemilihan.
Mengingat pengadilan masih menimbang dakwaan terakhir terkait kepemilikan aset, Duterte masih berpotensi dijatuhi larangan jabatan yang dapat menghentikan langkahnya mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028 jika dinyatakan bersalah.
Bulan lalu, Senat yang beranggotakan 24 kursi menyetujui penurunan ambang batas perolehan suara yang dibutuhkan untuk menyatakan Duterte bersalah, yang dinilai kian mempermudah upaya pencopotan dirinya.
Dengan absennya setidaknya empat senator loyalis sang wakil presiden sebab dua berada di penjara, satu bersembunyi, dan satu menjalani cuti medis jangka panjang di luar negeri, kini hanya diperlukan 14 suara untuk menjatuhkan vonis bersalah.
Selasa, 13/10/2026 16:48 WIB
Selasa, 13/10/2026 16:29 WIB
Selasa, 13/10/2026 16:21 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB
Selasa, 13/10/2026 14:15 WIB