Kelompok Houthi (Foto: Middleeast)
Jakarta, Jurnas.com - Kelompok milisi Houthi di Yaman telah menjelma menjadi salah satu kekuatan bersenjata paling berpengaruh di Timur Tengah dalam satu dekade terakhir.
Kelompok yang secara resmi menyebut diri mereka sebagai Ansar Allah atau Penolong Allah ini kerap menjadi sorotan dunia internasional, terutama setelah serangkaian eskalasi konflik di Laut Merah dan keterlibatan mereka dalam krisis geopolitik regional.
Sebelumnya bahwa pada Sabtu (10/10) lalu, Houthi melancarkan serangan ke Bandara Saudi di Riyadh yang menewaskan 12 orang. Kemudian pada Minggi Houthi kembali melancarkan serangan ke bandara King Khalid yang menewaskan satu orang dan 11 orang lainnya luka-luka.
Namun, kekuatan militer yang mereka miliki saat ini merupakan hasil dari transformasi panjang yang berakar dari gerakan kultural dan keagamaan di wilayah utara Yaman.
Dihimpun dari berbagai sumber, sejarah Houthi bermula pada awal 1980-an di Provinsi Saada, wilayah pegunungan di utara Yaman.
Gerakan ini pada awalnya bernama Forum Pemuda Beriman (Al-Shabab Al-Muminin), sebuah kelompok kebangkitan teologis yang didirikan oleh Hussein Badreddin al-Houthi.
Kelompok ini mewakili Zaidiyah, cabang dari Syiah yang pernah memerintah Yaman selama hampir seribu tahun sebelum digulingkan pada tahun 1962.
Pembentukan kelompok ini didorong oleh perasaan terpinggirkan secara ekonomi dan politik oleh pemerintah pusat, serta sebagai bentuk perlawanan terhadap masuknya pengaruh ideologi Wahabi dari negara tetangga, Arab Saudi, ke wilayah tradisional mereka.
Transisi gerakan ini dari kelompok keagamaan menjadi milisi bersenjata mulai terjadi pada awal tahun 2000-an.
Saat itu, ketegangan antara pengikut Houthi dan pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh semakin memanas, terutama karena sikap pemerintah Yaman yang mendukung invasi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003.
Hussein al-Houthi secara terbuka mengkritik kedekatan pemerintah Yaman dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kritik keras ini direspons oleh Presiden Saleh dengan melancarkan operasi militer ke Saada pada tahun 2004 untuk menangkap Hussein, yang berujung pada kematian sang pendiri dan memicu perang gerilya berkepanjangan yang dikenal sebagai Perang Saada.
Setelah kematian Hussein, kepemimpinan kelompok diambil alih oleh saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi.
Di bawah komandonya, Houthi terus melakukan perlawanan sengit terhadap militer pemerintah dalam enam gelombang peperangan hingga tahun 2010.
Momentum kebangkitan politik Houthi yang sesungguhnya terjadi pada peristiwa Musim Semi Arab (Arab Spring) tahun 2011.
Mereka turut serta dalam protes massal yang akhirnya memaksa Presiden Saleh turun dari jabatannya dan digantikan oleh wakilnya, Abdrabbuh Mansur Hadi.
Namun, proses transisi politik yang difasilitasi oleh Dewan Kerjasama Teluk (GCC) dinilai sangat merugikan posisi Houthi, sehingga mereka menolak hasil kesepakatan tersebut.
Memanfaatkan kekosongan kekuasaan dan ketidakpuasan publik terhadap pemerintah transisi, Houthi secara mengejutkan bersekutu dengan mantan musuh bebuyutan mereka, Ali Abdullah Saleh, yang masih memiliki loyalitas kuat di tubuh militer.
Pada akhir tahun 2014, pasukan Houthi berhasil menyerbu dan menguasai ibu kota Sana`a, memaksa Presiden Hadi melarikan diri ke Arab Saudi.
Penguasaan ibu kota ini menjadi titik balik krusial yang mengubah status Houthi dari pemberontak daerah menjadi penguasa de facto sebagian besar wilayah padat penduduk di Yaman.
Manuver politik dan militer Houthi ini memicu reaksi keras dari negara-negara tetangga. Pada Maret 2015, koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan intervensi berskala besar dengan tujuan memulihkan pemerintahan Hadi dan mencegah meluasnya pengaruh Iran yang diyakini sebagai penyokong utama Houthi.
Alih-alih menghancurkan Houthi, perang yang berlarut-larut ini justru memperkuat kapasitas militer kelompok tersebut.
Houthi berhasil mengembangkan persenjataan canggih, termasuk rudal balistik dan pesawat nirawak (drone), yang mengubah mereka dari sekadar milisi lokal menjadi salah satu sayap terpenting dalam Poros Perlawanan (Axis of Resistance) di kawasan Timur Tengah.
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB