https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Konsumsi Gula Saat Minum Antibiotik Bisa Bahayakan Bakteri Usus

Agus Mughni | Selasa, 13/10/2026 11:47 WIB



Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula saat menjalani pengobatan antibiotik berpotensi memperburuk kerusakan komunitas bakteri baik di usus Ilustrasi antibiotik (Foto: Pexels/Pixabay)

Jakarta, Jurnas.com - Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula saat menjalani pengobatan antibiotik berpotensi memperburuk kerusakan komunitas bakteri baik di usus.

Sebuah studi terhadap pasien kanker darah yang menjalani transplantasi sel punca menemukan bahwa pasien yang mengonsumsi lebih banyak makanan manis saat mendapat antibiotik spektrum luas cenderung kehilangan lebih banyak keragaman bakteri usus.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature itu juga menemukan peningkatan bakteri Enterococcus faecium, salah satu bakteri yang dapat menyebabkan infeksi aliran darah dan memiliki kemampuan melawan antibiotik.

Baca juga :
Ilmuwan Duga Bakteri Usus Mampu Bikin Manusia Berumur Panjang

Dikutip dari Earth, temuan tersebut memberikan petunjuk bahwa pola makan selama perawatan dengan antibiotik tertentu mungkin ikut memengaruhi kondisi mikrobioma usus.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini belum membuktikan gula secara langsung menyebabkan kerusakan mikrobioma atau meningkatkan risiko kematian. Penelitian tersebut juga belum dapat memastikan apakah temuan yang sama berlaku bagi orang sehat yang mengonsumsi antibiotik untuk infeksi ringan.

Baca juga :
Studi Ungkap Peran Bakteri Usus dalam Membentuk Evolusi Otak Manusia

Penelitian ini melibatkan 173 pasien yang menjalani rawat inap selama beberapa minggu untuk transplantasi sel punca dalam pengobatan kanker darah. Tim peneliti mengamati makanan yang dikonsumsi pasien, kemudian membandingkannya dengan perubahan bakteri dalam sampel tinja.

Penelitian tersebut melibatkan Marcel van den Brink, presiden City of Hope di Los Angeles, dan Jonathan Peled dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center. Jonas Schluter dari NYU Langone Health mengembangkan model statistik untuk menganalisis data.

Baca juga :
Ingin Awet Muda dan Jarang Sakit? Mulai dari Perbaiki Ususmu

Selama lima tahun pengumpulan data, peneliti mencatat 9.419 waktu makan yang mencakup 40.702 item makanan. Jumlah catatan setiap pasien berkisar antara delapan hingga 128 kali makan.

Sebagian besar pasien mengalami penurunan asupan makanan selama dua minggu pertama. Kemoterapi dapat menyebabkan luka yang menyakitkan di mulut dan tenggorokan, sehingga konsumsi kalori, karbohidrat, lemak, protein, dan serat ikut berkurang.

Namun, konsumsi gula, makanan manis, dan minuman manis relatif bertahan ketika asupan makanan lainnya menurun. Kondisi ini sebagian berkaitan dengan upaya rumah sakit membantu pasien tetap mendapatkan energi melalui minuman atau makanan yang lebih mudah dikonsumsi.

Pada saat yang sama, keragaman bakteri usus juga menurun. Peneliti menganalisis 1.009 sampel tinja dari 158 pasien untuk mengamati perubahan tersebut.

Van den Brink mengatakan pola hubungan antara konsumsi makanan manis, antibiotik, dan perubahan mikrobioma tetap terlihat dalam berbagai analisis yang dilakukan timnya.

“Pasien yang mengonsumsi lebih banyak makanan manis saat menggunakan antibiotik lebih mungkin mengalami penurunan keragaman mikrobioma, ketika mikroba yang agresif mendesak jenis bakteri lain,” ujar Van den Brink.

Temuan utama penelitian ini adalah hubungan antara konsumsi gula dan keragaman bakteri usus muncul terutama ketika pasien menggunakan antibiotik spektrum luas. Jenis antibiotik ini bekerja terhadap beragam bakteri dan dapat mengganggu komunitas mikroba normal dalam usus.

Sebanyak 138 dari 173 pasien beralih menggunakan antibiotik spektrum luas setelah mengalami demam atau diduga mengalami infeksi. Peneliti menemukan bahwa konsumsi makanan manis sebelum periode tanpa antibiotik tidak menunjukkan hubungan serupa dengan keragaman bakteri usus.

Sebaliknya, ketika konsumsi makanan manis dibandingkan dengan sampel yang berkaitan dengan penggunaan antibiotik spektrum luas, hubungannya terlihat lebih jelas.

Dalam model statistik, setiap tambahan 100 gram makanan manis berkaitan dengan penurunan rata-rata keragaman bakteri sebesar 24,1 persen dibandingkan sampel dari pasien yang tidak menggunakan antibiotik tersebut. Ketika analisis dilakukan berdasarkan kandungan nutrisi, bukan kelompok makanan, tambahan gula berkaitan dengan penurunan sebesar 20,6 persen untuk setiap 100 gram.

Hubungan ini tetap terlihat ketika peneliti mengecualikan pasien yang mendapat nutrisi melalui pembuluh darah atau selang, serta ketika sampel yang dikumpulkan selama penanganan infeksi terkonfirmasi tidak disertakan.

Minuman nutrisi menjadi salah satu penyumbang konsumsi gula yang cukup besar. Peneliti juga menemukan bahwa gula tambahan menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan perubahan tersebut dibandingkan gula yang secara alami terkandung dalam buah.

Meski demikian, angka-angka tersebut merupakan hasil pemodelan statistik dari data observasional. Angka itu tidak berarti setiap orang yang mengonsumsi 100 gram gula saat minum antibiotik pasti mengalami penurunan keragaman bakteri dalam persentase yang sama.

Selain berkurangnya keragaman mikrobioma, penelitian menemukan perubahan pada jenis bakteri yang mendominasi usus. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Enterococcus faecium, bakteri yang dapat menyebabkan infeksi serius, termasuk infeksi aliran darah, dan memiliki kemampuan resisten terhadap antibiotik.

Pada pasien yang mendapat antibiotik spektrum luas, konsumsi makanan manis yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan bakteri tersebut.

Keragaman mikrobioma yang rendah dan dominasi Enterococcus sebelumnya juga telah dikaitkan oleh kelompok peneliti dengan hasil kesehatan yang lebih buruk setelah transplantasi sel punca. Pada pasien transplantasi, perubahan mikrobioma tertentu turut menjadi perhatian karena berkaitan dengan risiko komplikasi, termasuk penyakit graft-versus-host, ketika sel imun dari donor menyerang jaringan penerima.

Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa konsumsi gula secara langsung menyebabkan komplikasi tersebut. Temuannya menunjukkan adanya hubungan yang perlu diuji lebih lanjut melalui penelitian terkontrol.

Untuk menguji apakah gula mungkin berperan langsung, tim peneliti melakukan eksperimen pada tikus. Hewan percobaan diberi satu suntikan biapenem, antibiotik spektrum luas, lalu sebagian di antaranya juga diberi sukrosa atau gula meja.

Pada tikus yang hanya menerima antibiotik, jumlah bakteri enterokokus meningkat tajam, mencapai puncak pada hari ketiga, kemudian sebagian besar menurun kembali pada hari keenam.

Pola berbeda terlihat pada tikus yang mendapat antibiotik sekaligus sukrosa. Jumlah enterokokus pada kelompok ini tercatat 16,3 kali lebih tinggi pada hari ketiga dan 33,4 kali lebih tinggi pada hari keenam dibandingkan kelompok yang hanya menerima antibiotik.

Sukrosa tanpa antibiotik tidak menghasilkan peningkatan serupa. Efek itu juga tidak muncul pada tikus bebas kuman yang hanya membawa satu spesies bakteri.

Hasil tersebut mengindikasikan bahwa pengaruh gula mungkin bergantung pada keberadaan komunitas mikroba yang kompleks dan telah terganggu oleh antibiotik. Dengan kata lain, gula saja tidak cukup untuk menghasilkan perubahan yang sama dalam eksperimen tersebut.

Meski eksperimen hewan memperkuat dugaan adanya hubungan sebab-akibat, hasilnya belum dapat langsung diterapkan pada manusia. Jenis antibiotik, kondisi tubuh, dan komposisi mikrobioma dapat berbeda antara tikus dan pasien.

Peneliti turut menganalisis hubungan konsumsi gula dan kematian selama perawatan. Pasien dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan median konsumsi gula mereka.

Pada kelompok dengan konsumsi gula di atas median, setiap tambahan satu hari penggunaan antibiotik spektrum luas berkaitan dengan peningkatan risiko kematian sekitar 12 persen. Pada kelompok dengan konsumsi gula di bawah median, hubungan yang sama menunjukkan peningkatan sekitar 7 persen, tetapi hasilnya cukup kecil sehingga masih mungkin dipengaruhi faktor kebetulan.

Ketika penggunaan antibiotik tidak diperhitungkan, kedua kelompok konsumsi gula tersebut menunjukkan hasil yang serupa.

Peneliti mengingatkan agar hasil ini tidak ditafsirkan sebagai bukti bahwa gula menyebabkan kematian. Pasien yang membutuhkan antibiotik spektrum luas umumnya sedang menghadapi kondisi kesehatan yang lebih berat. Selain itu, konsumsi makanan yang rendah secara keseluruhan juga mungkin ikut memengaruhi hubungan yang ditemukan.

Dengan demikian, hasil tersebut merupakan sinyal yang perlu diteliti lebih lanjut, bukan dasar untuk menyimpulkan bahwa konsumsi gula saat menjalani pengobatan antibiotik akan meningkatkan risiko kematian pada semua pasien.

Apakah semua orang harus menghindari gula saat minum antibiotik? Peneliti menilai masih terlalu dini untuk merekomendasikan semua orang yang mengonsumsi antibiotik agar menghindari gula. Sebagian besar peserta penelitian merupakan pasien kanker darah yang menjalani transplantasi sel punca dan mendapat perawatan intensif, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi orang yang menggunakan antibiotik untuk penyakit umum.

Penelitian tersebut juga belum menguji apakah mengurangi konsumsi makanan manis selama pengobatan dapat mencegah penurunan keragaman mikrobioma. Untuk menjawabnya, diperlukan uji klinis yang secara langsung membandingkan pola makan pasien selama menjalani terapi antibiotik.

Van den Brink mengatakan sejumlah makanan dan minuman yang kerap dianjurkan untuk membantu pasien rawat inap memenuhi kebutuhan energi, seperti minuman nutrisi, smoothie, dan minuman olahraga, ternyata dapat mengandung gula dalam jumlah tinggi. Kandungan tersebut perlu dipertimbangkan lebih lanjut ketika menyusun strategi nutrisi bagi pasien yang mendapat antibiotik.

Ia juga mengingatkan bahwa bukti kuat mengenai kemampuan probiotik mempertahankan atau memulihkan keragaman mikrobioma masih terbatas.

Bagi pasien, temuan ini tidak berarti harus mengurangi asupan nutrisi secara drastis atau menghentikan makanan yang dibutuhkan untuk pemulihan. Pasien yang sedang menjalani kemoterapi atau perawatan intensif sebaiknya mendiskusikan perubahan pola makan dengan dokter atau ahli gizi agar kebutuhan energi dan nutrisinya tetap terpenuhi. (*)

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Gula dan Antibiotik Bakteri Usus Mikrobioma Usus Antibiotik Spektrum Luas

Terkini | Selasa, 13/10/2026 13:01 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777