Sekitar 69.500 migran telah meninggalkan Ceuta menuju Maroko (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Polisi Spanyol terpaksa menggunakan kekerasan terhadap sekelompok migran yang berusaha menerobos kepungan untuk mencapai pusat penerimaan baru di pelabuhan Ceuta, lapor sebuah kantor berita Eropa pada Jumat.
Para migran yang berupaya melakukan penerobosan massal tersebut merupakan bagian dari kelompok yang ditahan di sebuah fasilitas sementara di bawah penjagaan ketat kepolisian.
Pada Jumat pagi, otoritas Spanyol melancarkan operasi untuk memindahkan para migran dari kawasan pantai dan mengirim mereka ke perumahan sementara baru yang dibangun di pelabuhan Ceuta.
Pusat penerimaan tersebut sebenarnya hanya dirancang untuk menampung sekitar 1.800 orang. Sementara itu, merujuk pada perkiraan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dikutip dalam laporan tersebut, jumlah migran yang masih bertahan di pantai-pantai Ceuta kini telah melampaui 4.000 orang.
Pada akhir Juli lalu, Ceuta mengalami lonjakan gelombang migran secara besar-besaran dari negara tetangganya, Maroko. Menurut estimasi Kementerian Dalam Negeri Spanyol, sekitar 72.000 orang telah memasuki daerah kantong (enklave) tersebut secara ilegal dari wilayah Maroko.
Wali Kota sekaligus Presiden Ceuta, Juan Jesus Vivas Lara, pada pekan lalu menyatakan bahwa sekitar 13.000 migran masih berada di Ceuta. Angka tersebut sudah termasuk sekitar 3.000 orang yang telah tiba di kota itu bahkan sebelum terjadinya gelombang eksodus pada akhir Juli.
Sumber: Sputnik
Minggu, 13/09/2026 11:35 WIB