Kamis, 03/09/2026 12:02 WIB

Ribuan Warga Spanyol Gelar Aksi Demonstrasi Tolak Krisis Migran di Ceuta





Ribuan pengunjuk rasa menggelar aksi demonstrasi di berbagai wilayah Spanyol untuk memprotes krisis migran yang tengah berlangsung di Ceuta

Krisis migrasi di Ceuta, Spanyol, telah menjadi isu yang memecah belah secara politik, memicu protes dan kontraprotes pada tanggal 2 September (Foto: Francis Gonzalez/AP Photo)

Jakarta, Jurnas.com - Ribuan pengunjuk rasa menggelar aksi demonstrasi di berbagai wilayah Spanyol untuk memprotes krisis migran yang tengah berlangsung di Ceuta, sebuah wilayah kecil milik Spanyol yang berada di pesisir Afrika.

Sekitar 50.000 orang berkumpul di Madrid saja pada Rabu (2/9). Di Ceuta sendiri, para penduduk menyelimuti bahu mereka dengan bendera Spanyol dan bendera kota.

"Usir para penyusup" dan "Ceuta tidak dijual, Ceuta harus dipertahankan" menjadi bagian dari teriakan seruan massa dalam aksi tersebut.

Aksi protes tersebut bertepatan dengan Hari Ceuta, sebuah hari libur lokal yang menandai pengambilalihan kota di Afrika Utara itu oleh Portugis pada abad ke-15.

Aksi ini juga berlangsung sedikit lebih dari sebulan setelah lebih dari 70.000 migran dan pencari suaka menyeberang secara massal dari Maroko ke Ceuta pada 30 dan 31 Juli. Lonjakan fatal tersebut menewaskan sedikitnya 80 orang.

Meskipun banyak dari pendatang baru tersebut telah kembali ke Afrika, sebagian lainnya masih bertahan. Perkiraan jumlah mereka bervariasi; Pemerintah Spanyol memperkirakan angka tersebut sekitar 5.000 orang, termasuk 1.200 anak di bawah umur, namun statistik lokal mencatat jumlah yang lebih tinggi.

Di antara mereka yang masih terdampar di wilayah Spanyol tersebut adalah Otman Ianaya (40). Ia berenang ke Ceuta bersama istri dan dua putrinya yang masih kecil demi mencari prospek hidup yang lebih baik.

"Tidak ada pekerjaan di Maroko," katanya kepada kantor berita AFP. "Saya ingin membangun masa depan dalam hidup saya."

Sebagian migran dan pencari suaka tidur di pantai-pantai Ceuta. Pemerintah Spanyol telah berupaya memperluas perumahan darurat dan meningkatkan dana untuk layanan sosial, tetapi para kritikus mengecam upaya tersebut karena dinilai tidak memadai untuk menjawab kebutuhan begitu banyak orang.

Tekanan krisis ini telah memicu insiden kekerasan yang terisolasi, termasuk perkelahian, pelemparan batu ke arah patroli militer, serta laporan kasus kekerasan seksual.

Penduduk di Ceuta juga telah bentrok dengan polisi dan membakar barang-barang milik migran serta pencari suaka sebagai bentuk protes atas gelombang kedatangan manusia tersebut.

"Situasinya sangat kacau, sedemikian rupa hingga Anda tidak bisa keluar ke jalan," kata Gema Guillen, salah seorang pengunjuk rasa.

Insiden pada bulan Juli lalu tersebut juga mempertegas perpecahan politik.

Pemimpin regional Ceuta, Juan Jesus Vivas, yang mewakili Partai Popular konservatif Spanyol, menyebut krisis ini sebagai "pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol".

Sementara itu, Menteri Kebijakan Wilayah Spanyol Angel Victor Torres menuduh oposisi konservatif dan sayap kanan mengapitalisasi krisis ini "untuk menyerang pemerintah Spanyol" alih-alih membantu kota tersebut.

Perdana Menteri Pedro Sanchez menyalahkan lonjakan tersebut pada salah tafsir putusan pengadilan dan disinformasi daring yang ia sebut telah mendorong orang-orang untuk melintasi perbatasan.

Ia juga menyatakan bahwa pemberitaan negatif mengenai krisis ini telah diperbesar oleh akun-akun yang terhubung dengan Rusia dan Israel, meskipun ia tidak memberikan bukti dan hanya mengutip temuan dari lembaga intelijen Spanyol.

Madrid telah menjanjikan bantuan senilai 309 juta euro (sekitar 357 juta dolar AS) untuk Ceuta.

Di tengah kebuntuan tersebut, sementara beberapa migran mencari peluang ekonomi, sebagian lainnya mengajukan suaka untuk melarikan diri dari dugaan persekusi di negara asal mereka.

"Merek adalah orang-orang dalam situasi rentan; kita perlu memiliki sedikit empati," kata Halima Ahmed dari Luna Blanca, sebuah organisasi non-pemerintah yang membagikan makanan dan bantuan kepada para migran dan pencari suaka.

"Masyarakat sudah lelah, masyarakat sudah muak... namun hal itu tidak membenarkan jenis kekerasan apa pun," tambahnya.

Sumber: Aljazeera

KEYWORD :

Imigran Ceuta Demo Spanyol Imigran Maroko




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :