Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di satuan pendidikan (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Persoalan mengenai pemenuhan gizi anak usia sekolah di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Berdasarkan penelitian terbaru Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON), ditemukan kesenjangan zat gizi mikro yang signifikan pada anak usia 7 hingga 18 tahun di berbagai wilayah Indonesia.
Studi yang melibatkan lebih dari 4.200 siswa di 12 kabupaten/kota dari 12 provinsi ini memetakan kondisi gizi anak mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Penelitian dilakukan dengan menggabungkan metode 24-hour dietary recall atau mengingat kembali asupan makanan dan minuman selama 24 jam terakhir, serta pemeriksaan laboratorium. Hasilnya, terdapat defisit zat gizi mikro paling menonjol ditemukan pada folat, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan zinc.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi SEAMEO RECFON dalam merumuskan rekomendasi kebijakan, termasuk rancangan menu untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan menggunakan analisis Linear Programming dan WHO Optifood, SEAMEO RECFON merancang Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal (PGS-PL) berupa contoh susunan menu tujuh hari untuk 12 wilayah penelitian.
Rancangan ini disusun dengan memperhitungkan kebutuhan gizi, ketersediaan komoditas lokal, hingga budaya makan masyarakat di enam wilayah besar Indonesia.
Direktur SEAMEO RECFON, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, memaparkan bahwa persoalan gizi saat ini tersebar luas dan tidak dialami secara merata di setiap daerah. "Di studi ini, lebih dari satu per empat kabupaten kota mengalami masalah gizi," kata Rini dalam konferensi pers pada Rabu (9/9/2026) di Jakarta.
Dia menyebutkan bahwa kekurangan kalsium menjadi persoalan yang paling mendominasi di wilayah penelitian, disusul oleh vitamin A dan zat gizi mikro lainnya. Adapun defisiensi paling banyak ditemukan yakni kalsium, sekitar 78 persen, kemudian vitamin A 25 persen.
"Pada jenjang sekolah menengah atas, folat kembali menjadi salah satu zat gizi dengan kesenjangan yang menonjol, diikuti kalsium dan vitamin C," ujar Rini.
Peluncuran rekomendasi dan policy brief ini, lanjut Rini, merupakan komitmen untuk menghubungkan hasil riset ilmiah dengan eksekusi kebijakan di lapangan, termasuk pelaksanaan MBG yang telah berjalan selama hampir dua tahun terakhir.
Ia menekankan bahwa intervensi perbaikan gizi harus mempertimbangkan kondisi spesifik daerah dan keberimbangan nutrisi, serta tidak diseragamkan secara nasional. "Yang harus kita perhatikan adalah bagaimana menu makanan itu seimbang," dia menambahkan.
Sementara itu, Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON, Dr. dr. Brian Sri Prihastuti, menjelaskan bahwa penggunaan data riset sangat krusial agar bentuk intervensi yang diberikan dapat tepat sasaran.
"Setelah dilakukan recall, kemudian berdasarkan diet tersebut dan dilakukan pemeriksaan, kita menemukan bahwa kasus kekurangan gizi mikro itu ternyata berbeda-beda," kata Brian.
Dia menekankan kembali pentingnya pendekatan berbasis wilayah dalam penanganan masalah gizi anak. “Ketika kita berbicara ada kekurangan gizi mikro, kemudian kita akan memperbaiki status gizi pada anak, harusnya disesuaikan dengan kekurangan zat gizi mikro tersebut. Sehingga tidak bisa disamaratakan,” jelas dia.
Lebih lanjut, seluruh hasil riset dan rekomendasi menu berbasis pangan lokal ini akan diserahkan secara resmi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan masukan Program MBG.