https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Tetangga RI Ini Dinilai Paling Tangguh Hadapi Bencana Global

Agus Mughni | Rabu, 09/09/2026 22:33 WIB



Penelitian terbaru menemukan bahwa Australia memiliki tingkat ketahanan paling kuat dibandingkan negara lain dalam menghadapi berbagai skenario katastrof global Bendera Indonesia dan Bendera Australia. (Foto istimewa/Jurnas)

Jakarta, Jurnas.com - Jika perang nuklir, letusan gunung berapi raksasa, hantaman asteroid, atau bencana biologis berskala global terjadi, tidak ada tempat di Bumi yang benar-benar aman. Namun, sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa Australia memiliki tingkat ketahanan paling kuat dibandingkan negara lain dalam menghadapi berbagai skenario katastrofe global.

Penelitian yang diterbitkan 23 Agustus di jurnal Global Challenges tersebut menilai negara berdasarkan kemampuannya bertahan ketika terjadi peristiwa yang berpotensi menewaskan lebih dari 10 persen populasi dunia dalam hitungan bulan hingga tahun.

Australia berada di posisi teratas. Argentina, Brasil, dan Selandia Baru menyusul sebagai negara yang dinilai relatif lebih tangguh, meski masing-masing memiliki kerentanan tersendiri.

Baca juga :
Benarkah Sapi Impor dari Australia Tak Bisa Dijadikan Hewan Kurban?

Dikutip dari Live Scinece, penelitian ini tidak mencari negara yang bebas dari bencana. Para peneliti justru melihat negara mana yang memiliki sistem paling mampu bertahan ketika berbagai jaringan global mengalami kerusakan parah.

Florian Ulrich Jehn, peneliti dari FernUniversität in Hagen, Jerman, mengatakan risiko katastrofe global masih kurang diteliti karena kemungkinan terjadinya relatif kecil. Namun, kemungkinan yang rendah bukan berarti risikonya dapat diabaikan.

Baca juga :
Aksi Polisi Bubarkan Sholat Berjamaah di Australia

Tim peneliti menelaah berbagai studi dari bidang ketahanan pangan, senjata biologis, vulkanologi dan bidang lainnya. Para ahli dari sejumlah disiplin juga dilibatkan untuk memperluas basis penelitian.

Para peneliti mengelompokkan risiko katastrofe global ke dalam tiga kategori utama. Pertama, peristiwa yang dapat menghalangi sinar Matahari mencapai permukaan Bumi, seperti perang nuklir atau letusan gunung berapi yang sangat besar.

Baca juga :
Momen Kedatangan Prabowo Disambut Hangat di Australia

Kedua, bencana yang dapat menghancurkan infrastruktur global, termasuk badai geomagnetik dan serangan siber berskala besar. Ketiga, ancaman biologis berupa penyakit menular alami maupun yang disebabkan manusia dan berpotensi menewaskan sebagian besar populasi.

Dampaknya dapat berlangsung jauh lebih lama daripada saat bencana terjadi. Ketika pertanian terganggu dan jalur perdagangan internasional runtuh, ancaman berikutnya adalah krisis pangan global.

“Sistem pangan sering kali menjadi hal yang menentukan apakah masyarakat dapat bertahan,” kata Jehn seperti dikutip Live Science.

Mengapa Australia berada di posisi teratas

Ada beberapa alasan Australia dinilai paling tangguh. Negara tersebut berada di belahan selatan sehingga relatif jauh dari kawasan yang dipandang lebih berisiko menjadi pusat konflik nuklir.

Australia juga merupakan produsen pangan utama dengan wilayah yang memiliki beragam kondisi iklim. Kemampuan menghasilkan pangan sendiri menjadi faktor penting jika perdagangan internasional terganggu.

Selain itu, Australia memiliki infrastruktur energi yang signifikan dan basis industri yang dapat membantu memenuhi kebutuhan domestik ketika impor tidak lagi dapat diandalkan.

Meski demikian, penelitian tersebut memberikan catatan penting. Aliansi Australia dengan Amerika Serikat berpotensi meningkatkan paparan terhadap risiko tertentu, terutama dalam skenario konflik geopolitik.

Negara kaya belum tentu paling aman

Penelitian menunjukkan kekayaan saja tidak cukup untuk menentukan ketahanan sebuah negara. Basis industri yang kuat dan kemampuan memenuhi kebutuhan domestik justru menjadi faktor penting ketika rantai pasok dunia terputus.

Geografi juga berperan. Pulau besar dapat memiliki keuntungan karena lebih mudah mengisolasi diri dari gangguan eksternal, tetapi keunggulan tersebut berkurang jika perekonomiannya sangat bergantung pada perdagangan internasional.

Jepang menjadi salah satu contoh negara yang menghadapi dilema tersebut. Sebagai negara kepulauan dengan ketergantungan tinggi terhadap perdagangan internasional, Jepang akan menghadapi tantangan besar jika jaringan perdagangan global terhenti.

Setelah Australia, ada Argentina, Brasil dan Selandia Baru

Argentina, Brasil dan Selandia Baru berada di belakang Australia dalam penilaian ketahanan. Namun, tidak satu pun negara tersebut bebas dari kelemahan.

Selandia Baru memiliki gunung berapi aktif, basis industri yang lebih kecil, serta berada di wilayah yang memiliki risiko tsunami. Sementara itu, Brasil dan Argentina menghadapi tingkat ketimpangan yang tinggi dan memiliki sejarah ketidakstabilan politik yang dapat memengaruhi kemampuan negara menghadapi krisis.

Islandia juga sempat dianggap sebagai kandidat tempat perlindungan yang relatif aman. Namun, lokasinya di belahan utara membuat negara tersebut lebih rentan terhadap perubahan suhu ekstrem jika sebuah bencana besar menyebabkan berkurangnya sinar Matahari.

Belahan selatan punya sejumlah keunggulan

Lokasi geografis menjadi salah satu faktor yang menarik dalam penelitian ini. Belahan selatan memiliki lebih sedikit gunung berapi dibandingkan belahan utara dan memiliki wilayah lautan yang lebih luas.

Laut yang luas dapat berfungsi sebagai penyangga iklim ketika terjadi perubahan besar. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah di belahan selatan dinilai lebih tangguh terhadap skenario letusan gunung berapi raksasa.

Sebaliknya, negara-negara yang memiliki kemampuan nuklir seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Israel, Rusia, Pakistan dan India menghadapi risiko tambahan karena berpotensi terlibat dalam konflik nuklir.

Amerika Serikat bukan yang paling siap

Dalam penelitian tersebut, Amerika Serikat tidak termasuk lokasi yang paling baik untuk menghadapi katastrofe global. Negara itu menghadapi paparan terhadap badai geomagnetik dan risiko konflik nuklir.

Peneliti juga menyoroti pengalaman Amerika Serikat selama pandemi COVID-19 sebagai salah satu indikator persoalan dalam ketahanan sosial dan tata kelola. Mereka mengaitkannya dengan lemahnya kohesi sosial dan persoalan kemauan politik dalam menghadapi krisis.

Namun, temuan tersebut bukan berarti Amerika Serikat pasti lebih buruk dalam setiap jenis bencana. Penelitian justru menekankan bahwa setiap negara memiliki kombinasi kelebihan dan kelemahan yang berbeda.

Pemerintahan dan kesetaraan ikut menentukan

Selain lokasi geografis, kemampuan sebuah negara mengambil keputusan ketika krisis terjadi menjadi faktor penting. Peneliti menilai proses demokratis dan tingkat kesetaraan dapat membantu meningkatkan ketahanan secara umum.

Jehn mengatakan tata kelola yang berfungsi dengan baik diperlukan ketika keputusan penting harus dibuat dalam kondisi darurat. Sebaliknya, ketimpangan dapat memperburuk tata kelola karena berpotensi memicu persaingan elite dan mengurangi kapasitas negara.

David Denkenberger, direktur Alliance to Feed the Earth in Disasters dan peneliti di University of Canterbury, Selandia Baru, menilai penelitian tersebut membantu memperluas pemahaman mengenai berbagai risiko bencana di masa depan.

Menurutnya, tidak ada negara yang memiliki ketahanan terhadap seluruh jenis katastrofe. Karena itu, langkah berikutnya adalah mengukur kemungkinan dan tingkat keparahan masing-masing risiko serta seberapa penting setiap faktor ketahanan.

Ketahanan tidak bisa dibangun setelah bencana terjadi

Para peneliti menilai katastrofe global memang memiliki kemungkinan rendah, tetapi tetap perlu dimasukkan dalam daftar risiko nasional. Persiapan juga perlu mencakup kesepakatan perdagangan internasional yang dapat digunakan ketika rantai pasok dunia terganggu.

Jika bencana global benar-benar terjadi, sistem pangan kemungkinan harus diatur ulang, termasuk lokasi produksi dan jalur distribusinya. Mencari kesepakatan baru setelah krisis terjadi dinilai jauh lebih sulit dibandingkan mempersiapkannya sejak awal.

Denkenberger menekankan pentingnya investasi pada ketahanan pangan, infrastruktur kritis, koordinasi perdagangan dan tata kelola pemerintahan.

Dengan kata lain, pelajaran utama penelitian ini bukan sekadar mencari negara paling aman dari kiamat. Ketahanan menghadapi bencana global lebih banyak ditentukan oleh kemampuan sebuah negara mempertahankan pangan, energi, industri, pemerintahan dan kerja sama sosial ketika sistem dunia mengalami gangguan besar. (*)

Sumber: Live Science

 
Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Tetangga RI Negara Australia Negara Paling Tangguh Bencana Global

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777