Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (Foto: AFP)
Washington, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa dia telah mengeluarkan perintah tetap bagi militer AS untuk menghancurkan Iran, apabila terbunuh di tangan Teheran.
Namun, pada praktiknya, pemerintah AS tidak memiliki mekanisme untuk menciptakan perintah otomatis yang telah diotorisasi sebelumnya, guna memicu serangan balasan seketika.
Sebaliknya, apabila Trump terbunuh, transisi kekuasaan kepada penerusnya akan diatur oleh Amandemen ke-25 serta Undang-Undang Suksesi Presiden tahun 1947.
Dengan demikian, Wakil Presiden JD Vance akan secara instan mengambil alih posisi sebagai panglima tertinggi dan memegang wewenang penuh atas setiap operasi pembalasan.
Dalam skenario tersebut, Vance bisa saja mengeksekusi persis apa yang diserukan Trump. Meski demikian, ada pula kemungkinan bahwa dia memutuskan untuk tidak mematuhi instruksi pendahulunya tersebut, atau justru melancarkan respons langsung dengan cara yang berbeda.
"AS, karena berbagai alasan, tidak pernah memanfaatkan `sakelar orang mati` secara teknis," papar Garrett M. Graff, penulis buku "Raven Rock: The Story of the US Government`s Secret Plan to Save Itself — While the Rest of Us Die", dikutip dari AP pada Minggu (12/7).
AS memang memiliki rencana kontingensi yang ekstensif untuk menjaga kelangsungan pemerintahan, jika terjadi serangan nuklir atau bencana besar lain yang meluluhlantakkan sebagian besar maupun seluruh wilayah Washington.
Kendati begitu, rencana tersebut juga tidak mengizinkan peluncuran serangan balasan secara mendadak tepat setelah kematian seorang presiden, bahkan jika sang presiden telah memerintahkan pihak militer untuk bersiap melakukannya.
Meskipun begitu, Trump pada Sabtu (11/7) menulis di platform media sosialnya bahwa Iran telah melontarkan ancaman untuk membunuh, atau mencoba membunuh dirinya.
Ia juga menegaskan bahwa 1.000 rudal rerkunci dan siap tembak diarahkan ke Republik Islam Iran, dengan ribuan lainnya akan segera menyusul, seandainya Pemerintah Iran bertindak atas ancamannya.
Beberapa jam berselang, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa rakyat Iran akan terus menuntut balas atas pembunuhan ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei.
Mendiang Khamenei gugur dalam serangan awal AS dan Israel yang memicu perang pada akhir Februari lalu, dan jenazahnya diiringi duka dalam rangkaian upacara pemakaman di seluruh Iran pekan ini.
"Kami berjanji untuk membalas dendam atas darah murni Anda dan seluruh martir dari kedua perang ini dari para pembunuh yang kriminal dan memalukan," kata Mujtaba Khamenei dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di televisi pemerintah.
"Pembalasan ini adalah kehendak bangsa kita dan sudah pasti harus dilaksanakan," dia menambahkan.
The Wall Street Journal pekan ini juga melaporkan bahwa Israel telah memperingatkan para pejabat AS terkait adanya rencana baru dari Iran untuk membunuh Trump.
Meski Gedung Putih menolak untuk berkomentar, Trump tampak menyinggung ancaman tersebut dalam komentarnya selama KTT NATO di Turki pekan ini.