Ilustrasi perang (Foto: Suara Islam)
Jakarta, Jurnas.com - Perang kerap dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia. Dari konflik kerajaan kuno hingga peperangan modern, kekerasan seolah selalu hadir di setiap zaman. Namun, benarkah manusia tidak pernah hidup dalam masa damai?
Sebuah kajian yang mengulas berbagai penelitian arkeologi dan sejarah justru menunjukkan jawabannya lebih kompleks. Para sejarawan menyebut ada masa ketika manusia belum mengenal perang seperti yang dipahami saat ini, bahkan sejumlah peradaban besar pernah menikmati perdamaian selama ratusan tahun.
Dikutip dari Live Science, sejarawan dari Stanford University, Ian Morris, menjelaskan bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut bergantung pada definisi perang.
Jika perang dimaknai sebagai konflik yang melibatkan pemerintahan atau negara, maka sebagian besar sejarah manusia justru berlangsung tanpa perang.
"Selama hampir 99 persen sejarah manusia, belum ada pemerintahan," kata Ian Morris, sejarawan Stanford University sekaligus penulis War! What Is It Good For? Conflict and the Progress of Civilization from Primates to Robots.
Namun Morris menegaskan bahwa hal itu bukan berarti manusia hidup tanpa kekerasan. "Orang selalu bertarung dan saling membunuh," ujarnya.
Artinya, kekerasan antarmanusia sudah ada sejak zaman prasejarah, tetapi belum tentu dapat dikategorikan sebagai perang dalam pengertian modern.
Sejumlah penelitian arkeologi yang dirangkum dalam kajian tahun 2022 menemukan bahwa perang hampir tidak ditemukan pada masa manusia masih hidup sebagai pemburu dan peramu yang berpindah-pindah.
Profesor emeritus sejarah dari George Mason University, Peter Stearns, menyebut perang baru berkembang setelah manusia mulai mengenal pertanian dan menetap.
"Sedikit atau bahkan tidak ada perang pada masyarakat pemburu dan peramu sebelum munculnya pertanian," kata Stearns.
Kesimpulan tersebut diperoleh dari penelitian terhadap ribuan kerangka manusia purba di berbagai belahan dunia. Para arkeolog mencari tanda-tanda luka akibat peperangan, seperti bekas tusukan, tebasan, maupun benturan keras yang ditemukan pada kuburan massal.
Hasilnya, bukti perang hampir tidak ditemukan sebelum sekitar 8.000 SM. Luka-luka yang mengindikasikan konflik berskala besar baru mulai banyak muncul setelah manusia hidup menetap dan membentuk komunitas yang lebih besar.
Meski demikian, bukan berarti masyarakat prasejarah sepenuhnya damai.
Di situs arkeologi Nataruk, Kenya, para peneliti menemukan 27 kerangka manusia berusia sekitar 10.000 tahun yang menunjukkan tanda-tanda kematian akibat kekerasan. Sementara di Jebel Sahaba, Sudan, ditemukan jasad berusia sekitar 13.000 tahun dengan bekas serangan antarkelompok.
Namun menurut Ian Morris, peristiwa tersebut umumnya tidak dikategorikan sebagai perang.
"Para peneliti biasanya mendefinisikan perang sebagai kekerasan yang diorganisasi oleh pemerintah atau kekerasan kolektif yang menewaskan lebih dari jumlah tertentu," jelasnya.
Karena kelompok pemburu-pengumpul hanya beranggotakan puluhan orang dan belum memiliki pemerintahan formal, konflik tersebut lebih tepat disebut kekerasan antarkelompok, bukan perang.
Pandangan serupa disampaikan David Christian, profesor emeritus sejarah dari Macquarie University, Australia.
"Selama sebagian besar sejarah manusia, komunitas masih sangat kecil sehingga sulit menyamakan kekerasan dengan perang," ujarnya.
Perang mulai menjadi bagian dominan dalam sejarah ketika kerajaan dan kekaisaran besar bermunculan.
Menurut penelitian Jared Morgan McKinney dari Air War College, perang justru menjadi kondisi yang paling umum sepanjang sejarah negara-negara besar. Bahkan periode yang dikenal damai, seperti Pax Romana, sebenarnya terjadi karena satu kekuatan berhasil mendominasi pihak lain.
Meski begitu, sejarah juga mencatat sejumlah periode damai yang berlangsung cukup lama.
Salah satu contohnya terjadi sekitar 1400–1200 SM, ketika Mesir Kuno dan Kekaisaran Het berhasil menghindari perang besar melalui perjanjian diplomatik karena saling mengakui kedudukan masing-masing.
Contoh lain adalah hubungan antara Romawi dan Persia yang relatif damai pada periode sekitar 387–501 M. Para sejarawan menyebut masa ini sebagai Long Fifth Century, ketika kedua kekuatan memilih menghindari konflik karena menghadapi ancaman dari luar.
Di Asia Timur, Dinasti Song di China juga berhasil menjaga perdamaian dengan kerajaan tetangganya sekitar 1000–1200 M melalui pembayaran rutin yang nilainya jauh lebih kecil dibanding keuntungan perdagangan yang mereka peroleh.
Ian Morris juga menyoroti hubungan damai antara China, Korea, dan Jepang selama sekitar 1600–1850, ketika kawasan tersebut relatif stabil, berbeda dengan Eropa yang saat itu dipenuhi peperangan.
Sementara di Amerika Utara, Konfederasi Haudenosaunee atau Liga Lima Bangsa Iroquois mampu mempertahankan perdamaian antarsuku selama kurang lebih tiga abad, dari sekitar 1450 hingga 1777.
Di Amerika Selatan, para peneliti juga mencatat hampir tidak ada perang besar antarnegara berdaulat sejak 1935, yang kemudian dikenal sebagai South American Long Peace.
Peter Frankopan, profesor sejarah global dari University of Oxford, menilai perang memang sering terjadi karena menjadi cara negara mempertahankan kepentingannya. Namun sejarah menunjukkan perdamaian juga dapat bertahan lama ketika kekuatan-kekuatan besar memilih menjaga keseimbangan.
"Perang mahal dan berisiko. Karena itu, pada banyak periode sejarah, stabilitas dan perdamaian tercapai ketika para rival mampu menyeimbangkan kekuatan masing-masing," ujar Frankopan.
Senada dengan itu, Jared McKinney menyimpulkan bahwa perang memang merupakan pola dominan dalam sejarah manusia, tetapi bukan sesuatu yang tidak memiliki pengecualian.
"Perang adalah sesuatu yang `normal` dalam sejarah. Namun, seperti yang ditunjukkan berbagai contoh tersebut, setiap pola selalu memiliki pengecualian." (*)
Sumber: Live Science
Selasa, 07/07/2026 18:37 WIB
Selasa, 07/07/2026 18:05 WIB