Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah. (Foto: Dok. Parlementaria)
Jakarta, Jurnas.com - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, menilai proyeksi pelebaran defisit APBN 2026 menjadi 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) masih berada dalam batas yang aman. Menurutnya, tren pengelolaan fiskal pemerintah justru menunjukkan kehati-hatian yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Said menjelaskan, proyeksi defisit tersebut masih berada di bawah ambang batas 3 persen dan tidak jauh berbeda dengan pengalaman pada tahun sebelumnya.
Ia mencontohkan, pada akhir 2025 pemerintah sempat memperkirakan defisit mencapai 2,91 persen terhadap PDB, namun realisasi yang telah diaudit justru turun menjadi 2,81 persen.
“Sehingga 2,85 persen itu dalam batas sangat aman,” kata Said usai Rapat Kerja Banggar DPR RI bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (7/7).
Meski demikian, Politikus PDIP itu mengingatkan bahwa pelebaran defisit tetap harus dicermati karena dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap kondisi fiskal nasional.
“Meskipun selisih hanya 0,17 persen, namun kita tahu bersama bahwa membesarnya defisit sekaligus mengirimkan sinyal ke market di saat kita sedang menghadapi sorotan besar terhadap belanja fiskal,” ujarnya.
Said menegaskan, Banggar DPR akan terus mengawal pelaksanaan APBN agar pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal sehingga defisit tidak melampaui batas yang telah disepakati hingga akhir tahun anggaran.
Dalam rapat tersebut, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa defisit APBN diperkirakan meningkat pada semester II akibat akumulasi belanja pemerintah. Kendati demikian, pemerintah memastikan defisit APBN 2026 tetap berada di bawah 3 persen terhadap PDB.
Berdasarkan pemaparan pemerintah, realisasi defisit pada Semester I 2026 tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB. Pada periode yang sama, Pendapatan Negara tumbuh 21,4 persen menjadi Rp1.459,4 triliun, sedangkan Belanja Negara meningkat 17,8 persen menjadi Rp1.656 triliun.
Sementara itu, dalam outlook APBN 2026, Pendapatan Negara diproyeksikan mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari target. Di sisi lain, Belanja Negara diperkirakan sebesar Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu yang ditetapkan.
Dengan perkembangan tersebut, pemerintah memproyeksikan defisit anggaran hingga akhir 2026 mencapai Rp734,3 triliun atau setara 2,85 persen terhadap PDB. Menurut Said, kondisi tersebut masih terkendali, namun tetap membutuhkan pengelolaan fiskal yang disiplin agar kredibilitas APBN tetap terjaga di mata pelaku pasar.