https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Pertanian Tradisional Bisa Jaga Pangan Sekaligus Lestarikan Alam

Agus Mughni | Senin, 22/06/2026 23:59 WIB



Di tengah dominasi pertanian modern berskala besar, sistem pertanian tradisional yang telah diwariskan selama ratusan tahun ternyata masih mampu bertahan Petani melakukan panen padi (Foto: Kementan)

Jakarta, Jurnas.com - Di tengah dominasi pertanian modern berskala besar, sistem pertanian tradisional yang telah diwariskan selama ratusan tahun ternyata masih mampu bertahan. Bukan hanya menghasilkan pangan, lanskap pertanian kuno ini juga terbukti mampu menjaga keanekaragaman hayati dan melestarikan budaya lokal.

Temuan tersebut diungkap dalam penelitian terbaru yang dipimpin Maria Chiara Camporese, peneliti doktoral dari Universitas Göttingen, Jerman.

Dikutip dari Earth, penelitian ini meneliti berbagai kawasan yang masuk dalam kategori Globally Important Agricultural Heritage Systems (GIAHS), yakni lanskap pertanian warisan dunia yang diakui oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).

Baca juga :
Arif Rahman dan Grenpace Bahas Strategi Penguatan Swasembada Pangan

Sistem pertanian ini tersebar di berbagai belahan dunia, mulai dari padang penggembalaan Alpen di Austria, oasis kurma di Afrika Utara, hingga ladang gandum di pegunungan Portugal.

Menurut Camporese, hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi pangan dan konservasi alam tidak harus saling bertentangan.

Baca juga :
Perkuat Ketahanan Pangan, DPR Dorong Percepatan Program Strategis Kementan

"Produksi pangan dan pelestarian alam tidak harus berada dalam posisi berlawanan," kata Camporese.

Untuk memahami faktor yang membuat pertanian tradisional mampu bertahan, tim peneliti menghubungi sekitar 350 petani, pengelola kawasan, dan peneliti yang terlibat dalam sistem pertanian warisan dunia.

Baca juga :
Pemanasan Global Disebut 5.000 Kali Lebih Cepat dari Evolusi Padi

Puluhan responden dari 22 lokasi di 13 negara kemudian berpartisipasi dalam penelitian tersebut.

Dari hasil analisis, para peneliti menemukan empat strategi utama yang membuat sistem pertanian tradisional tetap hidup hingga saat ini.

Menariknya, tidak ada satu formula tunggal yang berlaku bagi semua wilayah.

"Setiap lanskap memiliki cara bertahan yang berbeda sesuai kondisi alam, masyarakat, dan budaya setempat," tulis tim peneliti.

Strategi pertama bertumpu pada reputasi produk. Banyak kawasan pertanian tradisional bertahan melalui sertifikasi organik, label geografis, atau identitas produk khas daerah yang meningkatkan nilai jual hasil pertanian kepada masyarakat lokal maupun wisatawan.

Strategi kedua berfokus pada tanaman pangan pokok yang telah menjadi bagian penting dari pola makan masyarakat selama berabad-abad.

Dalam banyak kasus, perempuan memegang peranan penting dalam pemilihan benih, pengolahan hasil panen, hingga pelestarian varietas lokal.

Strategi ketiga adalah orientasi pasar global dan pariwisata. Beberapa kawasan menjual produk unggulan ke pasar internasional sekaligus mengembangkan wisata pertanian sebagai sumber pendapatan tambahan.

Salah satu kawasan di Jepang, misalnya, berhasil meningkatkan kebanggaan masyarakat lokal sekaligus memperkuat dukungan kebijakan pemerintah berkat popularitas global produk tehnya.

Sementara strategi keempat lebih mengutamakan nilai budaya dibanding keuntungan ekonomi.

Di sejumlah wilayah, aktivitas pertanian menyatu dengan festival, ritual adat, dan tradisi masyarakat. Pelestarian budaya justru menjadi kunci utama keberlanjutan sistem pertanian tersebut.

Penelitian juga menemukan bahwa status sebagai kawasan pertanian warisan dunia memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Setelah memperoleh pengakuan internasional, banyak komunitas merasakan meningkatnya rasa bangga terhadap identitas lokal, tumbuhnya kerja sama antarmasyarakat, serta meningkatnya perhatian dari pihak luar.

Di beberapa wilayah, pengakuan tersebut juga mendorong pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melindungi lanskap pertanian beserta warisan budayanya.

Selain itu, produk seperti minyak zaitun dan teh memperoleh nilai ekonomi lebih tinggi berkat sertifikasi dan meningkatnya sektor wisata berbasis pertanian.

Meski demikian, sistem pertanian tradisional menghadapi berbagai tantangan serius. Salah satu ancaman terbesar adalah semakin sedikitnya generasi muda yang bersedia menjadi petani.

Banyak anak muda memilih pindah ke perkotaan, sementara petani yang tersisa semakin menua tanpa penerus.

Perubahan iklim juga menjadi ancaman nyata. Curah hujan yang tidak menentu, kekeringan berkepanjangan, dan degradasi tanah telah menyebabkan penurunan hasil panen di berbagai wilayah.

Sebagian petani bahkan mulai mengganti jenis tanaman untuk beradaptasi dengan kondisi iklim yang berubah.

Para peneliti mengingatkan bahwa hilangnya satu kawasan pertanian warisan tidak hanya berarti berkurangnya produksi pangan, tetapi juga hilangnya pengetahuan lokal, budaya, serta keanekaragaman hayati yang telah diwariskan selama berabad-abad. (*)

Penelitian lengkapnya telah dipublikasikan dalam jurnal Ecology and Societ.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Pertanian Tradisional Ketahanan Pangan Pelestarian Alam

Terkini | Selasa, 23/06/2026 01:42 WIB

Terpopuler

Humanika

Selasa, 23/06/2026 01:01 WIB

23 Juni 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini

Senin, 22/06/2026 08:01 WIB

Kapan Puasa Tasua dan Asyura 2026?

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777