Iulustrasi susu (foto: Pexels/Meruyert Gonullu)
Jakarta, Jurnas.com - Selama puluhan tahun, peternak sapi perah mengetahui bahwa cuaca panas dan kelembapan tinggi dapat menurunkan produksi susu. Namun, penelitian terbaru menemukan ancaman lain bahwa suhu panas juga dapat menurunkan kualitas susu.
Studi yang dilakukan peneliti dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, mengungkap bahwa stres panas (heat stress) tidak hanya membuat sapi menghasilkan lebih sedikit susu, tetapi juga menyebabkan susu menjadi lebih encer karena kandungan lemak dan proteinnya menurun.
"Pengenceran komponen bernilai tinggi dalam susu akibat panas selama ini terjadi di bawah radar," kata ekonom pertanian Universitas Cornell, Ariel Ortiz-Bobea, yang memimpin penelitian tersebut dikutip dari Earth, Senin (22/6).
Untuk mengungkap dampak perubahan iklim terhadap kualitas susu, tim peneliti menganalisis data produksi dari sekitar 6,5 juta sapi perah di Amerika Serikat sepanjang 2007 hingga 2016.
Data tersebut dipadukan dengan informasi cuaca lokal beresolusi tinggi di hampir seluruh wilayah AS, menghasilkan sekitar 120 juta titik data.
Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi susu relatif stabil hingga suhu dan kelembapan mencapai ambang tertentu. Setelah melewati batas tersebut, volume susu turun drastis.
Namun, yang mengejutkan, kandungan lemak dan protein dalam susu ternyata mulai menurun jauh lebih awal, bahkan saat volume susu masih normal.
"Pada hari dengan suhu sekitar 15 hingga 25 derajat Celsius, produksi susu belum terdampak, tetapi susu mulai mengalami pengenceran secara bertahap," ujar Ortiz-Bobea.
Artinya, kerusakan kualitas susu dapat terjadi bahkan pada hari-hari yang tidak dianggap terlalu panas.
Di Amerika Serikat, harga susu tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi, tetapi juga oleh kandungan lemak dan protein di dalamnya. Karena itu, penurunan kualitas susu berdampak langsung terhadap pendapatan peternak.
Penelitian menemukan bahwa kenaikan 10 poin pada indeks suhu dan kelembapan dapat menurunkan produksi susu lebih dari 1 persen dalam setahun. Namun, pendapatan peternak justru bisa turun hingga hampir 3 persen.
Jika dihitung secara nasional, kerugian industri susu AS diperkirakan mencapai sekitar 1,65 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp26 triliun per tahun.
"Penurunan kualitas susu pada dasarnya menggandakan kerugian yang selama ini diperkirakan," kata Ortiz-Bobea.
Penelitian juga menemukan bahwa sapi perah modern belum menunjukkan kemampuan adaptasi yang memadai terhadap suhu panas.
Para peneliti tidak menemukan perbedaan signifikan dalam respons terhadap panas berdasarkan usia sapi, ukuran peternakan, maupun lokasi geografis.
Menurut tim peneliti, selama beberapa dekade industri peternakan lebih berfokus pada peningkatan produktivitas susu dibandingkan ketahanan terhadap panas.
Akibatnya, sapi memang mampu menghasilkan lebih banyak susu, tetapi menjadi lebih rentan terhadap perubahan iklim.
Satu-satunya strategi adaptasi yang terlihat adalah memindahkan peternakan ke wilayah yang lebih sejuk. Hal inilah yang menjelaskan mengapa banyak peternakan sapi perah terkonsentrasi di negara bagian utara seperti New York dan Wisconsin.
Temuan terbaru ini diperkirakan akan mengubah cara industri peternakan memandang dampak perubahan iklim.
Selama ini, kerugian akibat panas hanya dihitung berdasarkan penurunan volume produksi. Kini, para ilmuwan menegaskan bahwa kualitas susu juga harus menjadi perhatian utama.
Peneliti berharap program pemuliaan ternak di masa depan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memilih sapi yang mampu mempertahankan kadar lemak dan protein susu saat menghadapi suhu tinggi.
Bagi para peternak, studi ini menjadi peringatan bahwa ancaman perubahan iklim tidak hanya datang saat gelombang panas ekstrem, tetapi juga pada hari-hari biasa yang selama ini dianggap aman.
Dengan suhu global yang terus meningkat, kemampuan beradaptasi terhadap panas diperkirakan akan menjadi faktor penting bagi keberlanjutan industri susu dunia.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Environmental Research Letters. (*)
Senin, 22/06/2026 19:06 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:26 WIB
Sabtu, 13/06/2026 05:40 WIB