Ilustrasi - sembilan negara yang menggunakan mata uang Dolar AS (Foto: BENOIT PEYRUCQ/AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Dolar Amerika Serikat (AS) dikenal luas sebagai mata uang utama dalam transaksi perdagangan internasional sekaligus mata uang cadangan terbesar di dunia.
Namun, tahukah Anda bahwa popularitas greenback tidak hanya sebatas itu?
Banyak negara berdaulat di luar wilayah hukum Amerika Serikat yang memilih melepas mata uang nasional mereka dan meresmikan dolar AS sebagai alat pembayaran yang sah.
Fenomena ini dikenal dalam dunia ekonomi sebagai dolarisasi penuh (official dollarization).
Mengutip dari berbagai sumber, terdapat setidaknya sembilan negara berdaulat di luar AS yang menggunakan dolar AS sebagai mata uang resmi mereka.
Langkah ini umumnya diambil demi menekan inflasi yang ekstrem, memulihkan stabilitas makroekonomi setelah krisis hebat, atau karena faktor historis ikatan politik masa lalu.
Negara di Amerika Selatan ini resmi melakukan dolarisasi pada tahun 2000. Langkah radikal ini diambil setelah Ekuador dihantam krisis ekonomi hebat yang meruntuhkan nilai mata uang asli mereka sebelumnya, sucre.
Penggunaan dolar AS terbukti sukses menjinakkan hiperinflasi dan membawa stabilitas ekonomi jangka panjang bagi negara tersebut.
Menyusul jejak Ekuador, El Salvador mengadopsi dolar AS sebagai mata uang resmi pada tahun 2001 melalui Undang-Undang Integrasi Moneter.
Kebijakan ini diterapkan untuk mempermudah transaksi perdagangan dengan AS, yang merupakan mitra dagang terbesar mereka, serta menarik investasi asing.
Meskipun kini El Salvador juga meresmikan Bitcoin, dolar AS tetap menjadi alat pembayaran utama yang mendominasi kehidupan sehari-hari warganya.
Panama memiliki sejarah dolarisasi tertua. Negara yang terkenal dengan terusannya ini telah menggunakan dolar AS mendampingi mata uang lokal mereka, balboa, sejak tahun 1904 atau tepat setelah merdeka dari Kolombia. Di Panama, nilai 1 balboa dipatok setara (1:1) dengan 1 dolar AS.
Menariknya, pemerintah setempat tidak mencetak uang kertas balboa sendiri, melainkan hanya menggunakan uang kertas dolar AS untuk transaksi harian, sementara balboa hanya beredar dalam bentuk koin.
Tetangga dekat Indonesia ini memilih menggunakan dolar AS sebagai mata uang resmi tak lama setelah meraih kemerdekaannya.
Sejak tahun 2000, di bawah pemerintahan transisi PBB (UNTAET), dolar AS ditetapkan sebagai alat pembayaran sah untuk memulihkan perekonomian pasca-konflik.
Untuk melengkapinya, Timor Leste menerbitkan koin centavo sendiri yang nilainya setara dengan sen dolar AS untuk memfasilitasi kembalian transaksi kecil.
Kisah dolarisasi Zimbabwe berakar dari salah satu tragedi hiperinflasi terparah dalam sejarah modern dunia. Pada tahun 2009, mata uang dolar Zimbabwe kehilangan nilainya sama sekali akibat cetak uang massal yang tak terkendali.
Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menghentikan penggunaan mata uang lokal dan mengizinkan peredaran mata uang asing secara resmi, dengan dolar AS sebagai tulang punggung utama transaksi domestik mereka hingga hari ini.
Negara kepulauan indah yang terletak di Samudra Pasifik ini tidak menerbitkan mata uangnya sendiri sejak merdeka pada tahun 1994.
Sebagai mantan wilayah perwalian yang diadministrasikan oleh Amerika Serikat pasca-Perang Dunia II, Palau memilih untuk terus mempertahankan dolar AS sebagai mata uang resmi mereka guna menjaga kestabilan ekonomi mikronya.
Sama seperti Palau, Federasi Mikronesia merupakan negara kepulauan di Pasifik yang dulunya berada di bawah naungan Trust Territory of the Pacific Islands yang dikelola AS.
Ketika memperoleh kemerdekaan penuh, mereka memutuskan untuk tidak repot-repot mencetak mata uang nasional baru dan secara resmi mengadopsi dolar AS sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah.
Melengkapi jajaran negara Pasifik eks-perwalian AS, Kepulauan Marshall juga meresmikan dolar AS sebagai mata uang nasional mereka sejak tahun 1944.
Ketergantungan ekonomi yang kuat pada bantuan dana serta program kemitraan Compact of Free Association dengan Amerika Serikat membuat penggunaan dolar AS dinilai jauh lebih stabil dan efisien.
Secara hukum (de jure), mata uang resmi Kamboja adalah riel. Namun, secara realitas di lapangan (de facto), sistem ekonomi Kamboja telah mengalami dolarisasi tingkat tinggi sejak tahun 1990-an ketika otoritas PBB (UNTAC) mengalirkan jutaan dolar untuk bantuan kemanusiaan.
Saat ini, hampir semua transaksi besar, harga di supermarket, menu restoran, gaji karyawan swasta, hingga penarikan ATM di Kamboja menggunakan pecahan dolar AS, sementara mata uang riel hanya digunakan sebagai kembalian untuk nominal di bawah 1 dolar AS.
Senin, 08/06/2026 23:24 WIB
Senin, 08/06/2026 22:12 WIB
Jum'at, 29/05/2026 14:53 WIB
Selasa, 09/06/2026 03:03 WIB
Senin, 08/06/2026 13:10 WIB