Ilustrasi - ini sejarah dari peringatan Hari Aspal Sedunia setiap 15 Mei (Foto istimewa)
Jakarta, Jurnas.com - Di balik megahnya jalan tol yang membentang dan mulusnya akses transportasi antar-kota, terdapat satu material yang sering terlupakan namun menjadi tulang punggung mobilitas dunia: aspal.
Setiap tanggal 15 Mei, komunitas infrastruktur dan teknik sipil global memperingati Hari Aspal Sedunia (World Asphalt Day).
Peringatan ini bukan sekadar merayakan material konstruksi, melainkan sebuah penghormatan terhadap inovasi manusia yang berhasil menghubungkan peradaban melalui jalur darat yang mumpuni.
Penggunaan aspal sebenarnya telah tercatat sejak ribuan tahun silam. Berbagai sumber sejarah mencatat bahwa bangsa Sumeria di Mesopotamia menggunakan bitumen alami sebagai perekat batu bata dan pelapis kedap air pada kapal sekitar 6.000 tahun sebelum masehi.
Namun, revolusi aspal sebagai pengeras jalan baru dimulai secara masif pada abad ke-19. Sejarah mencatat nama John Loudon McAdam, seorang insinyur Skotlandia, yang mengembangkan metode macadam menggunakan lapisan batu pecah.
Meski belum menggunakan aspal seperti sekarang, inovasi McAdam menjadi fondasi bagi Edward de Smedt, seorang ahli kimia Belgia yang mematenkan perkerasan aspal modern pertama di Amerika Serikat pada tahun 1870.
Penerapan pertama aspal modern dilakukan di depan Balai Kota Newark, New Jersey, yang kemudian disusul oleh pembangunan Pennsylvania Avenue di Washington D.C. pada tahun 1876. Momentum inilah yang menjadi tonggak sejarah aspal sebagai standar global pembangunan jalan.
Meskipun tidak memiliki satu narasi tunggal mengenai pendiri resminya, tanggal 15 Mei dipilih oleh berbagai asosiasi pengembang aspal dunia sebagai momen untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pemeliharaan jalan.
Kamis, 14/05/2026 20:18 WIB
Jum'at, 15/05/2026 05:41 WIB
Jum'at, 15/05/2026 02:02 WIB