Pendatang Israel di kawasan Palestina (Foto: AFP)
Yerusalem, Jurnas.com - Ribuan nasionalis Israel menggelar pawai tahunan melewati kawasan Muslim di Kota Tua Yerusalem pada Kamis (14/5), di bawah pengamanan super ketat.
Acara ini merupakan perayaan utama Hari Yerusalem untuk memperingati keberhasilan Israel merebut wilayah timur kota tersebut dalam perang hampir enam dekade silam.
Bagi warga Israel, pawai ini adalah simbol kedaulatan, namun warga Palestina menganggapnya sebagai provokasi terang-terangan yang bertujuan merusak ikatan sejarah mereka dengan Yerusalem.
Otoritas Israel mengerahkan ribuan petugas polisi, termasuk pasukan antihuru-hara, di titik-titik krusial seperti Gerbang Damaskus yang merupakan pintu masuk utama menuju kawasan Muslim.
Polisi memasang barikade di sekitar area tersebut dan melarang warga Palestina yang tidak tinggal di Kota Tua untuk masuk. Selain itu, para pedagang Palestina di dalam Kota Tua mengaku dipaksa menutup toko mereka demi keamanan sebelum iring-iringan peserta pawai melintas.
“Yerusalem adalah kota suci kami. Ini adalah kota suci kami selamanya,” ujar Shira Gefen, salah satu peserta pawai berusia 53 tahun dari Haifa, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Pawai ini kerap menjadi pemicu ketegangan tinggi karena kelompok Yahudi ultra-nasionalis seringkali meneriakkan slogan-slogan rasis saat melintasi area pemukiman Palestina.
Rute pawai dimulai dari Yerusalem Barat dan berakhir di Tembok Ratapan, sebuah situs suci yang berdekatan dengan kompleks Al-Haram Al-Sharif atau Masjid Al-Aqsa. Kawasan ini merupakan titik paling sensitif dalam konflik berkepanjangan antara kedua belah pihak.
Israel merebut Yerusalem Timur pada perang tahun 1967 dan kemudian menganeksasinya, sebuah langkah yang hingga kini tidak diakui oleh PBB dan sebagian besar negara di dunia.
Bagi warga Palestina, prosesi ini adalah bagian dari kampanye sistematis untuk memperkuat kehadiran Yahudi di seluruh penjuru kota, yang didambakan sebagai ibu kota masa depan negara Palestina merdeka.