Anak-anak Afganistan berjalan di gurun pasir (Foto: AFP)
New York, Jurnas.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa satu juta anak di Afganistan terancam tidak mendapatkan bantuan pangan akibat lonjakan harga dan biaya transportasi yang dipicu oleh konflik dengan Pakistan serta perang Iran.
Carl Skau, Wakil Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP), menyatakan bahwa Afganistan saat ini tengah menghadapi krisis nutrisi yang jauh lebih buruk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Lonjakan kasus malnutrisi pada 2025 memecahkan rekor setelah negara tersebut dihantam gempa bumi mematikan, bencana iklim, serta kembalinya jutaan pengungsi yang diusir dari Iran dan Pakistan.
WFP memperkirakan bahwa tahun ini sekitar lima juta perempuan dan anak-anak di Afganistan akan mengalami tingkat malnutrisi yang mengancam jiwa. Situasi ini diperparah oleh penutupan perbatasan dengan Pakistan yang telah berlangsung selama hampir delapan bulan, serta dampak ekonomi global dari perang Iran yang mengacaukan rantai pasokan pangan dan bahan bakar.
“Jika kami tidak kesulitan dengan rantai pasokan, baik keterlambatan maupun biaya, kami akan mampu memberi makan satu juta lebih anak di sini di Afganistan,” ujar Carl Skau dikutip dari AFP pada Kamis (14/5).
Skau mencontohkan ribuan ton biskuit bergizi untuk anak sekolah yang seharusnya dikirim melalui Pakistan. Karena perbatasan ditutup, pasokan dialihkan melalui Dubai dan Iran. Namun, pecahnya konflik di Timur Tengah memaksa bantuan tersebut memutar melewati tujuh negara, termasuk Arab Saudi, Turki, Georgia, dan Turkmenistan.
Meskipun bantuan tersebut dijadwalkan tiba minggu ini, prosesnya memakan waktu berbulan-bulan dengan biaya yang jauh lebih mahal daripada situasi normal sebelumnya.
Kondisi lapangan semakin memprihatinkan karena penggalangan dana internasional sangat sulit dilakukan. WFP baru berhasil mengumpulkan delapan persen dari target dana tahun ini untuk Afganistan.
Skau menceritakan pengalaman pahit melihat antrean panjang perempuan yang menggendong anak-anak dengan malnutrisi akut, namun harus pulang dengan tangan hampa dari klinik pedesaan karena bantuan tidak tersedia. Menurutnya, dunia harus sepakat bahwa tidak boleh ada anak yang meninggal karena kelaparan di tengah konflik yang terus berkecamuk.