Peringatan Hari Lupus Sedunia (Foto: Udana)
Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 10 Mei, dunia memperingati Hari Lupus Sedunia atau World Lupus Day.
Momentum internasional ini menjadi pengingat bahwa lupus masih menjadi salah satu penyakit autoimun yang sering terlambat terdeteksi, meski dampaknya dapat menyerang berbagai organ tubuh dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Peringatan Hari Lupus Sedunia pertama kali digaungkan pada tahun 2004 oleh berbagai organisasi kesehatan global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lupus, sekaligus mendorong dukungan penelitian dan akses layanan kesehatan bagi para penyintas.
Hingga kini, kampanye tersebut terus dilakukan di banyak negara melalui edukasi publik, seminar kesehatan, hingga aksi solidaritas komunitas pasien.
Menurut data dari World Health Organization, penyakit autoimun seperti lupus dapat menyerang siapa saja, namun lebih banyak dialami perempuan usia produktif.
Lupus terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang jaringan dan organ sehat. Kondisi ini dapat memengaruhi kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga sistem saraf.
Gejala lupus sering kali menyerupai penyakit lain sehingga banyak pasien terlambat mendapatkan diagnosis.
8 Mei 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini
Beberapa tanda umum yang kerap muncul antara lain kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam merah di wajah berbentuk kupu-kupu, demam berulang, serta rambut rontok. Karena sifatnya yang kompleks, lupus sering dijuluki sebagai penyakit seribu wajah.
Berdasarkan informasi dari World Lupus Federation, jutaan orang di dunia hidup dengan lupus dan masih menghadapi tantangan berupa minimnya pemahaman masyarakat, keterbatasan akses pengobatan, hingga stigma sosial.
Organisasi tersebut menekankan pentingnya diagnosis dini agar pasien dapat memperoleh penanganan yang tepat sebelum terjadi kerusakan organ permanen.
Di Indonesia, perhatian terhadap lupus juga terus meningkat. Komunitas pendamping pasien dan tenaga medis aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mengenali gejala awal penyakit autoimun.
Sejumlah rumah sakit dan organisasi kesehatan secara rutin mengadakan pemeriksaan kesehatan, seminar, serta kampanye media sosial setiap peringatan Hari Lupus Sedunia.
Dokter spesialis penyakit dalam menyebut pengelolaan lupus memerlukan pendekatan jangka panjang. Pasien umumnya membutuhkan kombinasi obat, pola hidup sehat, pengendalian stres, serta pemantauan medis rutin.
Meski belum dapat disembuhkan sepenuhnya, banyak penyintas lupus tetap mampu menjalani aktivitas normal dengan pengobatan yang tepat.
Peringatan Hari Lupus Sedunia juga menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Penyintas lupus tidak hanya menghadapi tantangan fisik, tetapi juga tekanan psikologis akibat penyakit kronis yang dapat kambuh sewaktu-waktu.
Melalui kampanye global setiap 10 Mei, masyarakat diajak memahami bahwa lupus bukan penyakit menular dan para penyintas membutuhkan empati, akses kesehatan yang baik, serta ruang sosial yang mendukung.
Kesadaran publik yang meningkat diharapkan mampu membantu lebih banyak pasien mendapatkan diagnosis lebih cepat dan kualitas hidup yang lebih baik.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Hari Lupus Sedunia 10 Mei World Lupus Day Peringatan Internasional Kalender Peringatan
























