https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Dipakai Prabowo di Sidang PBB, Ini Sejarah Peci Hitam

Agus Mughni | Rabu, 24/09/2025 15:05 WIB



Belakangan ini, peci hitam kembali menjadi sorotan publik setelah dikenakan Presiden RI Prabowo Subianto dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York pada 23 September 2025. Presiden RI Prabowo Subianto. (Foto: Net)

Jakarta, Jurnas.com - Peci hitam, penutup kepala sederhana yang sering dikenakan dalam acara keagamaan, kenegaraan, hingga upacara kemerdekaan di Indonesia, ternyata menyimpan sejarah panjang yang melintasi peradaban, agama, dan politik. Di Indonesia, peci nampaknya telah menjelma dari simbol religius menjadi identitas nasional yang tak lekang oleh waktu.

Belakangan ini, peci hitam kembali menjadi sorotan publik setelah dikenakan Presiden RI Prabowo Subianto dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York pada 23 September 2025. Ia mengenakan peci hitam sejak tiba di arena sidang, didampingi para menteri yang juga turut memakai penutup kepala yang sama.

Penampilan ini tidak hanya mencuri perhatian audiens internasional, tetapi juga menuai respons luas dari publik Indonesia. Banyak yang menyebutnya sebagai bentuk keberlanjutan “diplomasi peci hitam” yang dulu digaungkan oleh Sukarno.

Baca juga :
Prabowo Jadi Presiden Pertama yang Paparkan KEM-PPKF di Paripurna

Dikutip dari berbagai sumber, Sukarno pertama kali memperkenalkan peci sebagai lambang kebangsaan dalam rapat Jong Java pada tahun 1921 di Surabaya. Ia memakainya sebagai simbol kepribadian Indonesia yang berdaulat dan bebas dari pengaruh budaya kolonial.

Peci yang dikenakan Sukarno bukan hanya pernyataan mode, tetapi sebuah deklarasi identitas politik. Ia berhasil menjadikan peci sebagai atribut nasional yang dikenakan bersama jas Eropa dalam forum-forum internasional.

Baca juga :
Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Rapat Paripurna DPR Bahas RAPBN 2027

Kini, lebih dari satu abad kemudian, gestur yang sama kembali dilakukan oleh seorang presiden Indonesia di panggung diplomasi dunia. Prabowo dan jajarannya menampilkan simbol kebangsaan itu di hadapan Majelis Umum PBB, seolah menggemakan kembali pesan lama dalam konteks baru.

Namun sejarah peci tidak bermula dari Sukarno. Jauh sebelumnya, peci telah masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dari Timur Tengah yang membawa ajaran Islam.

Baca juga :
Tujuh Peristiwa Bersejarah yang Terjadi di Bulan Zulhijjah

Para pedagang Arab awalnya mengenakan sorban sebagai penutup kepala, namun masyarakat setempat mulai mengadaptasi bentuk yang lebih praktis dan sederhana. Dari sanalah lahir bentuk peci yang kemudian menjadi lazim di Indonesia, Malaysia, dan Brunei.

Penutup kepala sejenis juga dapat ditemukan di banyak budaya lain. Fez di Turki, tarboosh di Mesir, dan rumi cap di India adalah contoh bagaimana peci memiliki akar universal yang kemudian dibentuk oleh konteks lokal masing-masing wilayah.

Di Jawa, peci mulai dikenal pada abad ke-15 melalui lembaga pendidikan Islam seperti Madrasah Giri. Raja Ternate Zainal Abidin bahkan membawa peci sebagai oleh-oleh spiritual saat kembali dari Jawa ke Maluku.

Peci pada masa itu begitu bernilai hingga bisa ditukar dengan cengkih dan rempah-rempah. Ini menunjukkan bahwa peci bukan sekadar simbol keagamaan, tetapi juga tanda status sosial dan budaya.

Saat kolonialisme Belanda masuk ke Jawa, upaya mengganti pakaian tradisional dengan gaya Barat semakin kuat. Namun peci dan blangkon tetap bertahan sebagai identitas lokal yang tidak mudah tergeser.

Di kalangan bangsawan Jawa, peci bahkan menjadi bentuk resistensi terhadap dominasi budaya kolonial. Sejarawan Denys Lombard mencatat bahwa peci tetap dikenakan sebagai lambang harga diri dan kesinambungan tradisi.

Transformasi peci dari simbol religius menjadi lambang kenegaraan dimulai dari keberanian Sukarno. Ia bukan tokoh pertama yang mengenakannya, namun ia yang pertama mengartikulasikan peci sebagai simbol politik kebangsaan.

Dalam berbagai peristiwa penting, dari pembacaan proklamasi hingga pidato kenegaraan, peci hitam selalu berada di kepala Sukarno. Ia menempatkan peci di titik tertinggi dari konstruksi identitas Indonesia merdeka.

Peci pun menjelma pakaian nasional yang hadir di pelantikan presiden, sidang DPR, dan berbagai acara kenegaraan. Ia menjadi bagian dari narasi kolektif bangsa, dikenakan oleh rakyat dan pemimpin dengan makna yang sama: kebanggaan.

Dalam kehidupan beragama, peci juga tetap memegang peranan penting. Ia digunakan dalam salat sebagai bagian dari sunah Nabi Muhammad SAW dan dianggap sebagai simbol kesopanan serta ketundukan spiritual.

Kini peci hadir dalam berbagai bentuk dan bahan. Ada peci putih khas jemaah haji, peci rotan dari daerah pedesaan, hingga peci beludru hitam yang kini menjadi bagian dari protokol resmi negara.

Perjalanan peci adalah cermin dari proses panjang akulturasi dan identitas yang terus dibentuk ulang oleh zaman. Ia lahir dari interaksi antarbangsa, berkembang bersama agama, dan akhirnya ditanamkan dalam jiwa kebangsaan. (*)

 

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Peci Hitam Prabowo Subianto Sidang PBB Sejarah Diplomasi peci hitam

Terkini | Kamis, 06/08/2026 17:22 WIB

News

Baleg DPR: Investor dan Penambang Wajib Kantongi Izin Masyarakat Adat

News

KPK Panggil Anggota DPRD Kaltim Sarkowi terkait Kasus Rita Widyasari

Gaya Hidup

Program Ini Dorong UKM untuk Hadirkan Sustainable yang Kreatif

News

KPK Sita Rp9,5 Miliar dari Pengembangan Suap Restitusi Pajak Banjarmasin

News

Rieke: Putusan Sela Kasus Vidi Jadi Koreksi Penting bagi Penegakan Hukum

Gaya Hidup

Penelitian Ungkap Minum Air Saat Makan Cenderung Makan Lebih Banyak

Gaya Hidup

Super El Nino Berpotensi Picu Perubahan Iklim Permanen: Kita Perlu Waspada

News

Dugaan Pelecehan Pasien BPJS oleh Oknum Nakes Harus Diusut Tuntas

News

Iran Ancam Serang Negara Teluk jika AS Lancarkan Serangan Baru

News

Ledia Hanifa: Sensus Ekonomi Fondasi Kebijakan Pembangunan Tepat Sasaran

News

Usai 10 Tahun, Bandara Deir Ezzor Suriah Beroperasi Kembali

News

Ketua Banggar DPR Dorong Penguatan Sektor Industri dan Pertanian

News

Kementerian PU Optimalkan Pembangunan Infrastruktur Dukung Program Presiden

News

Pasukan Israel Serbu Pengungsi Qalandia, Tangkap Puluhan Warga Palestina

News

800 Ribu Pengungsi Perang Lebanon Mulai Kembali ke Kampung Halaman

Humanika

Tidak Sempurna Iman Seseorang Jika Belum Memiliki Sikap Ini

News

Menkeu: Presiden Perintahkan Stimulus Antisipasi Dampak El Nino Disiapkan

News

Menaker: ASN Kemnaker Harus Hadirkan Dampak Nyata bagi Masyarakat

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777