Arsip foto - Pengungsi menyeberang di perbatasan Suriah-Lebanon (Foto: Reuters)
Beirut, Jurnas.com - Lebih dari 800.000 warga yang terpaksa mengungsi akibat kecamuk perang di Lebanon dilaporkan mulai kembali ke kampung halaman mereka menyusul meredanya gelombang kekerasan dalam konflik Israel-Hizbullah, demikian dikonfirmasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pengumuman yang dirilis Badan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada Selasa (4/8) malam tersebut bertepatan dengan dimulainya babak baru perundingan antara Lebanon dan Israel yang dimediasi Amerika Serikat di Roma hingga Kamis mendatang guna mengakhiri pertempuran.
OCHA mencatat bahwa "sebanyak 821.077 orang telah memulai proses kembali ke daerah asal mereka per 30 Juli." Meski demikian, lembaga tersebut menambahkan bahwa lebih dari 360.000 warga masih mengungsi, di mana sekitar 26.000 di antaranya bertempat tinggal di posko pengungsian milik pemerintah.
Hizbullah menyeret Lebanon ke dalam eskalasi perang kawasan Timur Tengah pada Maret lalu dengan meluncurkan roket ke arah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap sekutunya, Iran.
Israel merespons langkah tersebut dengan melancarkan serangan udara masif serta invasi darat. Otoritas Lebanon menyebut aksi militer Israel telah menewaskan lebih dari 4.300 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi pada puncak krisis.
Intensitas kekerasan mulai menurun sejak penandatanganan kesepakatan awal antara AS dan Iran terkait konflik regional yang mencakup gencatan senjata di Lebanon pada Juni lalu, yang dilanjutkan dengan kesepakatan bilateral antara Israel dan Lebanon yang ditengahi Washington.
Kendati demikian, Lebanon masih melaporkan terjadinya gempuran udara dan penembakan artileri berkala dari pihak Israel, serta peledakan bahan peledak dan pembongkaran bangunan di desa-desa wilayah selatan, seiring tentara Israel yang masih menduduki sebagian kawasan tersebut.
OCHA mengungkapkan bahwa kerugian akibat kerusakan infrastruktur air dan listrik imbas perang telah mengganggu akses air bersih secara parah bagi lebih dari 700.000 warga di Lebanon selatan—wilayah asal mayoritas pengungsi.
Dalam perundingan di Washington pada Juni lalu, Israel dan Lebanon sejatinya telah menyepakati kerangka kerja yang mencakup pelucutan senjata Hizbullah, penarikan bertahap pasukan Israel dari Lebanon selatan, serta penempatan tentara nasional Lebanon di wilayah tersebut yang dimulai dari kawasan percontohan (pilot zones).
Namun, kelompok Hizbullah menolak kesepakatan tersebut dan enggan menyerahkan senjata mereka. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa negosiasi langsung tersebut tidak akan membawa "apa pun selain kehinaan, penghinaan, dan kompromi beruntun" bagi Lebanon.
Kamis, 06/08/2026 11:05 WIB
Selasa, 04/08/2026 14:16 WIB
Rabu, 05/08/2026 18:15 WIB