Ilustrasi - Kubah Bom Atom Hiroshima, simbol peringatan tragedi nuklir (Foto: Japanese Station)
Jakarta, Jurnas.com - Masyarakat internasional kembali mengenang salah satu tragedi kemanusiaan terkelam dalam sejarah modern melalui peringatan jatuhnya bom atom di kota Hiroshima, Jepang.
Tepat pada 6 Agustus 1945 pukul 08.15 waktu setempat, pesawat pengebom Amerika Serikat B-29 Enola Gay menjatuhkan bom uranium bernamakan Little Boy yang meluluhlantakkan kota tersebut dalam hitungan detik.
Ledakan dahsyat tersebut merenggut sekitar 140.000 jiwa hingga akhir tahun 1945 dan meninggalkan luka radiasi berkepanjangan bagi para penyintas yang dikenal sebagai hibakusha.
Dihimpun dari berbagai sumber, Upacara Peringatan Perdamaian tahunan yang digelar di Taman Monumen Perdamaian Hiroshima senantiasa diwarnai dengan momen keheningan cipta serentak pada jam tepat terjadinya ledakan.
Dalam pidato deklarasi perdamaian, Wali Kota Hiroshima bersama Perdana Menteri Jepang secara konsisten menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan geopolitik dan risiko konflik senjata nuklir di tingkat global.
Peringatan ini tidak hanya berfokus pada duka masa lalu, tetapi juga menjadi panggung desakan keras agar negara-negara pemilik senjata nuklir segera menghentikan doktrin penangkalan nuklir dan beralih ke perlucutan senjata secara menyeluruh.
Suara para penyintas (hibakusha) yang populasinya kian menyusut seiring berjalannya waktu menjadi inti penting dalam penuturan sejarah ini kepada generasi muda.
Melalui pameran arsip, penulisan kesaksian, serta tradisi melepaskan ribuan lentera kertas bermuatan doa di Sungai Motoyasu pada malam harinya, dunia diingatkan akan dampak destruktif dari perang nuklir.
Peringatan tragedi Hiroshima berdiri sebagai alarm abadi bagi peradaban manusia bahwa tragedi kelam 81 tahun silam tersebut tidak boleh terulang kembali di masa depan.
Selasa, 04/08/2026 14:16 WIB
Rabu, 05/08/2026 18:15 WIB