Ilustrasi seorang petani memandang lahan pertanian yang mengering akibat perubahan iklim, suhu panas ekstrem (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Super El Nino yang diperkirakan menguat dalam beberapa bulan ke depan bukan hanya berpotensi memicu gelombang panas ekstrem, tetapi juga dikhawatirkan mendorong sejumlah ekosistem penting dunia melewati titik kritis yang sulit dipulihkan.
Peringatan tersebut disampaikan peneliti perubahan iklim dari Seoul National University, Prof. Jong-Seong Kug. Menurutnya, Super El Nino tidak selalu menyebabkan perubahan iklim permanen, tetapi dapat menjadi pemicu ketika ekosistem sudah berada dalam kondisi tertekan akibat pemanasan global.
"Kita perlu waspada, tetapi tidak perlu bersikap alarmis. Super El Nino dapat mendorong ekosistem yang sudah tertekan melewati ambang kritis sehingga memicu perubahan yang tidak dapat dipulihkan," kata Kug.
El Nino merupakan fase hangat dari siklus iklim alami di Samudra Pasifik yang terjadi setiap beberapa tahun. Namun, sejumlah model iklim menunjukkan fenomena yang berkembang tahun ini berpotensi menjadi Super El Nino dengan intensitas jauh lebih kuat dibandingkan biasanya.
Jika skenario tersebut terjadi, dampaknya diperkirakan tidak hanya meningkatkan suhu global hingga tahun depan, tetapi juga memperbesar risiko perubahan jangka panjang pada berbagai ekosistem.
Kug menyebut salah satu kawasan yang paling mengkhawatirkan adalah Hutan Amazon. Menurutnya, kawasan tersebut berisiko berubah menjadi lebih kering sehingga kehilangan fungsi pentingnya sebagai penyerap karbon dunia.
Ia menjelaskan bahwa apabila kekeringan terus memburuk, kematian vegetasi dapat mengubah Amazon dari penyerap karbon menjadi sumber emisi karbon. Kondisi itu berpotensi mempercepat pemanasan global bahkan setelah El Nino berakhir.
Selain Amazon, wilayah yang telah mengalami pemanasan ekstrem, kekeringan, degradasi ekosistem, maupun tekanan terhadap laut juga dinilai lebih rentan mengalami perubahan permanen apabila terdampak Super El Nino.
Menurut Kug, dunia tidak dapat menghentikan El Nino karena merupakan fenomena alami. Namun, dampaknya terhadap manusia dan lingkungan masih bisa dikurangi melalui langkah antisipasi.
Ia mendorong pemerintah memanfaatkan prakiraan cuaca yang lebih akurat untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi gelombang panas, mengelola sumber daya air dan pangan, serta meningkatkan mitigasi kebakaran hutan maupun banjir.
Dalam jangka panjang, ia menegaskan pengurangan emisi gas rumah kaca tetap menjadi langkah paling penting.
"Setiap kenaikan suhu global akan meningkatkan kemungkinan peristiwa alam ekstrem memicu kerusakan yang berlangsung lama," ujarnya.
Kug mengakui upaya menekan emisi global masih menghadapi tantangan besar. Karena itu, ia menilai dunia kemungkinan akan mulai mempertimbangkan teknologi rekayasa iklim apabila kondisi semakin kritis.
Salah satu teknologi yang banyak dibahas ialah penyuntikan aerosol ke lapisan stratosfer untuk memantulkan sebagian radiasi Matahari sehingga suhu Bumi dapat turun. Prinsipnya menyerupai efek pendinginan yang terjadi setelah letusan gunung berapi besar.
Namun, ia mengingatkan teknologi tersebut masih menyimpan banyak ketidakpastian, termasuk potensi memicu ketimpangan iklim antarnegera berupa kekeringan atau banjir di wilayah tertentu.
Menurutnya, penerapan rekayasa iklim memerlukan kesepakatan internasional karena dampaknya tidak akan dirasakan secara merata.
Kug menilai Super El Nino tahun ini berkembang ketika suhu global sudah berada pada tingkat yang sangat tinggi. Karena itu, fenomena tersebut berpotensi memperbesar peluang terjadinya cuaca ekstrem di berbagai kawasan.
Meski tidak semua gelombang panas atau bencana iklim dapat dikaitkan langsung dengan El Nino, ia menegaskan dunia perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai dampak yang mungkin muncul dalam beberapa bulan mendatang
Kamis, 06/08/2026 11:51 WIB
Selasa, 04/08/2026 14:16 WIB
Rabu, 05/08/2026 18:15 WIB