Minggu, 02/08/2026 23:32 WIB

Studi Ungkap Perubahan Iklim Bikin Kehidupan di Kota Makin Tidak Setara





Memahami bagaimana panas dan cahaya matahari dirasakan dalam kehidupan sehari-hari sangat penting untuk menciptakan kota yang lebih inklusif dan adil

Ilustrasi dampak perubahan iklim (Foto: AFP/Jewel SAMAD)

Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim ternyata tidak berdampak sama bagi semua orang. Penelitian terbaru mengungkap bahwa gelombang panas, minimnya cahaya matahari, hingga kualitas lingkungan perkotaan justru memperlebar kesenjangan sosial, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan padat dan berpenghasilan rendah.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Urban Studies menyebut pengalaman menghadapi perubahan iklim sangat dipengaruhi oleh kondisi tempat tinggal, jenis pekerjaan, akses terhadap listrik, ruang hijau, hingga kualitas hunian. Artinya, dua orang yang tinggal di kota yang sama bisa merasakan dampak cuaca ekstrem dengan tingkat risiko yang sangat berbeda.

Dikutip dari Earth, penelitian ini dilakukan oleh Casper Ebbensgaard, dosen geografi manusia di University of East Anglia (UEA), bersama Kavita Ramakrishnan dari School of Global Development UEA.

Menurut para peneliti, suhu udara yang tercatat di stasiun cuaca tidak mampu menggambarkan kondisi nyata yang dialami masyarakat.

Seseorang yang bekerja di kantor ber-AC dan tinggal di rumah dengan pendingin udara tentu menghadapi risiko berbeda dibanding pekerja konstruksi, pedagang kaki lima, atau buruh harian yang harus beraktivitas di bawah terik matahari sebelum pulang ke rumah tanpa kipas angin atau pendingin ruangan.

"Perubahan iklim tidak dialami secara setara. Memahami bagaimana panas dan cahaya matahari dirasakan dalam kehidupan sehari-hari sangat penting untuk menciptakan kota yang lebih inklusif dan adil," kata Ebbensgaard.

Ia menilai faktor seperti kelas sosial, gender, hingga kondisi ekonomi sangat menentukan kemampuan seseorang menghadapi cuaca ekstrem.

Penelitian menyoroti gelombang panas ekstrem yang melanda Delhi, India, pada Mei hingga Juni 2024.

Saat itu suhu sempat tercatat mencapai 49,9 derajat Celsius, bahkan muncul angka 52,9 derajat Celsius yang kemudian diduga dipengaruhi gangguan alat ukur atau kondisi lokal.

Namun, bagi jutaan pekerja luar ruangan, suhu tersebut tetap menghadirkan ancaman serius.

Pekerja konstruksi, pedagang jalanan, hingga buruh harian harus tetap bekerja tanpa perlindungan dari terik matahari. Kondisi tersebut meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan, serangan panas (heatstroke), bahkan kematian.

Situasi diperparah oleh pemadaman listrik yang terjadi ketika konsumsi energi melonjak akibat cuaca panas.

Banyak rumah, terutama di kawasan permukiman informal, kehilangan pasokan listrik sehingga kipas angin maupun alat pendingin tidak dapat digunakan. Akibatnya, suhu di dalam rumah tetap tinggi sepanjang malam dan mengganggu waktu istirahat warga.

Jika Delhi menghadapi kelebihan panas, London justru mengalami persoalan berbeda.

Penelitian menemukan pembangunan gedung-gedung bertingkat membuat banyak rumah kehilangan akses terhadap cahaya matahari alami.

Kondisi ini paling banyak dirasakan penghuni perumahan sosial dan kelompok rentan. Sebagian bahkan mengaku tidak lagi dapat melihat langit dari jendela rumah mereka.

Padahal, cahaya matahari berperan penting mengatur ritme biologis tubuh, termasuk kualitas tidur, keseimbangan hormon, energi, hingga kesehatan mental.

Kurangnya paparan cahaya alami dalam jangka panjang dikaitkan dengan meningkatnya gangguan tidur dan menurunnya kesejahteraan psikologis.

Para peneliti menilai pembangunan kota selama ini lebih banyak menitikberatkan pada jumlah bangunan, kapasitas hunian, maupun pertumbuhan ekonomi.

Padahal, aspek kesehatan dan pengalaman hidup masyarakat sering kali terabaikan.

Di London, kelompok masyarakat dan organisasi warga berhasil mengubah cara pandang terhadap pembangunan dengan menempatkan akses terhadap cahaya matahari sebagai bagian dari hak dasar yang berkaitan dengan kesehatan.

Menurut Ebbensgaard, pendekatan tersebut membuat diskusi pembangunan tidak lagi hanya berbicara soal angka, tetapi juga kualitas hidup masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Ramakrishnan mengatakan perubahan iklim menunjukkan bahwa ketahanan kota tidak cukup diukur melalui data suhu, curah hujan, atau tingkat polusi.

Menurutnya, kualitas rumah, keberadaan ruang hijau, akses listrik, pola kerja, hingga tata ruang lingkungan menjadi faktor yang menentukan apakah seseorang mampu menghadapi perubahan iklim atau justru menjadi kelompok paling rentan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi menghadapi perubahan iklim seharusnya menempatkan pengalaman masyarakat sebagai pusat perencanaan kota.

Dengan pendekatan tersebut, kebijakan pembangunan tidak hanya membuat kota lebih modern, tetapi juga lebih adil dan mampu melindungi seluruh warganya di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Perubahan Iklim Cahaya Matahari Kesenjangan Sosial kehidupan di Kota




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :