Selasa, 15/09/2026 21:16 WIB

AI Ancam Keamanan Siber hingga Bikin Traffic Media Anjlok





Kehadiran AI memang tidak menciptakan jenis kejahatan siber yang sepenuhnya baru, namun mempercepat serangan yang sudah ada.

CTO & Co-Founder StartAlliance Global, Maxwell Scott (tengah) dan Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika dalam kegiatan Countering Digital Threats: Navigating AI and Fake Content di @america, Jakarta (Foto: Habib/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dinilai bisa menjadi pisau bermata dua jika digunakan secara tidak bijak di ruang digital.

Kehadiran AI memang tidak menciptakan jenis kejahatan siber yang sepenuhnya baru, namun mempercepat serangan yang sudah ada sekaligus memberikan alat canggih bagi peretas untuk membobol informasi penting publik.

Hal tersebut disampaikan oleh CTO & Co-Founder StartAlliance Global, Maxwell Scott usai kegiatan diskusi bertajuk Countering Digital Threats: Navigating AI and Fake Content di @america, Pacific Place Mall, Jakarta, pada Rabu (15/9).

"Semua itu bukanlah hal baru. Namun yang dilakukan AI adalah mempercepat hal tersebut dan memberikan mereka (peretas) alat baru untuk dapat mengakses informasi penting kita serta mengancam infrastruktur penting kita," kata Maxwell.

Kondisi ini kemudian memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan data pribadi masyarakat. Berbagai informasi sensitif kini dihadapkan dengan pembobolan yang jauh lebih masif dan terstruktur akibat sokongan teknologi AI.

Untuk itu, Maxwell menekankan pentingnya pengembangan alat perlindungan keamanan siber yang berjalan seimbang dengan laju inovasi teknologi AI itu sendiri.

Pengembangan sistem penangkal perlu bergerak pada tingkat kecepatan yang sama agar keamanan data pribadi tetap terjaga.

Di sisi lain, terkait pengawasan dan penataan hukum, Max menilai perdebatan keamanan AI kerap kali terdistraksi oleh spekulasi mengenai kemampuan teknis model di masa depan.

Ia mendorong agar pemangku kepentingan mengarahkan fokus regulasi pada dampak langsung yang sudah dirasakan masyarakat hari ini.

"Bagian terpenting tentang bagaimana kita memikirkan keamanan, teknologi, dan AI tidak melulu tentang model itu sendiri dan kemampuan teknisnya, melainkan tentang dampak yang ditimbulkannya pada individu dan masyarakat luas," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa regulasi yang berorientasi pada dampak jauh lebih krusial karena AI telah memberikan pengaruh langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu menyasar celah keamanan siber, AI juga mengancam pilar ekosistem informasi publik. Kemampuan AI dalam memproduksi konten secara instan dan masif memunculkan tantangan terhadap kredibilitas ruang digital masyarakat.

Melihat hal ini, Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika mengungkapkan bahwa lanskap media saat ini mengalami disrupsi besar akibat munculnya kesenjangan realitas di tengah hadirnya AI.

Menurut dia, disrupsi tersebut menciptakan tantangan ekonomi yang semakin berat bagi ruang redaksi dalam memproduksi berita berkualitas.

"Biaya untuk memproduksi informasi yang dapat diverifikasi kini meningkat, sementara biaya untuk membuat konten manipulasi AI justru menurun," ujar Wahyu.

Kondisi ini berdampak langsung pada kelangsungan hidup media massa. Berdasarkan hasil riset AMSI bersama Monash University, kehadiran platform AI generatif memicu penurunan drastis pada jumlah pengunjung situs web berita di Indonesia.

"Setelah AI generatif dirilis di Indonesia pada akhir tahun 2024, di sepanjang tahun 2025, 50 hingga 70 persen traffic situs web di Indonesia mengalami penurunan," katanya.

Penurunan traffic tersebut menyebabkan hilangnya pendapatan dari iklan terprogram bagi penerbit, lantaran platform AI dapat mengambil konten berita tanpa izin maupun kompensasi.

KEYWORD :

Kecerdasan Buatan Ancaman AI Maxwell Scott Wahyu Dhyatmika




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :