Sabtu, 24/10/2026 14:38 WIB

Prancis Kerahkan 70.000 Polisi, Oposisi Gugat Pembatasan Aksi





Mereka mempersoalkan instruksi Macron mengenai pelarangan demonstrasi yang diselenggarakan kelompok yang dianggap tidak sah oleh pemerintah

Pemerintah Prancis memperketat pengamanan menjelang aksi demonstrasi nasional pada Sabtu (24/10) dengan menambah personel keamanan hingga 20 persen dibandingkan pengerahan saat unjuk rasa 17 Oktober (Foto: Anadolu)

Jakarta, Jurnas.com - Pemerintah Prancis mengerahkan 70.000 polisi dan polisi militer (gendarmes) di seluruh negeri untuk mengamankan demonstrasi pada Sabtu, di tengah meningkatnya ketegangan terkait pembatasan aksi unjuk rasa.

Pada saat yang sama, sejumlah partai oposisi kiri dan hijau mengajukan gugatan darurat terhadap kebijakan Presiden Emmanuel Macron yang dinilai membatasi penyelenggaraan demonstrasi.

Menurut laporan surat kabar Le Parisien, gugatan tersebut diajukan bersama oleh Partai Hijau, France Unbowed (LFI), Partai Sosialis, Partai Komunis, dan sejumlah kelompok politik lainnya ke Dewan Negara (Conseil d’Etat), lembaga peradilan administratif tertinggi Prancis.

Mereka mempersoalkan instruksi Macron mengenai pelarangan demonstrasi yang diselenggarakan kelompok yang dianggap tidak sah oleh pemerintah, serta perubahan rute pawai serikat pekerja tanpa penilaian individual terhadap setiap aksi.

Gugatan itu muncul setelah pemerintah memperketat pengamanan menyusul kekerasan dan penjarahan dalam demonstrasi akhir pekan sebelumnya.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan, pengamanan demonstrasi Sabtu akan melibatkan polisi setempat dan unit bergerak. Aparat juga didukung helikopter, kendaraan lapis baja, serta meriam air, sementara sejumlah personel dipanggil kembali dari masa cuti.

Nunez menyatakan pihak berwenang telah mengidentifikasi seruan di internet untuk melakukan penjarahan dan menyerang gedung-gedung publik, termasuk seruan yang dikaitkan dengan kelompok kiri radikal. Ia berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan.

Berdasarkan penilaian intelijen teritorial yang dikutip Le Parisien, jumlah peserta demonstrasi diperkirakan mencapai 400.000 hingga 500.000 orang di berbagai wilayah Prancis.

Besarnya mobilisasi aparat tersebut berlangsung bersamaan dengan penolakan sejumlah kelompok terhadap pembatasan demonstrasi dan pengaturan ulang rute pawai.

Di Paris, serikat pekerja menolak usulan polisi untuk memindahkan rute demonstrasi Sabtu. Pawai yang sebelumnya disepakati berlangsung dari Bastille menuju Nation diusulkan dialihkan ke rute antara Porte de Vincennes dan Porte d’Italie.

Penyelenggara menyatakan tetap akan berkumpul di Bastille sesuai rencana semula. Mereka menolak rute alternatif dengan alasan tidak dapat menjamin pengamanan di jalur tersebut.

Pihak berwenang juga mengizinkan pengawasan udara di Paris dan melarang penempatan furnitur maupun material di jalan umum yang berpotensi digunakan sebagai senjata atau untuk membangun barikade.

Sementara itu, jam malam di sekitar Place de la Republique dan Les Halles diperpanjang hingga Senin pagi.

Di tengah persiapan pengamanan, perwakilan pelajar sekolah menengah menyerukan agar mobilisasi demonstrasi terus berlanjut setelah bertemu Macron di Istana Élysée pada Jumat.

“Kami menyerukan agar mobilisasi terus berlanjut,” kata Nathanael Combary, pimpinan Renouveau Lyceen.

Ia mengatakan pertemuan dengan Macron membuka peluang yang perlu dimanfaatkan untuk mencapai kemajuan konkret. Perdana Menteri Sebastien Lecornu dijadwalkan bertemu dengan organisasi pelajar pada Senin.

Pertemuan tersebut berlangsung ketika kelompok pelajar dan serikat pekerja masih mendorong tuntutan mereka, sementara pemerintah menyiapkan pengamanan untuk menghadapi demonstrasi berskala nasional.

Selain Paris, sejumlah wilayah di Prancis memberlakukan pembatasan untuk mengantisipasi gangguan keamanan. Di Limoges, pembatasan yang berlaku hingga Senin mencakup jam malam di kawasan tertentu dan larangan berkumpul lebih dari 10 orang dalam area yang telah ditetapkan.

Pembatasan juga diberlakukan di sejumlah kawasan pusat Lyon, Besancon, Clermont-Ferrand, dan Laval. Di Marseille, kota terbesar kedua di Prancis berdasarkan jumlah penduduk, pemerintah mengizinkan pawai yang diselenggarakan serikat pekerja sebagai pengecualian dari pembatasan yang lebih luas.

Sejumlah museum dan tempat kebudayaan di Paris serta Lyon mengumumkan penutupan pada Sabtu. Sementara itu, pertandingan sepak bola Paris Saint-Germain melawan Lyon yang semula dijadwalkan pada Minggu ditunda hingga Senin karena kebutuhan pengerahan personel polisi.

Di Orleans, sebanyak 3.000 polisi dan gendarmes akan dikerahkan selama akhir pekan ketika partai sayap kanan National Rally menggelar kongres dan kelompok penentangnya mengadakan demonstrasi tandingan.

Menteri Kehakiman Gerald Darmanin mengatakan, sebanyak 232 orang telah dipenjara terkait kekerasan dalam demonstrasi akhir pekan sebelumnya. Lebih dari 1.000 orang lainnya telah dibawa ke hadapan otoritas peradilan. (*)

SUmber: Anadolu

KEYWORD :

Kota di Prancis Jam Malam Demonstrasi Besar




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :