Ilustrasi - bendera Amerika Serikat dan Iran (Foto: Anadolu)
Jakarta, Jurnas.com - Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa setiap serangan militer terhadap wilayahnya akan dibalas.
Teheran juga membantah klaim bahwa Washington telah menyampaikan pesan agar Iran tidak merespons jika serangan terjadi, di tengah spekulasi mengenai kemungkinan serangan terhadap fasilitas di Gunung Pickaxe atau Kuh-e Kolang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut anggapan bahwa AS dapat menyerang Iran tanpa menghadapi pembalasan sebagai sebuah “ilusi”. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers mingguan pada Selasa.
Baqaei menegaskan, Iran tidak akan membiarkan serangan militer terhadap negaranya berlalu tanpa respons. Menurutnya, Teheran telah menunjukkan sikap tersebut dalam menghadapi ancaman militer.
“Jika respons kami tidak lebih kuat, maka sudah pasti akan setara dalam kekuatan,” kata Baqaei.
Ia juga menegaskan bahwa era ketika AS dapat melancarkan serangan lalu menarik diri tanpa konsekuensi telah berakhir. Pernyataan tersebut muncul di tengah klaim mengenai kemungkinan serangan AS terhadap Gunung Pickaxe, yang dikenal dengan nama Kuh-e Kolang di Iran.
Meski menyampaikan peringatan keras, Baqaei tidak menyebutkan waktu maupun bentuk serangan yang mungkin dilakukan Iran jika konflik militer kembali terjadi.
Selain memperingatkan Washington, Baqaei membantah bahwa Iran telah memulai perundingan nuklir dengan AS. Ia mengatakan Teheran belum memasuki proses negosiasi tersebut sehingga tidak ada rincian pembicaraan yang dapat dibahas dengan Rusia ataupun negara lain.
“Kami belum memasuki perundingan nuklir dengan pihak Amerika untuk membahas perinciannya dengan pihak lain,” ujarnya.
Baqaei juga menepis spekulasi bahwa Iran mulai melunakkan sikapnya dalam persoalan nuklir. Ia menegaskan bahwa Teheran tetap berpegang pada prinsip dan kepentingan nasionalnya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Iran masih menghadapi ketegangan dengan Washington, termasuk perselisihan terkait komitmen dalam kesepakatan nuklir sebelumnya. AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 pada 2018, yang menurut Baqaei menjadi salah satu contoh pelanggaran komitmen oleh Washington.
Meski demikian, Iran menyatakan tetap membuka peluang diplomasi untuk mencegah eskalasi konflik.
Baqaei menjelaskan bahwa kunjungan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov ke Teheran merupakan bagian dari konsultasi rutin kedua negara. Kunjungan tersebut, menurutnya, telah direncanakan sejak beberapa bulan sebelumnya.
Pembicaraan kedua pihak mencakup hubungan bilateral serta perkembangan regional dan internasional, termasuk situasi di kawasan Kaukasus, Eropa, konflik Ukraina, Teluk, dan Selat Hormuz. Program nuklir Iran juga menjadi salah satu topik yang dibahas.
Menurut Baqaei, Rusia memainkan peran penting dalam perundingan yang menghasilkan kesepakatan nuklir Iran pada 2015. Moskow juga terus menyatakan kesediaannya membantu mengurangi ketegangan.
Baqaei menegaskan bahwa Iran akan tetap memanfaatkan peluang diplomatik meskipun memiliki ketidakpercayaan yang mendalam terhadap AS. Ia menilai pengalaman sebelumnya tidak boleh menjadi alasan bagi institusi diplomatik Iran untuk sepenuhnya meninggalkan jalur perundingan.
“Jika ada kemungkinan sekecil apa pun bahwa diplomasi dapat mencegah eskalasi ketegangan, kita harus menempuh jalan itu,” kata Baqaei.
Ia menambahkan, prioritas Iran tetap melindungi kepentingan nasional dan keamanan, baik melalui diplomasi maupun pertahanan militer.
Dalam konferensi pers yang sama, Baqaei juga menolak resolusi pertemuan para menteri luar negeri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Baghdad yang menyatakan solidaritas terhadap Arab Saudi terkait serangan kelompok Houthi dari Yaman.
Baqaei mengatakan Iran secara resmi menentang resolusi tersebut dan tidak menganggapnya sebagai keputusan OKI yang sah. Ia beralasan bahwa proses pengambilan keputusan itu tidak mengikuti aturan prosedural organisasi.
Menurut Baqaei, Iran juga berhasil mencegah dimasukkannya dua paragraf mengenai Yaman ke dalam deklarasi akhir pertemuan. Teheran menilai rumusan dalam paragraf tersebut berpotensi memperdalam perpecahan di antara negara-negara Muslim.
Iran, lanjutnya, menginginkan persoalan antara Arab Saudi dan Yaman diselesaikan melalui dialog serta rekonsiliasi, bukan kekuatan militer.
“Persoalan Yaman tidak dapat diselesaikan melalui kekuatan dan cara-cara militer,” ujarnya.
Baqaei turut meminta negara-negara tetangga mencegah kekuatan asing menggunakan wilayah dan fasilitas militer mereka untuk mengancam atau menyerang negara lain. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk membangun keamanan regional yang berkelanjutan dan menjaga hubungan bertetangga yang baik.
Ia juga menuding kebijakan Israel dan ekspansi wilayahnya sebagai faktor yang memperburuk ketidakstabilan kawasan. Baqaei menyatakan penderitaan warga Palestina belum berakhir meskipun perang di Gaza berlangsung, sekaligus kembali mengkritik dukungan AS dan negara-negara Eropa terhadap Israel.
Baqaei turut menyinggung gangguan di perbatasan Iran dan Pakistan. Ia mengatakan Teheran dan Islamabad sedang berupaya menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan penutupan perbatasan bersama kedua negara.
Menurut Baqaei, pejabat Pakistan telah memberi tahu Iran bahwa gangguan tersebut disebabkan persoalan teknis dan peningkatan sistem. Ia menyatakan optimistis masalah itu dapat diselesaikan. (*)
Sumber: Anadolu
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Kemlu Iran Esmaeil Baqaei Serangan Militer Amarika Serikat Iran-AS Perundingan Nuklir



















