Kamis, 22/10/2026 09:42 WIB

Trump: Perang AS-Iran Segera Berakhir, tetapi Ingin Hasilnya Bertahan Lama





Trump mengklaim Amerika Serikat telah mengalahkan Iran secara militer dan finansial. Ia juga menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Foto: Anadolu)

Jakarta, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negaranya bisa mengakhiri perang dengan Iran sekarang, tetapi Washington ingin memastikan hasil konflik tersebut bertahan dalam jangka panjang.

Pernyataan itu muncul di tengah ketegangan yang belum mereda dan laporan mengenai rencana militer AS-Israel untuk kembali menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu AS.

“Perang ini akan segera berakhir. Kita bisa pergi sekarang, tetapi kita ingin memastikan hasilnya bertahan untuk waktu yang lama,” kata Trump dalam sebuah rapat umum di South Carolina pada Rabu.

Trump mengklaim Amerika Serikat telah mengalahkan Iran secara militer dan finansial. Ia juga menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Meski menyatakan perang dapat segera diakhiri, Trump tidak menjelaskan secara terperinci kapan operasi militer akan dihentikan atau bagaimana Washington memastikan hasil konflik tersebut bertahan dalam jangka panjang.

Dalam pidatonya, Trump turut menyinggung blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama pasokan energi dunia.

Ia bahkan menyebut selat tersebut sebagai “Selat Trump” dan membandingkannya dengan perubahan nama Teluk Meksiko yang sebelumnya diumumkannya.

“Kami mengubah nama Teluk Meksiko. Mengapa kami tidak bisa mengubah nama Selat Hormuz?” ujar Trump.

Pernyataan itu disampaikan ketika akses pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi salah satu persoalan dalam hubungan Washington dan Teheran. Selat tersebut memiliki peran penting bagi pengiriman minyak dan energi global, sehingga gangguan berkepanjangan dapat berdampak pada perdagangan internasional.

Di tengah pernyataan Trump tentang kemungkinan berakhirnya perang, The New York Times melaporkan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel telah menyusun rencana untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS.

Laporan tersebut mengutip sejumlah pejabat AS dan pihak lain yang mendapat informasi mengenai pembahasan rencana militer itu.

Namun, laporan tersebut juga menegaskan bahwa belum pasti Trump akan menyetujui serangan baru. Presiden AS itu disebut berulang kali menolak rencana untuk kembali melakukan operasi tempur besar sepanjang tahun ini.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada The New York Times bahwa pemerintah tidak mengomentari rencana militer “yang mungkin ada atau mungkin tidak ada”.

Dengan demikian, laporan mengenai opsi serangan baru belum berarti keputusan untuk melancarkan operasi militer telah diambil. Pernyataan Trump mengenai kemungkinan mengakhiri perang juga belum disertai pengumuman resmi mengenai penghentian operasi.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah di kawasan tersebut.

Konflik itu juga berdampak pada Selat Hormuz, yang secara efektif tertutup akibat situasi perang dan menjadi salah satu titik utama perselisihan kedua negara.

Pada Juni, Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman setelah dimediasi Pakistan dan Qatar. Namun, pelaksanaannya kemudian mengalami kebuntuan akibat sejumlah perbedaan, termasuk persoalan pelayaran di Selat Hormuz.

Perselisihan mengenai akses jalur laut tersebut menjadi salah satu hambatan dalam upaya meredakan konflik. Selat Hormuz bukan hanya berkaitan dengan kepentingan militer kedua negara, tetapi juga dengan kelancaran pasokan energi ke pasar dunia. (*)

Sumber: Anadolu

KEYWORD :

Presiden Amerika Serikat Donald Trump AS-Iran Perang Iran




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :