Ketua DPD PDIP Jawa Timur sekaligus Ketua Banggar DPR, Said Abdullah. (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Said Abdullah meminta pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan bantuan darurat dalam menghadapi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Houthi Bantah Luncurkan Drone ke Madinah
Menurutnya, mitigasi jangka panjang harus diperkuat agar persoalan yang berulang setiap musim kemarau tidak terus menjadi beban masyarakat.
Ketua Banggar DPR RI ini menilai, pola kekeringan di desa-desa yang sama setiap tahun semestinya menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyusun langkah pencegahan yang lebih terarah. Pengiriman tangki air memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan warga, tetapi upaya tersebut tidak boleh menjadi solusi permanen.
“Kalau setiap tahun desa yang mengalami kekeringan relatif sama, persoalannya sebenarnya sudah bisa dipetakan. Tangki air sangat dibutuhkan dalam keadaan darurat, tetapi tugas kita adalah memastikan pada tahun-tahun mendatang masyarakat di desa tersebut tidak terus menunggu tangki datang,” kata Said dalam keterangan resminya, Rabu (21/10).
Dia juga mengingatkan bahwa kekeringan dan karhutla berkaitan erat dengan kondisi lingkungan. Kerusakan hutan dapat mengganggu fungsi kawasan sebagai penyangga kehidupan sekaligus daerah tangkapan air, sehingga dampaknya turut dirasakan masyarakat di wilayah hilir.
Karena itu, Said menekankan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai bagian dari upaya melindungi kehidupan dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“Kita prihatin melihat saudara-saudara kita di berbagai daerah harus menghadapi krisis air, sementara pada saat yang sama kebakaran terjadi di sejumlah kawasan pegunungan. Kejadian seperti ini berulang hampir setiap musim kemarau. Karena itu yang harus diperkuat adalah mitigasinya,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Said menyebut struktur dan kader PDI Perjuangan di Jawa Timur telah melakukan berbagai aksi untuk membantu masyarakat terdampak kekeringan maupun karhutla.
Di Bojonegoro, anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Abidin Fikri bersama jaringan partai telah menyalurkan sekitar 262 ribu liter air bersih ke 52 titik terdampak. Sementara di Gresik, DPC PDI Perjuangan mendistribusikan sekitar 20 ribu liter air untuk warga Randuboto, Sidayu.
Bantuan air bersih juga disalurkan di sejumlah daerah lain, antara lain Nganjuk, Tuban, Trenggalek, Tulungagung, Sampang, Banyuwangi, Bangkalan, Bondowoso, dan Lamongan. Di Lamongan, distribusi dilakukan secara serentak di enam desa yang tersebar di lima kecamatan.
Said mengatakan, jaringan partai hingga tingkat ranting dan pengurus anak cabang (PAC) memiliki peran penting dalam mendeteksi persoalan di masyarakat. Informasi mengenai sumber air yang mulai mengering hingga kemunculan titik api diharapkan dapat segera ditindaklanjuti.
“Kekuatan PDI Perjuangan ada pada struktur yang sampai ke desa. Ranting dan PAC harus menjadi mata dan telinga. Kalau sumber air mulai mengering, sawah mulai kekurangan air atau muncul titik api, informasi harus bergerak cepat agar pertolongan juga cepat,” tuturnya.
Untuk penanganan karhutla, kader PDIP di Kota Batu turut membantu kebutuhan logistik petugas dan relawan yang menangani kebakaran Gunung Butak.
Di Magetan, kader juga dilibatkan dalam upaya penanganan kebakaran, sedangkan di Ngawi dilakukan pembasahan serta pembuatan sekat bakar di kawasan Gunung Lawu dan Gunung Botak.
Terbaru, PDIP Jawa Timur menyiapkan 200 relawan dan 20 tangki air untuk membantu penanganan dampak kebakaran di kawasan Arjuno, Ringgit, dan Welirang.
Meski demikian, Said menegaskan bahwa gerakan kader tersebut bukan untuk menggantikan tanggung jawab pemerintah. Keterlibatan partai merupakan bentuk gotong royong sekaligus sarana untuk memahami persoalan warga secara langsung.
Selain penanganan darurat, Said meminta pemulihan kawasan hutan pascakebakaran menjadi perhatian serius. Evaluasi terhadap kerusakan vegetasi, habitat, sumber mata air, dan daerah tangkapan air perlu dilakukan sebelum rehabilitasi disesuaikan dengan kebutuhan ekologis masing-masing kawasan.
Menurutnya, berakhirnya kebakaran tidak berarti seluruh persoalan telah selesai. Pemulihan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat terdampak harus berjalan beriringan.
“Api padam bukan berarti pekerjaan selesai. Hutan yang terluka harus dipulihkan, sumber air harus dijaga, dan masyarakat yang terdampak harus dipastikan kembali mendapatkan akses air. Menolong manusia dan merawat alam berasal dari tanggung jawab yang sama: menjaga kehidupan,” tegasnya.
Said juga mengingatkan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar kader menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Pesan tersebut, menurutnya, harus diwujudkan melalui kerja nyata dalam menjaga lingkungan dan membantu masyarakat yang menghadapi bencana.
Dia berharap pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat koordinasi dalam membangun sistem mitigasi yang berkelanjutan.
“Ukuran keberhasilan kita bukan berapa banyak tangki yang dikirim atau berapa kali kita memadamkan api. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah semakin sedikit desa yang setiap tahun mengalami krisis air dan semakin kecil kawasan hutan yang terbakar,” demikian Said.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Warta DPR Ketua Banggar PDIP Said Abdullah kekeringan Karhutla Jawa Timur Jatim
























