Minggu, 18/10/2026 14:00 WIB

4 Kasus Baru Ebola Ditemukan di Kenya, 3 di Antaranya Nakes





Kenya mengonfirmasi empat kasus baru Ebola, termasuk tiga petugas kesehatan yang menangani pasien pertama di negara tersebut.

Ilustrasi kasus ebola (Foto: AFP)

Jakarta, Jurnas.com - Kenya mengonfirmasi empat kasus baru Ebola, Sabtu (17/10), termasuk tiga petugas kesehatan yang menangani pasien pertama di negara tersebut, sehingga total jumlah kasus infeksi di Kenya kini menjadi tujuh, menurut Kementerian Kesehatan.

“Kementerian Kesehatan memastikan empat kasus baru Ebola (Penyakit Virus Bundibugyo). Dengan demikian, total kasus terkonfirmasi menjadi tujuh, termasuk kasus pertama yang meninggal dunia,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Patrick Amoth dalam sebuah pernyataan.

Kasus-kasus baru tersebut melibatkan tiga tenaga medis, yakni dua laki-laki berusia 29 dan 35 tahun serta seorang perempuan berusia 32 tahun. Mereka menangani pasien pertama pada 3-4 Oktober.

Pasien keempat adalah kerabat laki-laki dari orang pertama yang meninggal akibat penyakit tersebut. Menurut kementerian, dia telah menjalani karantina sejak 6 Oktober.

Amoth mengatakan keempat pasien mengalami demam saat menjalani karantina dan segera diisolasi. Hasil pemeriksaan laboratorium mengonfirmasi bahwa mereka terinfeksi virus Ebola strain Bundibugyo.

Infeksi tersebut dikonfirmasi oleh Laboratorium Referensi Virologi Nasional dan Institut Penelitian Medis Kenya.

Keempat pasien menerima perawatan suportif dari tenaga kesehatan terlatih. Kementerian melaporkan bahwa pasien kedua dan ketiga berada dalam kondisi yang stabil serta menunjukkan respons yang baik terhadap perawatan.

Otoritas kesehatan mengatakan penemuan keempat kasus tersebut pada orang-orang yang telah menjalani karantina membantu mengurangi risiko penularan lebih lanjut.

Kementerian menyebutkan bahwa 128 dari 130 orang yang teridentifikasi sebagai kontak erat, atau 98,5 persen, telah dilacak dan ditempatkan dalam karantina. Upaya masih dilakukan untuk menemukan dua orang lainnya.

Amoth mengatakan belum ada bukti penularan di masyarakat dan menegaskan bahwa risiko bagi masyarakat umum masih rendah.

Kementerian juga tengah memantau empat kerabat yang sempat merawat pasien pertama selama dia berada di rumah sakit.

Meskipun terdapat penambahan kasus infeksi, Kenya belum memberlakukan pembatasan perjalanan, perdagangan, maupun kegiatan yang melibatkan masyarakat. Pihak berwenang menyatakan bahwa aktivitas bisnis di negara itu tetap berjalan.

Pasien pertama yang terkonfirmasi sebelumnya tinggal di Republik Demokratik Kongo sebelum melakukan perjalanan melintasi Uganda dan tiba di Nairobi pada 3 Oktober. Ia meninggal dunia dua hari kemudian.

Kasus-kasus tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi penyebaran Ebola di Afrika Timur, terutama mengingat mobilitas penduduk antara Kenya, Uganda, dan Kongo.

Otoritas kesehatan Kongo melaporkan lebih dari 9.000 kasus infeksi Ebola dan lebih dari 4.000 kematian hingga 14 Oktober. Berdasarkan data yang dikaitkan dengan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), wabah tersebut menjadi epidemi Ebola terbesar kedua yang pernah tercatat.

Otoritas kesehatan di kawasan itu terus memantau risiko penularan lintas batas, sementara Kenya meningkatkan pelacakan kontak dan pengawasan untuk mengendalikan penambahan kasus terbaru.

Sumber: Anadolu

KEYWORD :

Ebola Kenya Kasus Ebola Pasien Ebola




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :