Selasa, 13/10/2026 05:57 WIB

Apa Alasan Milisi Houthi Menyerang Arab Saudi?





Kondisi instabilitas politik dan krisis pemerintahan tersebut dimanfaatkan oleh milisi Houthi untuk memperluas pengaruh politik dan militernya.

Arsip foto - Kelompok milisi Houthi Yaman (foto: Middleeast)

Jakarta, Jurnas.com - Eskalasi militer di kawasan Teluk kembali memuncak setelah milisi Houthi melancarkan gelombang serangan proyektil dan rudal yang memaksa Arab Saudi memperpanjang penutupan sementara Bandara Internasional Riyadh.

Penutupan penerbangan dan pembatasan ruang udara ini dilakukan di tengah rangkaian serangan beruntun yang menyasar terminal keberangkatan, fasilitas penerbangan.

Rangkaian gempuran terhadap Arab Saudi ini berakar dari sejarah panjang konflik politik di Yaman yang bermula saat gelombang demonstrasi Arab Spring meletus pada tahun 2011.

Kala itu, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh terdesak oleh aksi unjuk rasa besar-besaran setelah berkuasa lebih dari tiga dekade, hingga akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabbuh Mansour Hadi, dalam masa transisi.

Namun, pemerintahan transisi pimpinan Hadi diterpa berbagai krisis berat, mulai dari maraknya praktik korupsi, kerawanan pangan, serangan kelompok militan, hingga perpecahan di tubuh militer Yaman.

Kondisi instabilitas politik dan krisis pemerintahan tersebut dimanfaatkan oleh milisi Houthi untuk memperluas pengaruh politik dan militernya. Kelompok Houthi, yang secara resmi bernama Ansar Allah merupakan gerakan politik dan bersenjata yang tumbuh dari komunitas Syiah Zaydiyah di wilayah Yaman utara.

Sejak lama, kelompok ini menentang pengaruh pemerintah Arab Saudi di Yaman akibat perselisihan politik, pandangan keagamaan, persoalan ekonomi, serta rasa marginalisasi yang dialami masyarakat utara.

Pada tahun 2014, kelompok Houthi melakukan pergerakan masif dari basisnya di Provinsi Saada hingga akhirnya menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, pada September 2014 yang membuat Presiden Hadi kehilangan kendali atas pemerintahan.

Penguasaan ibu kota oleh Houthi memicu perpecahan terbuka dan mengundang intervensi militer regional pada Maret 2015, ketika Arab Saudi memimpin koalisi militer dari sembilan negara Arab dengan dukungan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.

Koalisi melancarkan serangan udara untuk mendesak mundur Houthi sekaligus mengembalikan pemerintahan Hadi yang diakui secara internasional.

Bagi Arab Saudi, ekspansi milisi Houthi dipandang sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional Kerajaan, terlebih Riyadh menuduh Iran menyuplai dukungan senjata dan logistik kepada Houthi.

Meski sempat dicapai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022, situasi kembali memburuk dalam beberapa bulan terakhir seiring meluasnya cengkeraman Houthi di pesisir Laut Merah.

Dari dinamika sejarah konflik tersebut, serangan lintas batas yang dilancarkan Houthi ke wilayah Arab Saudi didasari oleh beberapa alasan utama.

Houthi secara konsisten menyatakan bahwa penembakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone ke kota-kota, bandara, serta fasilitas minyak di Yanbu dan Riyadh merupakan bentuk balasan langsung atas operasi serangan udara koalisi pimpinan Saudi di Yaman.

KEYWORD :

Konflik Timur Tengah Houthi Yaman Arab Saudi Perang Houthi Saudi Arab Spring




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :