Ilustrasi - ini dosa rumah tangga yang sering dianggap sepele (Foto: detik)
Jakarta, Jurnas.com - Kehidupan rumah tangga tidak hanya membutuhkan kasih sayang dan tanggung jawab, tetapi juga akhlak yang baik sesuai ajaran Islam.
Namun, ada sejumlah perilaku dalam keluarga yang kerap dianggap biasa, padahal dapat menyakiti pasangan, merusak keharmonisan, bahkan menjadi perbuatan dosa.
Mulai dari berkata kasar, membuka aib pasangan, hingga mengabaikan tanggung jawab keluarga, perilaku tersebut perlu dihindari oleh setiap Muslim.
Islam mengajarkan agar hubungan suami istri dibangun atas dasar kebaikan, saling menghormati, dan menjaga hak masing-masing.
Berikut beberapa perilaku dalam rumah tangga yang tidak boleh dianggap sepele.
1. Berkata Kasar dan Menyakiti Pasangan
Pertengkaran dalam rumah tangga bisa terjadi karena perbedaan pendapat. Namun, kondisi tersebut tidak membenarkan seseorang menghina, mencaci, atau merendahkan pasangannya.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
Artinya: "Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut." (QS. An-Nisa: 19)
Ayat ini memerintahkan suami untuk memperlakukan istri dengan baik. Prinsip pergaulan yang patut juga menjadi pedoman dalam membangun hubungan keluarga yang saling menghormati.
Karena itu, membiasakan ucapan kasar dan merendahkan pasangan bukanlah perilaku yang sejalan dengan akhlak yang diajarkan Islam.
2. Membuka Aib Pasangan kepada Orang Lain
Masalah rumah tangga terkadang diceritakan kepada teman atau kerabat tanpa mempertimbangkan dampaknya. Padahal, menyebarkan kekurangan pasangan untuk mempermalukan atau menjadi bahan pembicaraan dapat merusak kepercayaan dalam hubungan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ
Artinya: "Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat tersebut melarang ghibah, yakni membicarakan keburukan seseorang yang tidak disukainya apabila ia mengetahuinya. Larangan ini juga relevan dalam kehidupan rumah tangga ketika seseorang menceritakan kekurangan pasangan tanpa alasan yang dibenarkan.
Meski demikian, menceritakan persoalan rumah tangga untuk meminta nasihat, mencari bantuan, atau melaporkan kekerasan tidak sama dengan menyebarkan aib untuk merendahkan pasangan. Tujuan dan kebutuhan penyampaian informasi perlu diperhatikan.
3. Mengabaikan Tanggung Jawab Keluarga
Rumah tangga membutuhkan kerja sama dan tanggung jawab dari kedua pasangan. Mengabaikan kewajiban, baik dalam memberikan nafkah sesuai kemampuan maupun memenuhi hak keluarga, dapat menimbulkan masalah yang berkepanjangan.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan orang beriman agar menjaga diri dan keluarga dari hal-hal yang membawa kepada keburukan. Tanggung jawab tersebut mencakup upaya membimbing keluarga dalam kebaikan sesuai kemampuan.
Mengabaikan keluarga tanpa alasan yang dibenarkan bukanlah perkara yang patut dianggap ringan. Setiap anggota keluarga perlu menjalankan tanggung jawabnya dengan adil dan penuh kepedulian.
4. Bersikap Kasar dan Tidak Menghargai Pengorbanan Pasangan
Kebiasaan meremehkan usaha pasangan, membandingkannya dengan orang lain, atau mengungkit kekurangan secara terus-menerus dapat melukai perasaan dan melemahkan hubungan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 53:
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ
Artinya:
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik." (QS. Al-Isra: 53)
Ayat ini mengajarkan pentingnya memilih perkataan yang baik. Dalam rumah tangga, nasihat dan teguran sebaiknya disampaikan dengan cara yang pantas, bukan melalui penghinaan atau kata-kata yang sengaja menyakiti.
Menghargai pasangan tidak berarti menutup mata terhadap kesalahan. Persoalan tetap dapat dibicarakan, tetapi dengan cara yang menjaga martabat dan membuka jalan untuk memperbaiki keadaan.
5. Membiarkan Pertengkaran Berlarut-larut Tanpa Upaya Berdamai
Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan bersama. Namun, membiarkan konflik terus membesar tanpa upaya menyelesaikannya dapat membuat hubungan semakin renggang.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat tersebut secara langsung membahas persaudaraan sesama mukmin dan perintah mendamaikan pihak yang berselisih.
Nilai perdamaian ini juga dapat menjadi pelajaran dalam menyelesaikan konflik keluarga.
Suami dan istri sebaiknya berusaha membicarakan masalah dengan tenang, saling mendengarkan, dan mencari penyelesaian yang adil.
Apabila konflik sulit diatasi, meminta bantuan pihak tepercaya atau konselor keluarga dapat menjadi langkah yang bijak.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Pasangan Suami Istri Dosa Suami Istri Rasulullah SAW


















