Sabtu, 10/10/2026 22:06 WIB

Hukum Berbohong demi Bercanda dalam Islam





Bercanda menjadi salah satu cara untuk membangun keakraban dan menciptakan suasana yang menyenangkan.

Ilustrasi - Rasulullah SAW memperingatkan umatnya agar tidak berdusta hanya demi membuat orang lain tertawa (Foto: AI)

Jakarta, Jurnas.com - Bercanda menjadi salah satu cara untuk membangun keakraban dan menciptakan suasana yang menyenangkan.

Namun, dalam Islam, seorang Muslim tetap dituntut menjaga kejujuran meskipun sedang melontarkan gurauan.

Rasulullah SAW memperingatkan umatnya agar tidak berdusta hanya demi membuat orang lain tertawa.

Larangan tersebut menunjukkan bahwa tujuan menghibur orang lain tidak membenarkan seseorang mengucapkan sesuatu yang tidak benar.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi.

Rasulullah SAW bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ

Artinya: "Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang-orang tertawa. Celakalah dia, celakalah dia."

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Pesannya jelas, seorang Muslim hendaknya tidak menjadikan kebohongan sebagai bahan lelucon, sekalipun orang-orang yang mendengarnya merasa terhibur.

Meski demikian, Islam tidak melarang semua bentuk humor. Rasulullah SAW juga pernah bercanda dengan para sahabat, tetapi tetap menjaga kebenaran dalam perkataannya.

Dengan demikian, seseorang dapat membuat orang lain tertawa tanpa harus mengarang cerita atau menyampaikan kebohongan.

Al-Qur`an Mengingatkan Bahaya Berdusta

Larangan berbohong juga ditegaskan dalam Al-Qur`an.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 105:

اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ

Artinya:

"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah para pendusta." (QS. An-Nahl: 105)

Ayat ini memberikan peringatan keras mengenai perbuatan dusta. Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri berkata jujur, baik ketika berbicara serius maupun saat bercanda dengan keluarga, teman, dan orang lain.

Selain itu, setiap perkataan manusia juga berada dalam pengawasan Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam Surah Qaf ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Artinya:

"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa ucapan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Setiap perkataan manusia dicatat, sehingga menjaga lisan menjadi bagian penting dari tanggung jawab seorang Muslim.

Kebohongan yang terus diulang, meskipun awalnya hanya untuk bercanda, dapat membuat seseorang terbiasa mengabaikan kejujuran. Selain itu, kebiasaan tersebut berisiko merusak kepercayaan ketika orang lain mulai sulit membedakan perkataan yang benar dan sekadar gurauan.

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memilih candaan yang tidak merendahkan orang lain, menyebarkan kabar palsu, atau menimbulkan kesalahpahaman. Humor tetap dapat digunakan untuk mempererat hubungan sosial selama tidak melanggar nilai-nilai agama.

Pada akhirnya, menjaga lisan bukan berarti seseorang harus selalu berbicara serius. Seorang Muslim tetap boleh bercanda dan menghibur orang lain, tetapi kejujuran harus menjadi batas yang tidak dilanggar.

KEYWORD :

Info Keislaman Berbuat Bohong Niat Bercanda Rasulullah SAW




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :