Jum'at, 04/09/2026 11:27 WIB

Perubahan Iklim Ancam Primata di Hutan Tempat Spesies Baru Terbentuk





Hasil penelitian juga mengungkap sebagian besar kawasan primata yang paling berisiko belum terlindungi secara memadai

Seekor monyet kapusin mengamati dari atas dahan di tengah hutan tropis yang lebat (Foto: Shutterstock via Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim ternyata tidak hanya mengancam primata yang memiliki sejarah evolusi paling panjang.

Studi global terbaru justru menemukan bahwa garis keturunan primata yang lebih muda menghadapi risiko iklim paling tinggi, terutama di kawasan tropis yang menjadi tempat terbentuknya spesies-spesies baru.

Dikutip dari Earth, temuan ini penting karena menunjukkan bahwa kawasan yang perlu mendapat prioritas konservasi tidak selalu sama dengan wilayah yang menyimpan garis keturunan tertua.

Hasil penelitian juga mengungkap sebagian besar kawasan primata yang paling berisiko belum terlindungi secara memadai.

Peneliti dari Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences, yang dipimpin Yang Teng, menyusun pohon kekerabatan untuk 424 spesies primata.

Jumlah tersebut mencakup sekitar 80,5 persen dari 527 spesies primata yang saat ini dikenali ilmuwan. Seluruh genus primata juga terwakili dalam analisis.

Pohon evolusi tersebut kemudian diberi penanggalan menggunakan 40 titik pemisahan evolusi yang telah diketahui dari basis data dan publikasi ilmiah. Hasilnya menunjukkan nenek moyang bersama seluruh primata diperkirakan hidup sekitar 66,9 juta tahun lalu, tidak lama setelah berakhirnya era dinosaurus.

Tim peneliti kemudian memetakan 98.103 catatan pengamatan primata ke dalam kotak geografis berukuran satu derajat. Primata tercatat berada di 18.389 kotak di seluruh dunia.

Peneliti menemukan perbedaan penting ketika keanekaragaman spesies dibandingkan dengan sejarah evolusinya.

Wilayah seperti Afrika Tengah, Namibia, Madagaskar, India bagian selatan, dan Indonesia memiliki banyak garis keturunan yang terpisah jauh secara evolusioner. Kawasan tersebut disebut sebagai evolutionary museums, karena menyimpan cabang evolusi yang telah bertahan selama puluhan juta tahun.

Sebaliknya, Kolombia, Ekuador, Peru, Brasil bagian utara, dan China bagian selatan memiliki banyak primata yang relatif berkerabat dekat. Kawasan tersebut merupakan tempat percabangan spesies berlangsung lebih cepat dan relatif baru.

Peneliti menyebut kawasan seperti ini sebagai cradles, atau tempat lahirnya garis keturunan baru.

Ketika kondisi iklim masa depan dibandingkan dengan kondisi yang selama ini ditempati primata, kawasan cradles menunjukkan risiko yang lebih tinggi dalam berbagai skenario perubahan iklim.

Bahkan dalam skenario dengan penurunan emisi yang cepat, lebih dari 70 persen primata yang berada di kawasan hotspot tersebut menghadapi risiko perubahan iklim.

Pada 2050 dalam skenario emisi yang lebih rendah, 124 spesies di kawasan cradles dan 109 spesies di kawasan evolutionary museums masuk kelompok berisiko tinggi.

Jika emisi terus meningkat hingga 2090, jumlahnya diproyeksikan menjadi 159 spesies di cradles dibandingkan 125 spesies di museums.

Salah satu penyebab yang dikemukakan peneliti adalah ukuran wilayah jelajah. Spesies yang lebih muda cenderung memiliki wilayah persebaran lebih kecil dan toleransi terhadap suhu serta curah hujan yang lebih sempit.

Sebaliknya, garis keturunan yang lebih tua dapat memiliki persebaran lebih luas sehingga mempunyai lebih banyak ruang untuk menghadapi perubahan kondisi lingkungan.

Masalahnya tidak berhenti pada perubahan iklim. Kawasan yang menjadi habitat primata paling rentan juga menghadapi tekanan manusia. Dari kawasan dengan risiko tertinggi, 42 kawasan berada di kelompok cradles, sementara 27 berada di kelompok museums.

Perlindungan kawasan juga belum sebanding dengan tingkat risikonya. Dalam skenario emisi tinggi, maksimal hanya sekitar 17,43 persen hotspot primata dengan risiko tertinggi yang diperkirakan berada di dalam kawasan lindung.

Angka tersebut jauh di bawah target global untuk melindungi 30 persen wilayah daratan dan perairan pada 2030 melalui Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.

Brasil bagian utara, Peru, Madagaskar, India selatan, Indonesia, serta China bagian timur dan selatan termasuk wilayah yang menunjukkan kombinasi antara habitat yang tertekan, risiko iklim tinggi, dan perlindungan yang terbatas.

Sekitar 60 persen spesies primata sendiri telah berstatus terancam punah sebelum dampak tambahan dari perubahan iklim diperhitungkan.

Para peneliti menilai kawasan museums dan cradles membutuhkan pendekatan konservasi yang berbeda.

Kawasan yang menyimpan garis keturunan purba membutuhkan blok hutan yang luas dan tidak terputus agar garis keturunan lama tetap bertahan. Sementara kawasan cradles membutuhkan konektivitas antarkawasan hutan agar primata dapat berpindah ketika kondisi iklim berubah.

Koridor hutan karena itu menjadi salah satu strategi penting. Namun efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan masing-masing spesies untuk benar-benar bergerak melalui koridor tersebut.

Penelitian ini menggunakan lima gen mitokondria untuk membangun pohon evolusi. Artinya, analisis terutama mengikuti garis keturunan maternal dan belum menggambarkan keseluruhan variasi genom primata.

Model iklimnya juga mengasumsikan primata tetap berada di lokasi saat ini. Data mengenai kemampuan setiap spesies untuk berpindah masih sangat terbatas.

Karena itu, model belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan perpindahan habitat, hambatan berupa jalan dan lahan pertanian, maupun perubahan interaksi dengan predator, mangsa, pesaing, dan patogen.

Peneliti menyarankan penelitian berikutnya menggabungkan data genom dengan informasi mengenai predator, mangsa, patogen, serta kemampuan dispersal masing-masing spesies.

Dengan demikian, peta risiko tidak hanya menunjukkan di mana primata menghadapi perubahan iklim, tetapi juga membantu memperkirakan apa yang kemungkinan terjadi pada populasi mereka. (*)

Studi tersebut dipublikasikan di Science Advances.

Sumber: Earth

KEYWORD :

Perubahan Iklim Spesies Baru Primata Terancam Kawasan Tropis




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :