Selasa, 19/05/2026 13:12 WIB

Peneliti Ungkap Korban Pompeii Ada Dokter Tewas Sambil Bawa Peralatan Medis





Penelitian terbaru mengungkap kisah tragis sekaligus menarik dari salah satu korban letusan Mount Vesuvius yang menghancurkan kota kuno Pompeii pada tahun 79 Ma

Penelitian terbaru mengungkap kisah tragis sekaligus menarik dari salah satu korban letusan Gunung Vesuvius yang menghancurkan kota kuno Pompeii pada tahun 79 Masehi (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Penelitian terbaru mengungkap kisah tragis sekaligus menarik dari salah satu korban letusan Gunung Vesuvius yang menghancurkan kota kuno Pompeii pada tahun 79 Masehi.

Seorang pria yang tewas dalam bencana tersebut ternyata membawa perlengkapan medis lengkap saat ajal menjemputnya. Temuan itu terungkap setelah para peneliti melakukan pemindaian baru terhadap cetakan tubuh korban yang terkubur abu vulkanik selama hampir dua ribu tahun.

Dikutip dari Live Science, analisis terbaru menunjukkan pria tersebut kemungkinan besar adalah seorang dokter Romawi atau medicus dalam bahasa Latin.

Korban diketahui merupakan salah satu dari 13 orang yang berlindung di area kebun anggur Pompeii yang kemudian dikenal sebagai “Garden of the Fugitives.” Namun alih-alih selamat, kelompok itu justru tewas akibat semburan gas beracun dan abu panas dari letusan Vesuvius.

Para ahli menduga korban meninggal akibat paparan karbon dioksida, sulfur dioksida, serta awan abu vulkanik yang juga menewaskan ribuan warga di Pompeii dan kota tetangga, Herculaneum.

Meski Pompeii pertama kali ditemukan kembali pada abad ke-16, sebagian besar penelitian ilmiah modern baru dilakukan beberapa dekade terakhir. Pada 1961, para arkeolog membuat cetakan plester dari rongga yang ditinggalkan tubuh korban di dalam lapisan abu vulkanik. Cetakan dari Garden of the Fugitives menjadi bagian dari sekitar 104 cetakan korban yang ditemukan di Pompeii.

Dalam pemeriksaan terbaru menggunakan sinar-X dan CT scan, peneliti menemukan korban membawa sejumlah instrumen bedah kecil dan berbagai “alat kerja” lainnya.

Menurut pernyataan resmi taman arkeologi pemerintah Italia yang mengelola situs tersebut, pria itu juga membawa sebuah kotak kecil berbahan organik yang kemungkinan terbuat dari kulit. Isi kotak itu sebelumnya menjadi misteri sejak ditemukan saat penggalian tahun 1961.

Pemindaian terbaru mengungkap kotak tersebut berisi alat-alat logam kecil yang diyakini sebagai instrumen operasi serta lempengan batu tulis yang kemungkinan digunakan untuk meracik obat-obatan. Pada masa Romawi, bahan seperti madu, anggur, cuka, dan ekstrak tanaman umum dipakai dalam pengobatan.

Kotak medis itu bahkan dilengkapi mekanisme pengunci berbasis roda bergerigi. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa korban merupakan seorang medicus yang memiliki pelatihan medis dan bedah.

“Pria ini membawa alat-alatnya agar siap membangun kembali hidupnya di tempat lain berkat profesinya, tetapi mungkin juga untuk membantu orang lain,” kata Gabriel Zuchtriegel, Direktur Pompeii Archaeological Park.

Hingga kini belum diketahui apakah dokter tersebut memang berniat membantu korban letusan atau sekadar berusaha menyelamatkan diri sambil membawa perlengkapan kerjanya.

Letusan Vesuvius sendiri diperkirakan menewaskan sekitar 2.000 orang di Pompeii dan wilayah sekitarnya, meski arkeolog modern meyakini banyak warga berhasil melarikan diri.

Bencana tersebut menjadi salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah karena abu vulkanik berhasil “membekukan” kehidupan Romawi kuno dalam kondisi yang luar biasa terawetkan. Selain bukti arkeologi, letusan itu juga tercatat dalam berbagai kesaksian tertulis dari para saksi mata.

Pada masa Kekaisaran Romawi, profesi dokter memiliki status yang cukup tinggi, terutama setelah Julius Caesar memberikan kewarganegaraan Romawi kepada seluruh tabib pada tahun 46 SM.

Meski begitu, praktik operasi saat itu tetap sangat berbahaya. Dunia medis belum mengenal antibiotik maupun anestesi modern, sehingga banyak pasien meninggal akibat infeksi pascaoperasi.

Pemahaman tentang penyakit pun masih terbatas. Penyakit seperti malaria, misalnya, diyakini disebabkan oleh “udara buruk” berdasarkan teori miasma Yunani kuno. Banyak metode pengobatan Romawi juga berkaitan dengan kepercayaan terhadap kutukan dan roh jahat.

Selain perlengkapan medis, para arkeolog sebelumnya juga menemukan berbagai benda lain bersama korban Vesuvius, mulai dari kunci rumah, lampu minyak, hingga perhiasan dan koin yang dibawa warga saat mencoba melarikan diri.

Korban yang diduga dokter ini juga diketahui membawa kantong kain kecil berisi koin perunggu dan perak ketika meninggal dunia.

KEYWORD :

Korban Pompeii Dokter Romawi Gunung Vesuvius




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :