Ulang tahun ke-5 Women in Logistics and Transport (WiLAT) Indonesia. Foto: dok. jurnas
JAKARTA, Jurnas.com - Women in Logistics and Transport (WiLAT) Indonesia resmi memperingati hari jadi yang ke-5 dengan menggelar seminar strategis bertajuk "Navigating Logistics Disruption Amid Rising Geopolitical Tension".
Perayaan yang dihadiri sekitar 200 peserta dari unsur pemerintah, pelaku industri, akademisi, serta mitra global ini menegaskan peran krusial perempuan dalam menjaga ketahanan rantai pasok Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Ketegangan geopolitik saat ini, termasuk konflik di Laut Merah dan Selat Hormuz, perang dagang, serta krisis energi, telah berdampak signifikan pada rantai pasok global, menaikkan tarif freight hingga 300 persen, dan menambah lead time selama 14-21 hari. Di tengah tantangan ini, Indonesia dihadapkan pada biaya logistik yang masih tertinggi di ASEAN, yakni sebesar 23 persen berdasarkan data Bank Dunia.
Ketua WiLAT Indonesia, Nurmaria Sarosa, menegaskan bahwa lima tahun perjalanan WILAT telah membuktikan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam logistik.
"Dulu kami ditanya, `Memangnya ada perempuan di logistik?`. Hari ini, bersama lebih dari 300 anggota di 4 kota besar, kami duduk bersama pengambil keputusan untuk memperjuangkan dan meningkatkan industri logistik dan transportasi Indonesia agar kompetitif di level global," ujar Nurmaria melalui keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Menyikapi disrupsi global, WiLAT Indonesia mendorong penguatan tiga hal, yakni agilitas melalui digitalisasi, diversifikasi rute, serta peningkatan kualitas pemasok melalui kolaborasi lintas sektor untuk mendukung multimodal dan green logistics.
"Sebagai pelaku industri, kami bertanggung jawab bersama pemerintah menurunkan biaya logistik. Perlu diingat, 1 persen penurunan biaya logistik dapat berkontribusi pada 0,1-0,3 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia," tambah Nurmaria.
Dalam rangka HUT ke-5, WiLAT Indonesia meluncurkan WiLAT e-Bulletin sebagai wadah menyebarluaskan ilmu dan mencetak talenta perempuan di bidang digital freight, risk management, dan green supply chain.
"Masa depan logistik Indonesia tidak dibangun untuk perempuan, tapi bersama dan oleh perempuan," tegas Nurmaria Sarosa.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan Kementerian Perhubungan, BUMN (Pelindo, Pelni), pelaku usaha swasta (Blue Bird, Samudera Indonesia), serta asosiasi (ALI, Aptrindo, AHLI, NLC, ALFI, IMTA) dan akademisi (ITL Trisakti, Universitas Mahakarya Asia).
President CILT Indonesia, Iman Gandhi, mengapresiasi WiLAT sebagai organisasi yang mumpuni dalam mengembangkan kompetensi perempuan di industri logistik dan transportasi.
Turut hadir WiLAT Global Vice Chairperson (GVC), Juliana Sofia Dhamu, yang membuktikan eksistensi perempuan Indonesia di kancah internasional. Pakar Halal Logistics, Dr. Marco Tieman, turut menjadi pembicara global yang menekankan peluang besar Indonesia dalam menerapkan Halal Logistics.
WiLAT Indonesia berkomitmen terus mengembangkan pilar Leadership, Mentoring, Entrepreneurship, Empowering dan Social untuk menciptakan ekosistem logistik yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Peran perempuan Logistik nasional Nurmaria Sarosa


























