Selasa, 14/04/2026 22:02 WIB

Hari Penyakit Chagas Sedunia: Kenali Ancaman `Silent` American Trypanosomia





Hari Penyakit Chagas Sedunia kembali diperingati hari ini, Selasa 14 April 2026

Ilustrasi - Hari Penyakit Chagas Diperingati 14 April, Ini Sejarah hingga Tujuannya (Foto: RRI)

Jakarta, Jurnas.com - Hari Penyakit Chagas Sedunia atau world chagas disease day kembali diperingati hari ini, Selasa 14 April 2026. Peringatan ini sebagai momentum meningkatkan kesadaran terhadap penyakit yang kerap disebut “silent and silenced disease”. Julukan ini merujuk pada sifatnya yang sering tidak terdeteksi hingga menimbulkan komplikasi serius.

Peringatan ini berakar dari penemuan penting oleh Carlos Ribeiro Justiniano Chagas pada 14 April 1909, saat pertama kali mendiagnosis penyakit tersebut pada seorang anak. Temuan ini menjadi tonggak awal pengenalan penyakit yang kini dikenal sebagai American trypanosomiasis.

Lebih dari seabad kemudian, World Health Organization resmi menetapkan Hari Penyakit Chagas Sedunia pada 2019 dan mulai diperingati sejak 2020. Sejak itu, isu Chagas masuk dalam agenda penting kesehatan global.

Dikutip dari berbagai sumber, penyakit Chagas disebabkan oleh parasit Trypanosoma cruzi yang ditularkan melalui serangga triatomine atau “kissing bug”. Penularan terjadi ketika parasit masuk ke tubuh melalui luka, mata, atau selaput lendir, sering kali tanpa disadari.

Pada fase awal, infeksi biasanya tidak menunjukkan gejala yang jelas. Kondisi ini membuat banyak penderita tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi.

Namun jika tidak ditangani, penyakit ini dapat berkembang menjadi fase kronis yang berlangsung bertahun-tahun. Dalam tahap ini, sekitar 20 hingga 30 persen penderita berisiko mengalami gangguan jantung serius hingga masalah pencernaan.

Data World Health Organization memperkirakan sekitar 8 juta orang di dunia terinfeksi, sebagian besar di Amerika Latin. Meski demikian, mobilitas global membuat penyakit ini kini menyebar ke berbagai wilayah non-endemik, termasuk Eropa, Amerika Utara, dan Asia.

Penularan Chagas tidak hanya melalui serangga, tetapi juga bisa terjadi dari ibu ke anak saat kehamilan, transfusi darah, transplantasi organ, hingga konsumsi makanan yang terkontaminasi. Hal ini memperluas kompleksitas penanganannya di tingkat global.

Kabar baiknya, penyakit ini dapat disembuhkan jika terdeteksi sejak fase akut melalui terapi antiparasit. Sementara pada fase kronis, pengobatan dan pemantauan dapat memperlambat perkembangan penyakit serta mencegah penularan lebih lanjut.

Tahun ini, fokus peringatan global menempatkan perempuan sebagai kunci pencegahan. Tema “Women at the heart: protecting the next generation from Chagas disease” menekankan pentingnya diagnosis dan pengobatan dini bagi perempuan usia reproduktif.

Selama ini, perempuan kerap disalahkan sebagai sumber penularan penyakit bawaan. Padahal, sebagian besar dari mereka terinfeksi melalui jalur yang sama dengan komunitasnya, bukan karena faktor individu.

Organisasi regional seperti Pan American Health Organization menegaskan pentingnya peran perempuan dalam upaya eliminasi Chagas. Pendekatan berbasis layanan kesehatan yang inklusif dinilai krusial untuk memutus rantai penularan.

Direktur PAHO, Jarbas Barbosa, menyatakan bahwa pengendalian Chagas harus menempatkan perempuan di pusat strategi. Akses layanan kesehatan yang tepat waktu dinilai menjadi kunci untuk mencegah infeksi baru, terutama pada bayi.

Di tengah tantangan tersebut, Hari Penyakit Chagas Sedunia menjadi pengingat bahwa penyakit ini bukan lagi isu regional. Tanpa deteksi dini dan kesadaran yang memadai, Chagas akan terus menjadi ancaman tersembunyi bagi jutaan orang di dunia.

Dengan demikian, peningkatan edukasi, akses layanan kesehatan, dan penguatan sistem deteksi dini menjadi langkah penting. Upaya ini diharapkan mampu menekan angka infeksi sekaligus melindungi generasi mendatang dari penyakit yang selama ini kerap luput dari perhatian. (*)

KEYWORD :

Hari Penyakit Chagas Sedunia 14 April American trypanosomiasis Trypanosoma cruzi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :